INDEPENDENT WOMAN

INDEPENDENT WOMAN
Semua nya akan sia-sia.



Mereka kini benar-benar menutup masuk kedalam gula yang hanya memiliki sedikit penerangan dari obor kecil yang sangat minim.


" Anna mending kita kembali saja" Saran Alura dengan sedikit mengelus pundak nya yang sedikit merinding.


" Sebentar lagi nyonya kita akan segera sampai" Tegas Anna yang msih saja fokus menatap jalanan yang sangat gelap didepan.


" Tapi aku tidak yakin"


" Jika kita kembali, semua akan sia-sia nona"


" Kau benar Anna"


Alura yang mengerti maksud Anna tetap saja melanjukan langkah kakinya hingga akhirnya mereka tiba di inti gua.


Sebuah tempat misterius didalam gua, Tempat keramat tempat tinggal pendeta Gyorgo yang sangat misterius, Namun terkenal dengan sebutan Dewa Agung.


"Biarkan aku menebak! Kalian pasti berasal dari istana" Ucap Pendeta gyorgo yang masih memejamkan matanya.


" Nona lihat! bukan kah dia sangat hebat, dia bisa mengenali kita meskipun tidak melihat" Bisik Anna kepada Alura, yang membuatnya semakin percaya dengan kehebatan yang di miliki pendeta Gyorgo.


" Dan wanita yang berada disebelah kanan! Kau adalah Seorang Permaisuri yang akan segera disingkirkan, jika seorang bayi laki-laki lahir diistana"


" Bagaimana bisa kau mengetahui nya" Tanya lantang Alura karena kesal dengan ucapan Gyorgo.


" Kau bahkan belum hamil untuk saat ini" Tukas pria misterius itu.


" Aku memang belum hamil! Tapi akan segera"


"Itu sudah terlambat Nona"


" Maksud anda" Gantian Anna yang bertanya.


" Bukankah Suami anda memiliki wanita lain yang sangat dicintainya! Bagaimana bisa kau hamil jika suami mu saja tidak mau menyentuh mu"


" Kau berhenti bicara!" Pekik Alura yang mulai kesal mendengar semua perkataan yang lontarkan oleh Pendeta misterius Namun Anna tetap berusaha menenangkan Alura yang sedang emosi.


" Tuan Pendeta! Tujuan kami menemui anda sebenarnya ingin mengahancurkan wanita yang sedang hamil itu" Jelas Anna yang secara perlahan mulai sedikit mendekat.


" Aku tahu maksud kalian"


"Baiklah jika anda mengerti"


" Kau hanya perlu memberikan bubuk ajaib ini kedalam makanan wanita itu! pastikan dia mengahabis makanannya, agar racun ini berfungsi" Ucap pendeta Gyorgo.


Alura yang mendengar itu seketika tersenyum dengan sumringah karena sebentar lagi akan mengalahkan Yoona.


*****


" Anna bagaimana cara memberikan racun ini tanpa diketahui oleh orang banyak" Tanya Alura yang sedikit kebingung, terlebih lagi Yoona bukan lah wanita bodoh yang akan mau memakan makanan yang diberikan olehnya.


" Kita bisa melakukan di Acara satu malam sebelum tradisi pemangilan hujan lakukan nona"


" Kau benar! Jadi dengan begitu maka tidak ada yang mencurigai ku! Bukan kah begitu Anna.


@@@@@


Alura dan Anna sudah kembali keistana, di perjalanan saat dirinya memasuki istana tidak segaja bertemu dengan Yoona.


" Mora apakah kau yakin! mereka sudah menemui Pendeta itu"


" Mmmm iya nona" Jawab Mora yang sedari tadi berjalan tepat dibelakang Yoona.


Mora dan Yoona bergegas untuk mengantarkan makan siang untuk Yangmulia yang sedang berada di atas bukit untuk sejenak melepas penak dengan menikmati udara segar diketinggian.


" Tuan ku! kenapa kau harus makan diatas seperti ini" Tanya Yoona yang sedikit kewalahan naik mendaki bukit, dengan menahan berat bakul makan yang dijinjing nya.


" Disini sejuk, kemarilah" Ucap Yangmulia dengan memapah tubuh Yoona untuk naik.


"Kemarilah dan duduk di sini tuan putri"


"Kenapa kau meminta ku membawakan makanan kemari, Kenapa tidak makan diistana saja" Gurutu Yoona kepada Yangmulia.


" Aku hanya ingin kau melihat pemandangan yang indah ini Sayang ku" Ucap Yangmulia dengan menunjuk kearah bawah.


Yoonna seketika terpana dan bola matanya membulat sempurna saat menatap indahnya istana dari ketinggian.


" Wahhh apakah aku sudah mati!" Gumam Yoona dengan sedikit menepuk-nepuk pipinya.


" Mati! maksudmu" Tanya Yangmulia dengan sedikit tercengang dengan ucapan Yoona.


" Bukan kah ini syurga? kenapa ada tempat seindah ini disini"


" Ini masih dibumi tuan putri! dan kau bahkan belum mati" Canda Yangmulia dengan sedikit tersenyum saat melihat keanehan Yoona.


" Berhenti menertawakan ku"


" Tu! tu. Kau tertawa lagi"


" Baiklah! baiklah! Aku tidak akan menertawakan mu lagi" Jawab Yangmulia dengan masukkan sesuap nasi kemulut Yoona.


" Kau tahu dulu saat aku masih kecil, saat semua orang memarahi ku! Aku selalu berlari kesini"


" kenapa semu orang memarahi mu" Tanya Yoona datar.


" Ibu ku menginggal saat usiaku 7 tahun. diumur ku yang masih teramat belia. Ayahku terus saja bergonta panti pasangan, menikah lagi dan memiliki banyak selir"


" Lalu ..." Tanya Yoona seraya memasukkan makanan kemulut Yangmulia.


"Selir pengantin ibuku, Tidak pernah menganggapku sebagai anak"


" Kenapa bisa begitu"


"Karena hanya aku doang anak laki-laki yang dilahirkan dari permaisuri Yangmulia. Tentu saja mereka membenci ku"


" Maksudmu hanya kau yang bisa menjadi penerus,,,?"


" Sepertinya yang kau tahu! diistana hanya anak yang dilahirkan oleh permaisuri yang akan menjadi Raja"


Yoona seketika berfikir tentang betapa tersiksanya Yangmulia selama hidupnya.


"Berarti kau sebenarnya tidak ingin menjadi Yangmulia...?" Tanya Yoona pelan karena sedikit ragu.


" Ya! Aku tidak ingin menjadi Raja. Makanya waktu itu berbohong kepada mu hanya sebagai rakyat biasa"


" Apakah mereka tidak baik padamu" Ucap Yoona dengan sedikit membelai lembut rambut suaminya.


" Kau lihat pemandangan dibawah! bukankah itu sangat indah menurut mu. Tapi kau tahu, jika aku bisa memilih, Aku tidak akan tinggal di tempat yang sudah menjadi neraka untuk ku dan ibu ku"


" Kenapa kau masih mau menjadi Yangmulia, setelah apa yang sudah kau alami"


" Itu untuk tanggung jawabku dan sumpahku kepada ibu! Aku berjanji kepadanya untuk mensejahterakan rakyat agar bisa hidup dengan nyaman dan makmur" Ucap Yangmulia dengan raut wajah yang dipenuhi dengan kesedihan yang begitu mendalam saat mengingat hidupnya yang tidak begitu indah dimasalalu.


*


*


" Baiklah suamiku tercinta! berhenti bicara dan Habiskan makanan mu" Perintah Yoona agar Yangmulia tidak larut dalam mengenang masa lampau nya.


" Malang sekali nasib kau" Batin Yoona dengan menatap begitu dalam wajah suaminya.


*


*


*


Setelah mengahabis makanannya Yoona dan Yangmulia kembali turun.


" Tuanku Boleh kah aku minta satu hal"


" katakan saja! jika kau minta bintang sekalipun akan ku turuti"


" Aku serius"


" Baiklah katakan"


" Jika setelah upacara pemangilan huja selesai boleh kah aku minta waktu mu"


" Tentu saja"


" a-ku akan membawa anda ke suatu tempat"


"Kemana?"


" Rahasia!..." Balas Yoona yang berlari meninggalkan Yangmulia.


" Hati! hati jangan berlari kau akan terjatuh" Perintah Yangmulia yang mengikuti Yoona dari belakang. Namun seketika saja seorang menghentikan langkah Yangmulia.


" Yangmulia! Bisakah bicara sebentar" Tanya Himchan yang datang menghampiri Yangmulia.


" Tentu!" Jawab Yangmulia dengan memperbaiki imej nya didepan pangeran Himcan.


" Apa yang dilakukan gadis itu?" Tanya Himacan yang melihat Yoona sedang dikejar Oleh Yangmulia.


" Entahlah biarkan saja!" Jawab datar Yangmulia dengan senyuman sumringah dibibirnya.


" Kau tersenyum?" Himchan merasa heran karena ini kali pertama diirinya melihat senyuman yang tulus dari adik nya Keizen yang selalu datar kepada orang lain.