
Yangmulia sendiri memang sedang sangat teramat khawatir, fikiran nya benar-benar tidak fokus akhir-akhir ini. Emosi nya bahkan sering tidak beraturan, Semenjak dirinya kehilangan jejak seorang gadis yang ia cintai disaat mereka menghabiskan malam terakhir bersama .
Dero yang menyadari sepepunya yang penuh kekhawatiran datang menghampiri nya.
" Yangmulia, apa yang membuat mu begitu gelisah" Tanya nya dengan nada pelan.
" Aku sedang tidak ingin berbicara" Jawab nya datar.
" ouhh aku tahu? kau pasti sedang memikirkan selir Yoon bukan. Sudah kubilang jangan terlalu kasar padanya"
" Haaah! untuk apa aku memikirkan gadis pencuri itu!" hentak Yangmulia.
"Dia selir yang cantik, jelas saja kalau kau menghatirkan dia"
" Bagaimana kau tahu dia cantik? dia hanya gadis pencuri yang tidak ingin ku lihat wajah nya"
"Kau! jangan berbicara seperti itu. bagaimana jika nanti kau jatuh cinta pada gadis itu, kau akan menyesalinya nanti Tuanku yang mulia" Dero melangkah kesal pergi meninggalkan Yangmulia.
" Ku peringatan kan kau! . aku tidak akan pernah jatuh cinta pada gadis pencuri itu" Hentak yang mulia dengan nada suara tinggi.
Dero hanya bungkam tidak menjawab dan terus saja melangkah cepat.
" Hiss, tidak sudi aku jatuh cinta pada seorang pencuri. Lagi pula aku sudah mencintai Kinaya" Ucap nya tersenyum mengucapkan nama kinaya.
Sedangkan disisi lain di tempat pengasingan Yoona sedang asik membuat pesta BBQ dengan beberapa pelayan istana.
"Nona, aku baru pertama kali mencoba makanan enak seperti ini"Ucap mora saat menyantap Ayam yang di racik sendiri oleh Yoona.
" Tentu! itu sangat enak jika dimakan dengan cuaca seperti ini! Anggap saja kita sedang berada di puncak" Yoona mengagap dirinya sedang bertamsya.
Namun pelayan Nila, wanita tua yang menyelematkan Kinaya saat itu melarang mereka untuk terlalu bergembira. Karena bagaimanapun seorang selir yang sedang mengasingkan diri harus fokus merenungkan dosa yang sudah di perbuat nya.
" Bu Nila, aku mohon! aku fokus besok, jadi biar kan kami menikmati malam ini" Yoona menyapu lembut tangan Pelayan Nila.
" Baik, aku akan mengizinkan kalian malam ini. jadi bersenang-senang lah "
Yooona tersenyum dengan sumringah setidaknya bisa sekedar menikmati hidup. Meskipun tidak tahu apa yang akan terjadi pada nya esok hari.
Pagi harinya, mora mengetuk pintu kamar dari arah luar, memangil - manggil nona nya untuk segera bersiap.
" Mora untuk apa terlalu pagi" Yoona yang masih menguap membuka pintu.
" Nona ini sudah siang"
" Jam berapa? aku tertidur semalam mengapa ini bisa sudah siang" Tanya Yoona dengan suara serak habisa bagun tidur, dan sedikit mengucek matanya.
" Nona kemarilah" Mora menarik tangan Yoona.
" Mora aku bahkan belum mandi" Ujar Yoona berusaha merapikan pakaiannya yang kusut itu.
\_\_\_\_\_
" Disini bukan istana, kau tidak perlu mandi terlebih dahulu" Suara tegas seorang wanita Terdengar dari belakang Yoonya, membuat langkah nya terhenti.
Yoona menatap sinis ke arah wanita itu, dengan penuh pertanyaan yang akan segera keluar dari mulut nya. Namun seketika!
" Berani sekali kau menatapku begitu" Wanita itu menghentak Yoona.
Yoona mundur satu langkah, berdiri di belakang Mora. Sedikit mencolek Mora, seraya berbisik siapa wanita itu?. Tidak ada jawaban dari Mora, ia hanya tunduk tidak berani menjawab pertanyaan Yoona.
" Ouh aku tahu? kau pasti tidak mengenal ku bukan?. Akan ku perkenalkan siapa aku"
" Aku adalah Dayang Meng, dayang yang bertugas membantu mu menembus dosamu"
" Bagaimana seorang selir sepertimu, berani mencuri" Dayang Meng berjalan mengelilingi Yoonnahe yang sedang berdiri di belakang Mora.
" Dan apa ini" Dayang Meng menyentuh cadar milih Yoona.
"I- n,,,,ni" Yoona terbata.
" Nona terpaksa menutupi nya nyonya, karena hanya ingin suami nya yang melihat wajah nya saja " Mora membantu Yoona menjawab.
" Yasudah. Sekarang tugas pertama mu adalah mencuci pakaian di danau" Perintah Dagang Meng.
" Cuci pakaian di da-nau? Yoona tercengang.
"Tunggu apalagi. cepat lakukan "Hentak nya dengan nada tinggi.
\*\*\*\*\*
Mereka kini sedang menyusuri jalan setapak menuju danau di sebalik bukit.
"Mora kenapa ini jauh sekali " Ucap Yonna yang berjalan memangul ember cucian di tangan nya.
" Sebentar lagi nona"
Yoona kini menatap indah sebuah sungai yang mengalir deras, dan tampak beberapa wanita muda lainnya sedang mandi dia atas batu besar. Bahkan sesekali bercanda meracikan air sehingga mengenai Yoona.
" Awwww "
" Maaf Nona. Aku tidak melihat mu" Ucap seorang wanita muda yang sedang duduk di tepi sungai dan hanya mengunakan kain tipis yang membalut tubuhnya.
Yoona yang merasa heran, Mengapa wanita -wanita di sana mengunakan pakaian seperti itu.
"Disini memang kebanyakan wanita hanya mengunakan kain tipis untuk mandi Nona" Mora berbisik kepada Yoonahe.
"Apa aku harus?" Tanya Yoona yang berusaha menutupi tubuhnya.
Mora hanya tersenyum dan mengangguk.
" Sial sekali ini. Masa seorang putri bangsawan nyuci di tepi sungai begini" Yoona mengupat dalam hati.
\*\*\*\*\*
Yooona kini, sudah menyelesaikan tugas pertama. Saat nya kembali kerumah untuk tugas yang kedua.
Tugas yang kedua Yoona harus mengisi penuh air dalam bak. Tubuhnya benar-benar sangat lemas sekerang, dengan butiran keringat sudah mulai bertetesan.
Mengangkat air bukan lah tugas yang mudah untuk dirinya, terlebih lagi ia memang bukan dari wanita pada zaman ini.
" Nona kau sudah berhasil" Mora menghampiri Yoona. Lalu membawa kan satu botol air minum, Lalu menepi duduk di samping rumah bersama Mora.
Namun pandangan nya seketika teralih kan saat melihat seorang wanita pelayan datang menghampiri nya dan memberikan nya secerbik surat yang berisi.
" Temui aku dipohon kembar" Himchan.
Yoona yang sangat kegirangan menerima surat itu, lantas saja menuju ke arah dapur mencari dayang Nila untuk sekedar bertanya dimana letak pohon kembar di desa ini. Karena jika bertanya Mora, mungkin saja ia tidak tahu.
Ternyata letak pohon kembar itu berada di sebalik rumah besar ini. Yoona berlari keluar rumah, lengkap dengan wajah yang masih tertutup cadarnya.
" Tuan" sapa Yoona, datang menghampiri Himchan yang sudah menunggu nya disana. Ingin sekali rasanya untuk sekedar melepas lelah bersandar di bahu Himchan. Namun tidak mungkin, itu sama saja menghianati Jung.
" Mengapa anda kesini"
" Eoni mu, Jung. meminta ku untuk mengunjungi mu"
" Benarkah?. Namun kenapa anda tidak bersama nya"
Himchan tidak menjawab karena Jung meminta merahasiakan tentang keadaan nya kepada Yoona.
" Kau duduk lah, aku membawa kan mu makanan kesukaan mu"
" Benarkah. Anda memang Pria terbaik" Ucap Yoona, yang kini duduk di samping Himchan.
Yoona melahap dengan cepat makan yang dibawa kan Himchan. Karena memang ia belum memakan apapun sedari tadi.