INDEPENDENT WOMAN

INDEPENDENT WOMAN
Jung meninggal



" Ka-u harus bertahan" Pinta Himcan mengengam lebih erat tangan Jung.


"A-ku sudah tak kuat tu-an" Rintih Jung. Yang kini sedang di obati oleh tabib.


" K-au pasti bisa. Kau adalah wanita hebat" Himcan berusaha menguat kan Jung.


Namun Jung mengelengkan kepalanya. Seolah mengatakan ia tidak bisa.


" Tu-an ku! boleh kah aku minta satu hal pada mu" - Lirih Jung pelan.


" Iya katakan" Jawab Himchan semakin khawatir dengan keadaan Jung. yang sedari tadi tidak henti-henti nya mengeluarkan darah dari mulut nya.


" Aku sangat ingin....."


" K-au ingin..?"


" Aku ingin kau berjanji untuk selalu menjaga Yoona untuk ku"


Jung menganti permintaan nya. Karena sebenarnya dia hanya ingin suami nya mengatakan cinta. Namun ia tahu Himchan tidak akan pernah mencintai nya.


" Aku akan menjaga nya untuk mu. Tapi kau, harus bisa bertahan" Gumam Himchan menguatkan Jung.


Namun Jung benar-benar sudah tidak bisa bertahan lagi, dirinya akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya, dalam pangkuan suaminya, Hincam.


Isak tangis mulai terdengar dari seluruh istana, banyak yang merasa kehilangan Nona Jung, karena bagaimanapun Jung adalah nona yang sangat baik.


Himchan sama halnya sangat terpukul dengan kepergian, Jung. Terlebih lagi dirinya menyesal karena tidak pernah mengatakan hal yang sangat ingin di dengar Jung. " Aku mencintaimu".


Himchan tanpa ia sadari, perasaan nya perlahan mulai menyukai Jung. Namun dirinya terlambat menyadari nya.


@@@@@@


Isatana sedang berduka kali ini, bahkan berita tentang kematian Jung sudah terdengar di luar istana sekalipun.


Dan berita tersebut sudah di terima oleh Yoona.


Yoona yang teramat terpukul dengan kepergian Jung, benar-benar tidak bisa membendung rasa sakit yang teramat ini, dirinya sudah bergegas dan hendak kembali ke istana. Namun Dayang Meng dengan perintah Yangmulia menahan dirinya untuk tidak kembali keistana sebelum menyelesaikan hukuman nya.


" Ta-pi dia Eoni ku! Bagaimana bisa kau melarang aku untuk menghadiri pemakaman nya" Hentak Yoona dengan air matanya.


" Ini perintah Yangmulia"Hentak Dayang Meng.


" Aku tidak peduli! aku hanya ingin pergi melihat nya untuk yang terakhir kali nya" Yoona hendak kabur dari tempat itu. Namun Dayang Meng dengan bantuan para pelayan lain berhasil menangkap Yoona, lalu menguncinya di dalam kamar.


"Kalian benar-benar manusia yang kejam" Yoona meracau mengedor-gedor pintu dengan keras.


" Maafkan kami Nona! Tapi ini perintah Yangmulia" Seru pelayan dari arah luar.


@@@@


Yoona benar-benar hancur kali ini. Dirinya sudah terpaku duduk di depan pintu nya. Menelusuri lutunya , dan tidak henti-henti nya menangis histeris.


" Aku benci kau" Yoona memukul perutnya, menyalakan bayi yang ada dalam perutnya karena itu adalah anak dari Yangmulia.


Haaaaaas


Yoona merintis kesakitan karena pukulan pada bagian perut nya sangat kencang.


" Eonni maafkan aku! Aku bahkan tidak melihat mu untuk yang terakhir kali. Aku pantas di hukum Eouni! haaaaa" UcapYoona disela-sela tangisan yang semakin menjadi-jadi.


_____.


Yoona kembali coba bangkit seraya memegang perutnya yang sedari tadi sudah teramat sakit.


" Mora apakah kau mendengarkan ku" Teriak Yoona, kembali memukul pintu.


Tapi tak ada jawaban dari luar, karena memang Mora juga dikurung dalam kamar. Karena Dayang Meng, khawatir jika Mora akan membantu Yoona untuk kabur.


" Nona apakah kau butuh bantuan" Seru pelayan yang mendengar suara Yoona.


" Kanapa kau? Dimana Mora?" Teriak Yoona dengan nada isak tangisnya.


" Maafkan hamba Nona! Tapi, mo-ra"


" Kenapa Mora katakan?"


" Dia juga di kurung di dalam kamarnya"


Yoona semakin kesal mendengar ucapan pelayan itu. Kali ini dirinya benar-benar sudah sangat membenci Yangmulia.


@@@@


Hari sudah berganti malam, pelayan datang menghampiri Yoona membuka kan pintu kamar Yoona seraya mengantarkan makan malam.


Yoona nampak menengelam kan wajah nya di sela-sela lutut yang di tekuk. Rambut nya yang terurai panjang jatuh hingga mengenai lantai. Namun tangannya terus saja memengang perut, menahan rasa sakit yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.


_________


Hari kini sudah berganti pagi.


Pelayan masuk untuk mengambil wadah bekas makanan di dalam kamar Yoona.


Namun seketika wajah pelayan itu, berubah tercegang menatap Yoona yang sudah tergeletak di lantai, dengan darah yang mengalir di sela-sela betis Yoona.


" Cepat kemari" Ucap pelayan itu yang sudah tidak bisa berkutik, berusaha menutup mulutnya dengan sebelah tangannya.


Para pelayan masuk, begitu juga dengan Dayang Meng. Serta tabib juga sudah sigap memeriksa Yoona.


_______


Tabib yang memeriksa adalah wanita tabib yang sama, yang mengetahui Yoona Hamil.


hukkk


Yoona tersadar, dan masih merintis kesakitan.


" Nona anda sudah sadar"


Yoona menatap kesekitar, dirinya merasa lega karena tidak melihat siapun di ruangan itu selain tabib wanita.


Lalu Yoona perlahan hendak bangkit, tapi tubuh nya seketika merasakan sakit yang teramat.


" Sebaiknya An-da istirahat saja" Saran tabib.


Yoona hanya patuh dan mengangguk, seraya sedikit bertanya.


"Apa yang terjadi pada ku? "


" Seharusnya saya yang bertanya" Jawab tegas wanita tabib.


" Mengapa anda memukul nya" Tanya tabib, melirik kearah perut Yoona.


Yoona lalu mengerakkan tangan nya memegang perut .


" ini " Tanya nya dengan santai.


" Anda hampir saja kehilangan janin anda"


" Aku tidak peduli" Yoona kembali cuek.


" Baik, jika anda tidak peduli. Saya akan keluar dan memberi tahu Dayang Meng" Tabib itu berdiri, namun Yoona dengan sigap menahannya.


" Tidak! Tidak! Aku mohon" Ucap Yoona dengan wajah yang penuh kehawatiran.


" Maka berjanji lah satu hal kepada ku! bahwa anda tidak akan melukainya lagi"


" Ya aku berjanji" Ucap Yoona karena terpaksa.


@@@@


Setelah tabib keluar Mora dengan sigap datang menghampiri dan langsung memeluk Yoona.


Tidak lama juga, di susul oleh Dayang Meng.


" Kenapa kau tidak memakan makanan mu" Tanya dayang Meng, yang mengetahui bahwa Yoona hanya telat makan.


" Maafkan aku" Yoona menuduk kebawah , dengan sedikit tersenyum merasa senang karena Tabib wanita itu menepati janji nya untuk tidak memberi tahu siapa pun tentang kehamilan nya.


" Cepat habiskan makanan mu" perintah Dayang Meng yang perlahan keluar dari kamar itu.


_______


" Nona apakah kau baik-baik saja" Mora memastikan keadaan Yoona.


" Aku baik-baik saja! Tapi, Eoni jung!"


Mora dengan sigap merangkul tubuh Yoona. dan meminta Yoona untuk menangis jika ingin melakukan nya.


" Nona aku mengerti perasaan mu" Mora perlahan memberanikan diri, mengelus pelan pundak Yoona.


" Mora aku sangat ingin melihat nya" Lirih Yoona di sela tangisan nya.


" Nona kau akan melihat nya! Kita hanya butuh 3 hari lagi untuk kembali ke istana" Mora berusaha menenangkan Yoona.


" Tapi aku hanya ingin Eoni Mora. bukan makam Eoni" Yoona semakin menjadi-jadi. tangisan kembali meluap, setiap kali dirinya mengigat Jung.