
Rencana Tuan Shik, sudah disampaikan kepada Menayon. Namun Menayong Langsung saja menolak untuk menjadi Selir Raja.
" Kenapa harus aku bu?, kenapa bukan Yonna saja? yang pergi keistana aku tidak mau" Bantah Menayong kepada Munyong.
"Sebenarnya ibu juga, tidak ingin Putri ibu yang cantik jelita ini harus menjadi Selir kerajaan dari raja yang rumor nya mengalami penyakit yang aneh itu" Ucap Munyong memengang dagu putrinya.
" Tapi Kita tidak punya cara lain untuk menghentikan kehendak ayahhanda mu" jelas kembali Munyong.
" Aku punya ide" ucap Menayong berbisik kepada ibunya.
Munyong lalu menjalankan Rencana yang telah ia buat dengan putri nya.
Ia berlari tergesa-gesa menuju tempat Suami nya berada.
" Tuan ku, Tuan ku, putri kita Mena_" Ucapnya dengan gelisah.
" Ada apa? kenapa? apa yang terjadi" Pertanyaan beruntun yang di tayangkan Shik.
" Dia mengalami penyakit yang aneh" Ujar Munyong seraya menarik tangan Shik.
Mereka kini bergegas memasuki ruangan Mena, betapa terkejutnya tuan Shik saat melihat kearah wajah putri nya Mena.
Wajah cantik Mena, kini penuh dengan bintikan merah seperti alergi.
" Apa yang terjadi" Tanya Tuan Shik kepada tabib yang sedang memeriksa Mena"
" Dia alergi makanan tuan, ini kemungkinan akan lama untuk kembali seperti semula " Tabib menjelaskan.
"Bagaimana sekarang ini?, kamu seharusnya pergi ke istana 2 hari lagi" pekik Yoonshik melihat keadaan yang tidak mungkin jika mengirimkan putrinya yang berpenampilan seperti ini ke istana, mungkin saja ia langsung di tolak mentah-mentah dan ia tidak akan bisa mendapatkan kekuasaan.
" Tenang Tuan, bukan kah masih ada Yonnahe, dia bisa pergi mengantikan Mena" tutur Munyong.
" Yoonahe?" pekik Yoonshik, yang perlahan merasa jika yang di katakan istrinya memang benar.
" Kita sudah tidak ada pilihan lain Tuan ku" bujuk Munyong.
" Ashh sudah biar ku fikirkan lagi, dan kau Mena jaga makanan mu" Ucap nya melangkah meninggalkan ruangan itu.
****
"Yeyyy" Sorak riuh Mena yang berhasil membohongi Shik, dan berkerjasama dengan tabib.
***
Shik lalu menuju kearah kamar Yonnahe. memanggil-manggil namanya sedari jauh.
" Yonna,,,"
" Yonna"..
Yonna tidak berada di kamar nya, ia sedang barada di halaman dimana para perajin anyaman bambu sedang berkerja.
Suasana disana sangat tercengang. Semua Perajin terheran melihat Nona Yoon yang tiba-tiba sangat ramah kepada perajin.
Mora sama halnya dengan mereka yang menyadari sikap aneh nona nya ini. Karena yoonhe yang sebelumnya adalah gadis yang Jarang sekali berbaur dengan hal-hal yang seperti ini.
" Apa ini, kenapa Nona sangat aneh" Para perajin berbisik membicarakan Yonnahe.
" Hentikan. Apa ini" ucap Yoonshik mengapai tangan Yoona yang sedang mengayam bambu.
" Aku hanya sedang membantu" jelas Yonnahe dengan perlahan .
" Kau ini seorang putri bangsawan, tidak seharusnya kau berkerja seperti ini" Hentak Yoonshik.
" Dan kau Mora, kenapa kau tidak menghentikan Nona mu" Hardik nya kepada Mora.
" Ampun tuan"
" tidak. ini bukan salah Mora ini salah ku tolong jangan hukum Mora" Mohon Kinaya.
Mora dengan sigap menarik tangan Yoona dan membawanya kembali kekamar nya.
"Mora apa ini, Kenapa kita malah disuruh kembali kekamar" Ucap Yonnahe.
" Anda sebaiknya patuh saja Nona" jawab Mora.
" Malang sekali Yonnahe ini, putri bangsawan namun tidak bisa bergerak bebas" batin Kinaya yang merasa kasihan terhadap tubuh Yonnahe ini.
Lalu, tidak lama tuan Yoonshik memasuki ruangan Yonnahe dan menjelaskan tentang rencana nya mengirim putri nya ke istana untuk menjadi Selir.
Kinaya tercengang saat mendengar istana yang di maksud adalah istana Volery, Istana dimana ia pernah menjadi pelayan di sana.
"Isatana itu, ada Dero disana dan ada permaisuri gila itu juga" batin Kinaya.
" Tidak. tidak, aku tidak mau pergi ke istana itu" Ucap nya dengan lantang menolak.
"Kau,,, berani-beraninya menolak permintaan ku" Hentak Yoonshik.
" Aku tidak peduli pokoknya 2hari lagi kamu harus pergi ke istana" Celetus Yoonshik keluar dari ruangan itu dan meminta Mora untuk mempersiapkan segala keperluan Yoonahe.
Mora, langsung saja bergegas menghampiri Yonna yang kini sedang duduk di samping jendela menantap langit, seakan menyesali takdir nya yang telah membawanya ke negeri yang aneh ini.
" Nona, apa kau baik-baik saja" Tanya Mora.
" Aku baik- baik saja"
"duduklah aku ingin mendengar ceritamu" perintahnya kepada Mora.
Mora yang sempat ragu untuk duduk dan ingin menolak, namun melihat tatapan tegas dari Yonnahe yang tidak ingin di bantah akhirnya dia duduk.
" Jelaskan kepada ku, seperti apa Yonnahe ini"
" maksud mu Nona" Mora kebingungan.
" Maksud tuan Yoonshik, Aku belum mendapatkan dengan Jelas ingatanku" bohong Kinaya.
" Tuan Yoonshik dulunya adalah seorang bangsawan yang terkenal sangat baik, namun saat istri pertamanya meninggal dan menikah dengan nona Munyong sikap nya jadi berubah lebih tegas dan tidak peduli dengan orang biasa" Mora tetap menjelaskan meski merasa heran dengan pertanyaan Yonnahe.
" Berarti, aku bukan lah anak nyonya Munyong begitu maksud mu" Tanya Kinaya
" Iya nona, dia adalah ibu sambung mu"
Kinaya sejenak termenung dan mencoba berfikir
" pantes saja, Munyong tidak suka kepada Yoonahe".
"Mora, kau tau Dimana dapur dirumah ini" Tanya nya dengan antusias karena, tiba - tiba-tiba ada hal yang ingin di lakukan nya, dari pada seharian hanya diam dikamar ini.
Mereka lalu menuju kearah dapur, Mora kembali merasa ada yang aneh dengan Nona nya itu,
" mengapa seorang ahli panah seperti nya pergi kedapur?" pertanyaan yang tiba-tiba bermunculan di fikiran Mora.
Yonna dengan semangat memasuki ruangan dapur yang besar itu, Tampak beberapa Pelayan sedang memotong sayuran yang tiba-tiba di kaget kan dengan kemunculan Nona mereka di dapur. Karena selama ini tidak ada satu pun dari wanita rumah ini menginjak kaki di dapur apalagi memasak.
Karena di rumah bangsawan Yoonshik semua wanita hanya wajib mempelajari ilmu bela diri dan memanah saja.
" Kenapa kalian menatap ku seperti itu" Tanya Yonna yang perlahan mengambil beberapa sayuran dari tangan pelayan.
" Kenapa diam saja, capat bantu aku" Titah Yonnahe.
Mora memerintah pelayan yang masih merasa heran terhadap Yonnahe, meskipun Mora sudah tahu, jika Yoonshik mengetahui putri nya memasak di dapur, maka ia yang harus menanggung hukuman nya.
Kinaya\ Yonnahe memulai aksinya memotong sayuran dan beberapa rempah-rempah. Tangan nya semakin lihai memasak, semua mata yang melihat nya terpana dengan cara memasak nya dengan wanita jaman sekarang.
Tentu saja, karena Kinaya yang sedang memasak bukan lah Yonnahe.
Namun tetap ada saja, diantara pelayan yang disana yang berpihak kepada Munyong, dan dengan sigap segera memberi tahu nya bahwa nona Yoonahe, melanggar peraturan dan memasuki area dapur.