INDEPENDENT WOMAN

INDEPENDENT WOMAN
Bab 8. cerita istana



"Jadi ceritanya gini...."


Risa mulai bercerita.


" Rumor pada saat itu pernah sangat ramai di bicarakan di seluruh maoritas Isatana adalah saat pangeran mengalami penyakit kelainan" gumam risa yang bercerita.


"penyakit kelainan maksud nya” Kinaya tercengang keheranan dengan penuh tanda tanya rasa ingin tahu nya.


“Iya! ini terjadi belasan tahun lalu di mana ratu agung yang merupakan ibu kandung pangeran meninggal” Risa membuat suasana semakin tegang.


“Maksud kamu ratu agung yang sekarang?”Kinaya terheran.


“Ratu agung yang sekarang adalah selir yang mulia, yang di jadikan istri kedua beliau serta sekarang menjadi ratu agung” Risa menjelaskan dengan sangat serius.


Sedangkan Kinaya hanya terengah bahkan ia tidak terlalu fokus mendengar kan Risa. Perasaan nya hanya sedikit merasa kasian kepada pangeran, Namun ia tidak terlalu tertarik untuk mengetahui lebih lanjut tentang istana serta penghuni nya.


Akhirnya Risa mengajak kinaya masuk kedalam karena cuaca mulai sedikit tidak mendukung. Angin timur sedang berhembus menerpa wajah mereka, serta bulan bahkan sudah mulai terbenam.


Hingga hujan lebat pun, tidak lama langsung turun membasahi bumi, dan menyegarkan keadaan.


Kinaya kembali lagi ke kamar sempit milik gadis remaja belasan tahun itu, ia berbaring di sebelah gadis itu.


Suasana mulai semakin hening, hanya ada suara  rintik hujan yang terdengar, tidak ada lagi suara burung kenari yang sedang bernyanyi.


___________


Hingga sinar mentari kembali menyapa, suara burung merpati mulai terdengar, bau tanah yang masih basah masih tercium sangat khas.


Kinaya yang sudah merasa lebih baik perlahan melajukan langkah kecil nya menulusuri jalanan setapak di tengah hutan, yang membawa nya hingga sampai istana.


Jalanan yang yang Bagus dan tidak berlubang sebenarnya ada, namun hanya saja akan memakan waktu yang sangat lama. Jadi meskipun jalan hutan sangat rindang dan penuh dengan babatuan kerikil yang beraturan adalah jalan pintas yang boleh di pilih jika ingin lebih cepat sampai ke istana megah di ujung jalan.


Kaki kecil Kinaya sudah membawa nya separuh dari desa menuju istana. Tampak dari arah jauh seorang pria muda menggunakan pakaian Cendikiawan datang menghampiri nya.


Pria itu tidak asing ia adalah Dero, bola mata dero selalu terbuka lebar saat menatap Kinaya. ia memandangi paras cantik yang elastis dengan tubuh kecil yang sangat gemulai, sehingga mata mana pun yang menatap nya pasti sangat tidak bisa memalingkan diri nya dari wajah cantik milik Kinaya.


Dero kini berjalan beriringan dengan Kinaya. sepanjang jalan yang mereka telusuri mereka terus saja berbincang- bincang tentang hal yang bahkan tidak penting.


Seperti tentang bunga padi di sawah atau tentang bagaimana air laut bisa asin.


Kinaya sangat terhibur saat Dero ada di samping nya, karena dengan nya Dero ia tidak merasa kesepian beradaptasi di dunia yang penuh tanda tanya ini?


Hingga saat tiba di persimpangan Kinaya meminta Dero untuk pergi terlebih dahulu karena ia harus pergi ke suatu tempat.


Namun Dero merasa sedikit penasaran dengan kemana langkah kaki gadis itu mengarah. Dero akhirnya memutuskan untuk mengikuti gadis itu.


Kinaya berbelok ke arah kanan menyusuri jalan setapak itu yang di penuhi banyak rumput ilalang.


“Sebenarnya mau kamana” Tanya Dero.


“Kamu ikuti saja jika mamang mau ikut” Cetus Kinaya.


Lalu akhirnya Dero hanya diam dan tidak berkutik mengikuti langkah kaki Kinaya yang membawa mereka kepada sebuah gubuk tua di tengah hutan.


"Apa yang akan kau lakukan disini “ Dero semakin penasaran.


Namun Kinaya tetap saja menyusuri setiap sudut gubuk tua itu.


“sttttt” Kinaya menutup bibir nya dengan jari telunjuk.


Sambil perlahan menangkap kelinci yang ia rawat bersama Ryo, pria yang sudah membuat Kinaya terpana dengan ketampanan nya.


Sebenarnya Kinaya sudah berjanji akan bertemu dengan Ryo hari ini. Namun setelah mencari kesetiap sudut, Kinaya tidak melihat keberadaan Ryo disana.


“Apa yang kau cari” Tanya Dero menyadari bahwa Kinaya sedang mencari sesuatu.


“Tidak aku tidak mencari apa-apa, ayo kembali ke istana” Ajak Kinaya karena menyangka bahwa Ryo tidak akan datang.


Perlahan langkah Kinaya dan Dero semakin menjauh. Tanpa sadar Ryo sang pangeran lalu keluar dari persembunyian nya, pangeran tidak menyangka jika sepupunya Dero bisa berbohong kepada nya tentang tidak bertemu dengan gadis yang ia minta untuk mencari tahu.


Pangeran sendiri sudah sedari tadi berada di gubuk tua itu menanti Kinaya. Namun saat pangeran Ingin menghampiri Kinaya ia melihat Dero ikut serta bersama nya.


Jad ia hanya memutuskan untuk tetap bersembunyi saja dari pada Dero melihat nya bertemu dengan Kinaya di tempat ini.


__________


Sementara itu Kinaya dan Dero kini sudah tiba di istana dan tak lama pangeran pun menyusul kembali ke istana.


Kinaya di minta oleh ketua pelayan untuk melayani permaisuri hari ini, Kinaya tidak sendiri ia juga dengan beberapa pelayan yang lain nya.


Kinaya perlahan menuju ke arah taman belakang istana ia melihat seorang gadis dengan bola mata yang sangat indah, dan bentuk wajah yang terpapang cantik.


Kinaya perlahan semakin mendekati gadis itu yang kini sedang asik belajar memanah dengan ahli panah istana.


Tak lama Kinaya baru menyadari gadis itu adalah permaisuri sang pangeran yang sedang di minta untuk belajar memanah.


“Benar-benar sangat sempurna” Kinaya terpukau akan kesempurnaan yang di miliki permaisuri.


Namun saat Kinaya sedang sibuk mengagumi. Tiba-tiba saja permaisuri cantik itu marah-marah karena tidak ingin melakukan pembelajaran pemanah ini. Dan bahkan tak jarang permaisuri berbuat semena-mena terhadap pelayanan.


Kinaya yang melihat sisi lain dari wanita sempurna itu seketika terlihat sangat marah. Muka nya memerah tangan nya di genggam lebih erat. Ia sangat tidak suka melihat manusia yang semena-mena kepada manusia lain.


Permaisuri menyadari Kinaya yang sedari tadi terus menatap sinis ke arah nya.


"Heii kau pelayan kemari” Tunjuk nya ke arah Kinaya.


Kinaya melangkah kaki perlahan mendekati tubuh permaisuri itu, dengan sedikit mencoba menahan amarah nya.


Namun saat sudah berada di depan. Permaisuri justru langsung menampar pipi Kinaya. Ia sangat tidak suka jika ada orang lain yang melihat nya dengan sinis , apalagi ini hanya seorang pelayan biasa.


Tanpa disadari oleh Kinaya pangeran melihat semua kejadian yang sedang di alami Kinaya.


Pangeran melangkah mendekat semua pelayan di wajibkan untuk tunduk dan tidak melihat kearah pangeran karena di istana tidak baik orang biasa menatap wajah pangeran secara dekat


Pangeran mengepalkan kedua tangannya, ia benar-benar emosi dengan apa yang di perbuat istrinya kepada Kinaya.


terlihat dari raut wajah nya ia sangat marah.


*


*


apakah pangeran akan menghukum permaisuri nya?