INDEPENDENT WOMAN

INDEPENDENT WOMAN
Kekuatan aneh



Apa yang kau lakukan, Sampai tidak sempat untuk makan"


" Aku sangat lelah, mereka terus saja membuka ku berkerja" Yoona mengeluh .


" Mereka siapa" Himchan murka saat mendengar kan itu. Sigap saja ia langsung berdiri.


Yoona tersenyum menatap Himacan, dan tangan nya perlahan meraih tangan pria yang penuh amarah itu.


" Tidak tuan, mereka hanya menyuruh ku menjalankan tugas saja tuan" Yoona menarik tangan Himchan untuk kembali duduk.


" Kau masih bisa tersenyum, sedang kan kau tahu tubuh mu itu sangat lemah" Hentak Himchan.


" Bagaimana bisa aku sangat lemah (Yonna tersenyum ke arah Himacan) Aku adalah gadis yang kuat bukan" Yoona berusaha meredam amarah Himcan yang mulia membara, hanya karena masalah sepele Yoona.


" Apakah kau capek? " Tanya Himacan penuh perhatian.


" Hanya sedikit tuan" Ucap Yoona yang memegang pundak nya yang terasa sedikit pegal itu.


Himchan yang melihat Yoona mendesis saat memegang pundak nya langsung saja berdiri tepat di belakang Yoona.


" Apa yang sedang anda lakukan tuan" Ucap Yoona dengan santai  masih menguyah buah apel hijau dari tangan nya.


Namun , Himcan mendarat kan kedua tangan nya di pundak Yonna. Seraya secara perlahan memijit pelan pundak putih milik gadis cantik itu.


Seketika saja Yoona kaget dengan perlakuan dari Himcan secara tiba-tiba ini.


" Tu-an " Lirih Yoona.


"Kau cukup diam saja ini tidak akan lama"


Himchan memijit dengan sangat perlahan dan beraturan. Sentuhan Himacan selalu saja bisa membuat Yoona terlena.


Setiap sentuhan itu, sangat memanjakan tubuh nya yang teramat lemas sedari tadi.


" Bagaimana? apa sekarang sudah enak" Bisik Himcan di telinga Yoona. Seketika saja Yoona menaikkan bahu nya dan berbalik menatap Himcan.


" Kenapa menatap ku. Kau cukup diam saja" Lagi - lagi Himcan berbicara di telinga Yoona.


" Niat hati ingin menghentikan Himchan, namun apadaya  saat menatap bola mata coklat itu,  hatiku bahkan berdegup sangat kencang. Lagi pula, aku juga menikmati nya.


Yoona perlahan mulai merasa nyaman dengan setiap sentuhan yang dilakukan Himcan. Hingga akhirnya tubuh yang sudah termat lemah itu, perlahan memejamkan mata dan tertidur.  Himchan menyadari itu saat Pipi putih Yoona mendarat pada tangan nya.


" Mengapa kau terlihat sangat manis? bahkan saat tertidur begini" Himcan tersenyum menatap Yoona.


Meskipun Yoona sudah terlelap Himchan tidak melepaskan tangan nya dari bahu Yoona.  Himchan masih saja tetap menahan kepala Yoona dengan sebelah tangan nya yang perlahan mulai sedikit kebas.  Hingga tak lama Mora datang dengan berteriak berulang kali memanggil nama Yoonahe, Namau tak ada Jawaban, Sampai akhirnya ia melihat Yoona sedang tertidur.


" Nona! ternyata kau disini" Ucap lantang Mora.


" Syuut" Himcan meletakkan telunjuk pada bibirnya, meminta Mora untuk tidak berisik dan membiar kan Yoona tidur sebentar.


" Maaf kan saya tuan. Namun nona sudah keluar sangat lama, maka ia harus segera kembali ke rumah" Ucap Mora memohon.


" Kalau begitu bantu aku" Himcan meminta Mora untuk mengantikan nya menahan kepala Yoona.


" Apa yang akan anda lakukan tuan" Lirih Mora.


Himchan mengibasas kan tangan nya yang sudah pegal itu, perlahan mengendong Yoona dengan Posisi kepala Yoona di dada bidang nya.


Mora yang melihat ini merasa terisipu dengan perlakuan romantis yang diberikan Himcan kepada Yoona.


Mereka kini memasuki rumah besar itu, dan dengan secara perlahan Himchan berusaha semaksimal mungkin agar Yoona tidak terbangun dari tidurnya.


"Mora. aku harus segera pergi, aku titipkan Yoona kepadamu" Tukas Himchan melangkah pergi kembali keistana. Meninggalkan Yoona yang masih tertidur lelap.


Hingga akhirnya Yoona terbangun.


Juga tidak terdengar suara seorang pun dari luar. Hanya keheningan malam yang benar-benar terasa, di penuhi banyak suara- suara jangkrik yang bersik, Rasanya ingin kembali terlelap tapi apalah daya saat cacing di perut manari ria meminta makan.


Yonna melangkah keluar, menatap arah bulan.


" Sepertinya ini belum terlalu malam, namun kepada pergi nya semua orang? dan dimana Mora juga? " Gumam nya yang merasa heran dengan malam yang benar-benar hening ini.


Karena rasa penasaran semakin dalam Yoona dengan sigap menuju ruang tengah di rumah itu, namun tetap saja tidak mendapatkan siapapun disana.


" Apa ini? kemana semua orang? Apa aku sedang bermimpi" Ia menampar pipinya dan menyadari bahwa ini bukan lah mimpi.


" Ouhh tidak ( Yooona memegang pipinya dengan dua tangan) Apa! Jangan- jangan aku sudah mati kali ini" Yoona terus saja memikirkan banyak hal yang aneh.


Hingga tiba-tiba suara seorang wanita datang mengagetkan nya.


" Nona aku sudah mencari mu sedari tadi" Ucap seorang pelayan dari rumah itu.


" Aissh kau mengagetkan ku saja"


" Ehh sebentar! Apakah kau bisa melihat ku"


" Tentu nona"


" lalu apakah kau melihat Mora? aku tidak melihat siapapun sedari tadi"


" Mora dan pelayan yang lain sedang berada diDesa nona"


" Mengapa mereka berada di sana" Tanya nya seraya berjalan menuruni tangga ruangan itu.


" Di desa sedang ada kekacauan nona,  jadi mereka meminta ku untuk menjaga mu untuk tetap berada dirumah" Jelas pelayan.


" Kekacauan!!" Yoona tercengang.


" Iya Nona. Banyak preman yang terus saja meminta uang dan makanan kepada warga dengan cara memasak”


"Dimana itu aku harus kesana. Bagaimana jika terjadi apa-apa kepada Mora dan yang lain nya"


" Anda tidak boleh kesana nona, Dayang jung melarang mu. Disana juga sangat berbahaya nona"


Yoona yang tidak peduli dengan itu langsung saja berlari menuju ke arah desa. melihat sekeliling semua rumah warga juga tampak sepi seperti tidak ada kehidupan di sana.


" Kemana perginya mereka semua" Gumam Yoona yang merasa takut sendirian.


***


" Itu.. masih ada satu warga lagi disana"


Ucap 2 orang pria berbaju hitam datang mengahampiri lalu mengikat tangan Yoona.


" Lepaskan, kalian akan membawa ku kemana" Gerutu Yoona.


" Heii nona cantik, bisakah kau untuk tatap diam" Hentak salah satu pria itu.


Seketika saja saat tangan pria itu mencengkeram lebih erat tangan Yoona, kepala Yoona kembali merasakan sakit yang luar biasa sama seperti saat kekuatan gadis ini akan segera menguasai tubuhnya.


Yoona yang merasa seperti itu langsung saja mengigit tangan pria itu dan berhasil lepas dari cengkeraman nya.


Namun karena rasa di kepalanya tidak tertahan kan lagi, serta tubuhnya sudah sangat melemas Yoona melangkah mundur, sedangkan 2 pria itu justru menertawakan nya.


" Kau gadis kecil Jangan coba bermain-main dengan kami"


" tolong lepaskan aku. Tolong bebaskan aku, dan biarkan aku hidup" Suara nya tidak terdengar begitu jelas. Karena dirinya tak kuasa menahan sakit kepala yang luar biasa ini, serta tubuhnya yang kini sudah berhenti bergerak karena sebuah batang pohon besar menahan nya dari belakang.