
"Siapa?" tanya Elang.
"Andrew Drawangsa." jawab Morgan.
"Andrew asisten kamu?" tanya Vano.
"Iya Om Andrew asisten Morgan dan dia yang akan menangani kasus Ken. Tau gini, aku cari pengacara lain aja." ucap Morgan.
"Mari tanyakan padanya. Dia meletakkan kamera di sana pasti mau membantu kita." ucao Rey.
"Bisa jadi." ucap Vano.
"Biar Morgan sendiri yang tanyain Om." ucap Morgan.
"Papa gak percaya sama kamu. Kamu itu emosional." ucap Elang.
"Percaya sama Morgan Pa. Kalau dia gak bersikap melewati batas kepada Morgan, maka Morgan juga gak akan melewati batas." ucap Morgan.
"Percayakan aja sama Morgan." ucap Gilang. Elang pun mengangguk.
"Morgan, Om percaya sama kamu. Kamu tolong bebaskan Ken." ucap Rey. Morgan mengangguk, ia akan melakukan apapun agar Ken terbebas karna dialah yang percaya kepada Morgan saat semua orang percaya pada apa yang mereka lihat.
Lu tunggu gua Ken. Gua akan selesaikan semuanya. batin Morgan.
•••
"Wih tuan muda satu sel sama kita nih." ucap salah satu orang yang berada di salam sel yang sama dengan Ken.
"Buset, itu kulit apa kertas mulus banget." ucap temannya.
"Jangan mendekat atau kalian akan tau akibatnya." ucap Ken dengan nada dingin.
"Santai bos. Kita cuman penasaran sama muka lu, kenapa bisa muka lu menjadi most handsome selama 2 tahun berturut-turut." ucap orang tadi. Ia ingin menyentuh kulit Ken, tapi dengan cepat Ken memelintirkan tanganya kebelakang.
"Jangan main-main dengan Kenzard Anggara atau kau akan habis di tangan ku." ucap Ken dingin.
"Ada apa tu?!" tanya temannya.
"Bebaskan Kenzard Kami!" teriak para wanita yang di duga adalah Kenline.
"Fans setia datang. Kalau kalian berani macam-macam dengan saya, akan saya lemparkan kalian berdua di tengah-tengah Kenline agar kalian habis di cabik-cabik mereka seperti polisi itu." ucap Ken sambil menunjuk polisi yang kewalahan dengan banyaknya Kenline.
Mereka berdua pun dengan susah payah menelan ludahnya.
"Jangan main-main dengan keluarga Anggara!" ucap Ken kepada mereka berdua. Mereka pun menunduk karna takut melihat wajah Ken yang seperti ingin memakan mereka hidup-hidup.
•••
"Wih rame aja Kenline di sini." ucap Arkan.
"Habis dah kantor polisi diacak-acak sama mereka. Kenzard di lawan, udah jelas-jelas satu negara ngefans sama dia, malah di tangkap." ucap Eric.
"Tapi bukti yang di berikan polisi tadi memang cukup kuat buat nangkap Ken." ucap Raylo.
"Kenapa gak lu aja yang maju jadi pengacara Ken?" tanya Arkan.
"Lu tau sendiri, gua di fakultas hukum aja cuman sampai semester 4, terus di suruh pindah ke manajemen bisnis." ucap Raylo.
"Bisa gitu ya, pindah-pindah." ucap Eric.
"Bisalah, orang kampusnya punya keluarga Prince." ucap Raylo.
"Lah pantes." ucap Arkan.
"Ni gimana masuknya?" tanya Raylo. Arkan dan Eric pun mengangkat kedua bahunya menandakan mereka tidak tau.
Bugh.
Seorang wanita menabrak Arkan.
"T-tolong aku." ucap wanita itu.
"Kenapa?" tanya Arkan.
"Mereka ingin membunuh serta memperkosa ku." ucap wanita itu sambil menunjuk segerombolan pria berpakaian serba hitam mengejarnya.
"Eric, Raylo. Pancing mereka ke tempat sepi. Gua bakalan ngamanin cewe ini." ucap Arkan. Raylo dan Eric pun mengangguk.
"Kalian bawa kan?" tanya Arkan.
"Selalu!" ucap Arkan dan Eric. Arkan mengangguk dan membawa wanita itu kedalam mobilnya.
"Are you oke?" tanya Arkan.
"Makasih Kak, kalau gak ada kakak sama teman teman kakak, aku pasti udah abis di tangan mereka." ucap wanita itu.
"Its fine. Kamu di sini dulu, kunci pintu mobilnya. Aku mau bantu mereka berdua buat lawan orang yang ngejar kamu tadi." ucap Arkan.
"Jangan kak, mereka orang bayaran, mereka sangat kuat. Aku gak mau kakak kenapa-napa." ucap wanita itu.
"Karna mereka kuat itulah, aku mau bantu teman-teman aku buat ngelawan mereka. Kamu jangan takut kita bertiga bakalan balik lagi kesini." uca Arkan mengambil sesuatu di laci depan mobil dan keluar.
•••
"Saya terpaksa tuan, adik perempuan saya berada di tangan Reval Arlata. Saya terpaksa melakukannya agar adik saya tidak di apa-apain." ucap Andrew.
"Kalau kamu kasih tau saya, saya dan yang lain bisa bantu kamu buat cari adik kamu. Tapi kenapa kamu mau mengkhianati kepercayaan saya!" ucap Morgan. Andrew berlutut.
"Maafkan saya tuan. Dia satu-satunya keluarga yang saya punya. Saya tidak mau dia kenapa-kenapa." ucap Andrew.
"Baiklah, aku akan membantu membebaskan adikmu karna aku harus berterima kasih atas apa yang kau lakukan." ucap Morgan.
"Tolong biarkan saya menyelesaikan masalah Tuan muda Ken di pengadilan tuan. Saya bertanggung jawab atas semuanya. Saya akan menjadi saksi serta pengacara asalkan anda mau melindungi dan menyelamatkan adik saya." ucap Andrew.
"Baiklah, selesaikan kasus Ken dan aku akan mengamankan adik mu." ucap Morgan.
"Terima kasih banyak tuan." ucap Andrew. Morgan mengangguk.
•••
"Syukurlah kalian tidak kenapa-napa." ucap wanita itu. "Terima kasih sudah menolongku." ucapnya lagi.
"Nama kamu siapa?" tanya Arkan.
"Viana Casandra. Panggil aja Vivi." ucap wanita itu bernama Vivi.
"Kakak Arkan, yang di depan itu Eric dan yang mengemudi namanya Raylo." ucap Arkan
"Bay The Way, rumah kamu di mana biar kita antar." ucap Eric.
"Aku mau ketemu kakak aku dulu boleh gak? Biar dia gak cemas." ucap Vivi.
"Boleh, dimana?" tanya Raylo.
"MZB Grup." jawab Vivi.
"Dia kerja apa di sana?" tanya Arkan.
"Kalian tau MZB Grup?" tanya Vivi.
"Ya, itu perusahaan sahabat kita." jawab Arkan.
"Ohh, aku gak tau kakak kerja apa di sana. Tapi kakak pernah bilang dia harus selalu ada untuk bosnya dan Bosnya itu di MZB Grup." ucap Vivi.
"Kamu adiknya Andrew?!" tanya mereka bertiga serentak.
"Kalian kenal sama kak Andrew?" tanya Vivi.
"Jelas kita tau. Dia asisten dari sahabat kita." jawab Raylo.
"Tapi, gimana kejadiannya kami bisa di culik?" tanya Arkan.
"Saat itu aku baru pulang sekolah karna ujian aku baca buku sambil jalan. Terus tiba-tiba di bekap dari Belakang. Waktu aku udah bangun, aku udah ada di hotel." jelas Vivi.
"Kamu ingat siapa yang menculik kamu?" tanya Arkan.
"Waktu aku di sana, ada satu orang wanita udah luka-luka kak. Dia bawa makanan untuk aku. Dia bilang jangan di makan, karna udah ada racun." ucap Vivi.
"Jelas bukan dia yang nyulik kamu." ucap Arkan.
"Tapi malamnya ada seorang pria tampan dan badan kekar datang bersama perempuan kak. Laki-laki itu sekiranya setinggi kak Arkan." ucap Vivi.
"Ric, lu ada foto Reval sama Sayla gak?" tanya Arkan.
"Ada-ada, ntar gua kirim, tapi foto Sayla gak ada." ucap Eric.
"Buka aja handpone gua, di sana ada foto Sayla." ucap Raylo. Eric pun membuka handpone Raylo dan mengirikan foto Reval dan Sayla.
"Mereka berdua gak?" tanya Arkan sambil menunjukkan foto Reval dan Sayla.
"Iya kak, mereka berdua." ucap Vivi.
"Fiks, Sayla gak mati!" ucap Eric.
"Kak aku boleh minta tolong lagi gak?" tanya Vivi.
"Apa?" tanya Arkan.
"Selamatkan kakak yang kasih aku makan. Tubuhnya banyak luka, aku kasian sama dia. Tadi kami sempat mau lari bareng, tapi dia udah ketangkap duluan." ucap Vivi.
"Oke nanti kita selamatkan." ucap Arkan.
"Makasih kak Arkan, makasih kak Eric dan makasih untuk kak Raylo." ucap Vivi.
"Sama-sama." jawab mereka bertiga.
•••Bersambung...
Nah loh, delapan keluarga besar di lawan. Ketauankan kematian Sayla cuman siasat buat jatuhin Ken.
Jangan lupa like, comment, Vote, berikan hadiah, dan rate 5 😄😄