INDEPENDENT WOMAN

INDEPENDENT WOMAN
Bab 10. Siapa pria itu?



Makanan itu kini sudah berada dalam mulut Kinaya perlahan ia mengunyah dan mencicipi makan itu, tidak ada reaksi apa-apa dari wajah Kinaya hanya datar dan tidak berekspresi apapun.


“Makanan yang aneh” Batin Kinaya.


Permaisuri semakin marah, melihat Kinaya makan tanpa ekspresi ia berteriak.


“Bagaimana rasanya” Tanya permaisuri dengan nada ketus nya.


“ini sangat enak nyonya” Jawab Kinaya pelan.


Lalu permaisuri meminta Kinaya keluar dari ruangan itu dan kembali menuju ke arah dapur seraya mengumpat dasar wanita busuk.


Kinaya melangkah keluar dari ruangan itu, menuju kembali ke darpur namun tidak lama kemudian seorang dayang datang menghampiri nya dengan berlari terngosan dan meminta Kinaya untuk kembali ke ruangan permaisuri.


“Kinaya permaisuri memanggil mu untuk kembali” Ucap nya dengan nada capek.


“Apalagi yang di inginkan wanita gila itu" Batin Kinaya seraya mengumpalkan kedua tangan nya dan segera beranjak menghampiri permaisuri.


Kinaya tiba di ruangan itu dan melihat kearah wanita itu yang kini sedang duduk manis menatap ke arah cermin.


“Untuk apa memanggil ku nona” Tanya Kinaya pelan.


“Kenapa aku harus punya alasan untuk memanggil gadis murahan seperti mu!” permaisuri salah paham terhadap omongan Kinaya.


Namun meski begitu, Kinaya tidak bisa menerima semua perkataan yang di lontarkan dari mulut busuk permaisuri itu, perkataan nya sangat membuat hati Kinaya di berkecamuk dan ingin sekali rasanya menjabak rambut wanita itu.


Namun Kinaya tidak bisa melakukan itu, ini bukan dunia nya dan yang ia lawan adalah calon Ratu di dunia ini.


Kinaya dengan segala cara tetap berusaha agar bertahan hidup dan bisa kembali ke dunia nyata nya yang sangat-sangat ia rindukan.


“Cepat kau habiskan makanan sisa ku" Permaisuri menghentak lebih keras kepada Kinaya.


Kinaya hanya bisa menuruti permintaan permaisuri untuk memakan makanan sisa.


Ia memasukkan makanan itu kedalam mulutnya, dengan air mata yang perlahan mulai mengenang di pipi nya.


Ia tidak tahu apa yang sudah ia perbuat kenapa ia bisa terjebak di dunia kejam ini.


Namun ia tetap memakan makanan itu karena bagaimanapun di luar istana sana banyak rakyat yang kelaparan tapi kelakuan ratu mereka benar-benar menyia-nyiakan makanan.


Sementara itu permaisuri justru terlihat sangat senang, karena memiliki mainan baru untuk di siksa.


Setelah selesai makan makanan sisa itu Kinaya melangkah kaki nya keluar memegang erat talanan besar tempat piring tadi.


Dero yang melihat itu langsung saja menghampiri Kinaya dan bertanya apa yang sedang terjadi. Namun Kinaya belum sempat menjawab nya dan seseorang sudah memanggil Dero dari belakang.


Seorang wanita berbaju putih memanggil pelan nama Dero, pandangan nya langsung saja teralihkan. ia menatap dengan penuh kasih sayang ke wanita itu.


Sementara Kinaya justru pergi dari tempat itu meninggal kan Dero dan wanita itu.


Karena ia sudah selesai berkerja untuk hari ini. Kaki nya terus saja menyusuri jalan setapak yang biasa ia lalu, ia tidak langsung pulang.


Kaki nya membawa nya ke sebuah gubuk tua di tengah hutan, tempat dimana ia dan pangeran merawat kelinci.


Kinaya terdiam menekuk kepalanya, air matanya terus saja berlinang, ia tidak masih tidak bisa menerima perbuatan permaisuri yang di rasa sudah terlalu kejam kepadanya.


Kinaya cukup lama duduk di sebuah kursi di depan gubuk, hingga hari pun sudah berganti malam.


Perlahan ia coba untuk bangkit dan beranjak pulang, Namun di perjalanan hal yang tidak pernah di duga terjadi Kinaya bertemu beberapa preman yang sedang mabuk di sebuah gang yang hampir sudah dekat dengan desa.


“Heii wanita cantik sendirian saja” Goda pria itu sedikit mencolek pipi kinaya.


Kinaya semakin ketakutan ia tidak tahu apa yang harus di lakukan sekarang apa kah ia akan mati di dunia ini dengan tragis, dengan cara yang di bunuh preman murahan di tengah hutan.


Perlahan Kinaya melangkah mundur, mencoba mencari cara agar bisa lepas dari para preman yang terus saja mengada nya dan menyentuh tubuh nya.


Kinaya berlari menghindar, namun para preman tetap saja mengejarnya mereka tidak akan mau melepaskan gadis cantik bertubuh seksi seperti Kinaya.


Kinaya terus saja berlari tanpa arah hingga akhirnya ia terhenti di sebuah tempat yang sangat gelap, ia rasa ini sudah sangat aman dan para preman juga tidak mungkin mengikuti nya sampai kesini.


Namun seketika Kinaya menyadari bahwa ia tidak pernah ketempat ini sebelum nya.


”dimana aku berada sekarang” gumam nya.


Tempat yang sangat asing seperti nya sudah di tengah hutan, jarak dari pemukiman warga juga sangat jauh. Kinaya tidak tahu harus berbuat apa. Ia mungkin saja sudah bebas dari para preman namun ia belum tentu bisa bebas dari bintang buas ditengah hutan.


Seketika ia mencoba duduk di sebuah pohon besar. Ia melipat kedua tangannya di lutut nya, air mata nya perlahan sudah mengenang ia merasa bahwa benar- benar akan mati di dunia ini.


Suara-suara aneh dan misterius sudah mulai terdengar, dan malam sudah semakin gelap. Bahkan sinar rembulan pun semakin redup, seperti pertanda hujan akan segera turun.


Benar saja hujan mulai turun dengan celah petir yang terus-menerus menyambar yang menghasilkan cahaya di sela-sela langit gelap gulita itu.


Kinaya tubuh nya sudah mulai basah di guyur hujan, ia sudah sangat pasrah dengan hidup nya. Ia sudah mengira bahwa tidak akan ada keajaiban lagi untuk nya, dan hanya terus saja menangis ketakutan di tengah badai hujan yang semakin deras.


Namun dewi Fortuna masih berpihak kepada nya. Suara seorang terdengar dari balik semak belukar, suara itu terus saja terdengar memangil namanya, ia tidak terlalu jelas mendengar nya bahkan saat ia ingin menyaut suara nya sudah tidak bisa keluar. Karena tubuh yang sudah terlalu lemah karena tak kuasa menahan dingin nya air hujan.


“Akhirnya aku menemukan mu”


Suara seorang pria muda datang dan dengan sigap langsung memeluk tubuh dingin Kinaya.


Kinaya sudah tak kuasa saat ini ia tidak kuat lagi menahan ini, perlahan ia mencoba membuka mata,  namun ia tidak bisa melakukan nya. Lalu akhirnya ia pingsan di pangkuan pria itu.


Pria itu memeluk lebih erat tubuh Kinaya, seraya berkata.


"Maaf kan aku terlambat, kamu harus bisa bertahan aku mohon" Ucap pria itu meneteskan air mata ke pipi Kinaya.


Tubuh kinaya sudah sangat lemah, pria itu perlahan mencoba untuk bangkit dan mengendong tubuh Kinaya yang sedari tadi sudah berada dalam pelukan nya , yang sudah tidak berdaya sejak tadi.