INDEPENDENT WOMAN

INDEPENDENT WOMAN
Bagaimana ini?



" Bagaimana aku bisa hamil, dan bayi ini adalah seorang pengeran" Yoona berdiri di depan jendela mengahadap ke atas luar, lalu tanpa ia sadari tadi mengigit ujung kuku.


" Ashh. Tidak, ini tidak mungkin. Yang ada juga aku akan di hukum mati karena mengandung sebelum berhubungan dengan Yangmulia! Ta-pi Ry,,o i-tu, Dia Yangmulia. Aish aku benar-benar bisa gila di dunia novel yang aneh ini." Yoona mengacak-acak rambut.


" No-na" Seruan Mora mengagetkan Yoona.


" Mora kau mengagetkan saja"


" Apa yang sedang anda fikirkan No-na" Mora bertanya pelan.


" Mora!" Yonna memengang bahu mora dan sedikit menekan. Sehingga membuat mora tercengang.


" Apakah aku akan mendapatkan malam pertama ku dengan Yangmulia"


" Nona kau selir nya! tentu saja kau akan mendapatkan nya"


Yoona melepaskan cengkraman nya pada bahu Mora, lalu meminta Mora untuk meninggalkan dirinya sendiri.


*


*


*


*


Hari berpacu dengan bulan menyongsong. Yoona sudah berada 15 hari lebih di tempat itu


Dirinya sedikit merasa bosan berada di tempat itu, di tambah lagi Himcan tidak pernah mengunjungi nya akhir-akhir ini.


" Dayang Meng! boleh kah, aku kembali ke Istana saja" Yoona memohon dan terus saja berjalan mengikuti Dayang Meng.


" Kau belum bisa kembali" Jawab datar Datang Meng.


" Tapi aku mohon" Yoona memksa untuk pulang. karena jika berlama-lama disini, akan membawa kesialan baginya, dan perut nya pasti akan membesar sebentar lagi.


" Kau! berhenti mengikuti ku" Hentak Dayang Meng yang merasa Yoona adalah gadis keras kepala yang susah dikasih tau.


" Aku sudah menyelesaikan tugas ku" Yoona berdalih untuk mencari alasan.


" meskipun sudah kau belum bisa kembali. Karena yang mulia melarang mu kembali jika belum genap satu bulan disini. Apa kau mengerti!" Dayang Menjelaskan dengan nada tinggi, ia bahkan menekan di bagian akhir.


Yoona yang mendengar itu, langsung memutar kan tubuhnya berjalan dengan pelan dengan wajah yang di tekuk kebawah, dan tanpa ia sadari ia menabrak seseorang.


"Kenapa kau sangat sedih, haaa" Pelayan Nila memengang dagu Yoona.


Yoona yang menyadari itu pelayan nila sontak langsung saja memeluk dengan erat.


" Aku ingin pulang" Lirih nya dan perlahan menetes kan air mata.


" Kau pasti akan pulang " Pelayan Nila menepuk pelan bahu gadis itu.


Sedangkan MOra yang melihat Nonanya sangat sedih datang untuk menghampiri nya. Namun pelayan Nila mengunakan bahasa tubuh nya untuk memberi tahu Mora biar kan saja Yoona bersamanya sebentar.


****


Pelayan Nila kini membawa Yoona keluar dari rumah besar itu, untuk sekedar mencari angin dan menghirup udara segar.


" Kau tahu? betapa bahagianya kami saat pertama kali kau datang kerumah kami.


Semenjak saat itu, kami mulia merasakan semua makanan yang enak yang kau buat untuk kami, dan kau juga membantu warga sekitar. betapa bahagianya aku jika bisa memiliki seorang putri seperti mu" pelayan Nila berusaha menghibur Yoona yang kini berjalan disebelahnya.


" Aaaa. Aku juga sangat bahagia bisa mengenal kalian" Ucap Yoona perlahan memeluk pelayan Nila.


Mereka terus saja berjalan dengan sedikit berbicara tentang hal-hal yang pernah mereka lalui bersama.


" Sebentar " Pelayan Nila menghentikan langkah kaki Yoona.


Yoona hanya tersenyum menatap wajah wanita paruh baya yang sedang berjalan disebelahnya itu.


"Dan sekarang. Kamu di asingkan karena mencuri untuk memberikan nya kepada warga" Pelayan Nila semakin penasaran.


" Eummm"


" Tega sekali Yangmulia itu, ingin sekali ku acak-acak wajah nya karena menghukum wanita baik seperti anda"


" Sudah tidak perlu begitu. Lagi pula ini sudah berlalu!"


" Dan Yangmulia itu menantu anda" Yoona berbisik berusaha menghibur.


" Semoga kau selalu di berkati nak. Kau memang pantas menjadi Ratu"


*******


Sedangkan diistana Permaisuri masih saja mencari cara agar Yangmulia bisa bermalam dengan nya malam ini.


Kali ini ia masih menggunakan cara yang sama. mengunakan obat perangsang itu lagi.


" Apa yang kau lakukan kali ini" Yangmulia berjalan mundur dari Permaisuri, dengan nafas yang sudah tidak beraturan akibat obat perangsang itu.


"A- ku hanya ingin mempunyai anak dari anda Tu-an ku" Lirih Permaisuri.


Yangmulia mendekati pintu dan hendak keluar dari kamar itu. Namun menyadari pintu itu di kunci, yang mulia murka kepada Permaisuri.


" Katakan dimana kunci nya"Hentanya dengan sedikit menekan.


Tanpa pikir panjang Permaisuri langsung mendaratkan ciumannya pada bibir Keizen yang bergetar, Keizen yang masih dalam pelukan Permaisuri tak bisa berbuat banyak, awalnya ciuman itu terlihat brutal.


Tapi Permaisuri tahu perasaannya pada Yangmulia bukanlah perasaan yg biasa,dan Yangmulia, akibat obat perangsang itu ciuman berubah menjadi hangat dan sangat lembut, Permaisuri hanya bisa pasrah saat Yangmulia mulai berpetualang menuruni leher Alura yang jenjang.


Nafas Alura yang mulai tak beraturan, rintihan lirih dari mulut Alura membuat suasana kamar itu semakin panas, Yangmulia menikmati harum tubuh gadis yg baru dinikahinya itu, dan meninggalkan jejak kissmark pada leher Alura yg putih.


Permaisuri hanya bisa menggigit bibirnya yang basah, saat Yangmulia menghisap lehernya bak seorang vampir.


Malam sudah semakin larut dan mereka masih melanjutkan aksinya, hingga lalu tertidur sampai pulas hingga pagi .


" Awww" Rintihan Yangmulia memengang kepalanya yang masih sakit, karena efek obat perangsang nya.


" Tu-an ku. kau sudah bangun" Gumam Permaisuri yang sedang duduk di depan cermin, menyisir rambut nya panjang yang masih basah.


" K-au! kenapa kau berada di kamar ku!" Pekik Yangmulia.


" Ini kamar ku tuan" Jawab santai permaisuri.


Yangmulia seketika menatap ke sekeliling menyadari ini memang bukan lah kamar milik nya.


Yangmulia bangun dan keluar dari kamar Permaisuri. Dan semua pelayan yang berada di depan pintu merasa heran dengan Yangmulia keluar dari kamar Permaisuri Alura.


@@@@@@


Sedangkan disisi lain Isatana semua orang tampak panik, mengetahui istri dari Pangeran Himchan yang sedang sekarat karena penyakit yang di deritanya.


" Istriku kau harus bisa bertahan" Gumam Himchan yang memengang tangan istrinya.


" Huk-huk. Tuanku lirih Jung di sela-sela menahan rasa sakit yang teramat itu.


" Kau tau, saat pertama kali aku melihat mu hari itu, aku sudah jatuh cinta kepada mu. Meskipun aku tahu, Anda tidak mencintai hamba Tuan ku. Dan mungkin saja, jika aku tidak memasak untuk menikah dengan mu. Mungkin hidup mu tidak semenderita ini Tuan. Kau tidak perlu mengurus istri yang sakit-sakitan seperti ku"


" Kenapa kau berbicara seperti itu" Himcan perlahan merasa sedih mendengar semua perkataan yang keluar dari mulut wanita yang sudah beberapa tahun terakhir manjadi istrinya.


Ya! Jung bukan lah wanita yang di cintai Himchan. Namun Himcan selalu memperlakukan jung dengan baik.


Begitu juga dengan Jung, dia selalu berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi istri yang baik untuk Tuannya Himcan.