INDEPENDENT WOMAN

INDEPENDENT WOMAN
Mulai ada rasa.



Sementara Kinaya aya sibuk mencari kan baju untuk permaisuri, pangeran justru tidak jadi menemuinya karena takut identitas nya di ketahui Kinaya.


“Nyonya pakai baju ini saja, ini terlihat sangat bagus jika anda yang memakainya” Puji Kinaya.


Permaisuri mendekat, mengambil baju berwarna merah jambu yang di pilihan kan Kinaya , lalu menjejerkan di depan dada nya seraya sedikit berputar-putar di hadapan cermin.


“Pilihan nya lumayan bagus juga” Batin permaisuri, namun tatap saja ia.


“Baju apa yang kau pilihkan ini” Hentak Permaisuri melempar ke arah nya.


“Bukan kah, baju itu sangat cantik” Tanya Kinaya.


“ Cantik kamu bilang, dasar gadis kampung” Hentak kembali permaisuri.


Lalu tidak lama seorang kasim dari istana pangeran, datang membawa kabar.


“ Mohon maaf yang mulia, namun pangeran tidak dapat menghampiri anda, karena beliau harus menghindari sebuah pertemuan yang sangat penting” Jelas kasim.


Permaisuri semakin acuh, ia melampiaskan amarahnya kepada Kinaya, ia meminta Kinaya untuk keluar dari ruangan nya, karena tidak ingin Kinaya melihat wajah nya yang mulai malu, karena sedari tadi sudah sangat menyombongkan dirinya tentang pangeran akan menemui nya.


Kinaya lalu bergegas menuju pintu keluar istana, karena hari sudah mulai senja dan ia harus segera menemui pria yang tampan yang sudah membuat nya perlahan jatuh cinta.


Namun saat ia sedang berlari bahagia tiba-tiba saja, seorang meminta nya untuk berhenti.


“Berhenti” Suara pria yang sangat asing di telinga nya memberhentikan laju kaki nya, Kinaya membalikkan badannya ke arah suara itu.


“Dero, kenapa, ada apa?” Tanya kinaya sedikit tercengang, karena ia takut jika yang permaisuri meminta nya kembali ke ruangan nya.


“Mau kemana terburu-buru sekali” Tanya Dero.


“ Akan ku jelaskan nanti, aku pergi sekerang”  Kinaya melanjutkan langkahnya meningal kan Dero.


Dero, ingin sekali mengejar Kinaya, namun seseorang meminta nya untuk segera menemui ayah nya di ruangan nya.


****


Kinaya kini sudah berada di hutan, ia terlihat sangat bahagia dengan senyuman yang terus terpancar dari wajah nya.


Kinaya menelusuri jalan setapak menuju gubuk tua, yang suka ia singgahi.


Saat tiba di sana, Kinaya merasa sedih saat tidak melihat siapa-siapa disana.


“ memang aku yang terlalu bodoh, mana mungkin dia menemui ku” Hentak nya kecewa.


Kinaya lalu mencoba membalikkan tubuhnya, namun tiba-tiba saja, ia tidak sengaja menabrak dada bidang pria yang sedari tadi memang sudah berada di belakang nya.


“ Ah mengagetkan saja” Ucap Kinaya merasa lega.


“Dasar nona, bodoh tidak lihat dulu” Canda Pangeran menyentil kepala kinaya.


“Auuu” Kinaya mengelus kepala nya.


“maaf- maaf sakit kah?"


Namun Kinaya, yang merasa sedikit kesel ia berpura-pura kesakitan dan marah. Kinaya kini duduk di bangku kayu, dan terus saja mengusap -usap kepalanya yang tak sakit itu.


“Sini biar ku lihat” Pangeran kini berdiri tepat di hadapan Kinaya, perlahan menepi tangan Kinaya yang sedari tadi menutupi dahi nya. Pangeran meniup dan mengelus pelan dahi Kinaya.


Kinaya tiba-tiba merasa ini sangat canggung, Seorang pria tampan kini berada sangat dekat , memberi sentuhan -sentuhan lembut di wajah nya.


Suasana pun tiba-tiba hening sangat mata Kinaya dan mata pangeran beradu, mereka menatap begitu dalam hingga tidak ada satu pun yang berkutik.


Perlahan pangeran semakin dekat kepada wajah Kinaya, matanya sedari tadi menatap ke arah bibir manis milik Kinaya. Entah apa yang membuat nya tidak tahan, bibir nya sedikit lagi hampir mengecup bibir Kinaya. Kinaya tidak berkutik, ia terus saja menatap ke arah wajah Pria yang begitu tampan di depan nya.


Hingga tiba-tiba, Suara dentuman terdengar seekor kelinci melompat kearah mereka, memecah kan keheningan di antara mereka.


Pangeran langsung saja menjauh kan tubuh nya sementara itu Kinaya masih sedikit salah tingkah, gerakan jadi tidak menentu ia terus saja mengaruk kepalanya yang tak gatal itu.


“Apakah sudah tidak apa-apa” Pangeran membuka pembicaraan.


“Eehhh ti..dak”jawab Kinaya gugup.


“ Tapi jika di lihat lagi, kenapa muka mu memerah” canda pangeran mendekat kembali.


“Apa? Tidak- tidak Anda salah lihat” Jawab Kinaya yang langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangan.


Pangeran mendekat kembali, mengambil tangan Kinaya dan membuka wajahnya. Lagi- lagi pangeran menatap nya begitu lama, namun Kinaya langsung saja mendorong tubuh pangeran, lalu menunduk dan mengambil kelinci itu.


Kinya terus saja membelai lembut bulu kelinci itu, dan pangeran tidak berhenti menatap ke arahnya.


“Kenapa dia mentap ku terus, apakah dia Jatuh cinta pada ku? ahh tidak-tidak” Batin Kinaya.


“Kinaya, Nama yang aneh?” ucap pengeran.


“Aku tidak peduli”  sahut Kinaya.


“Ada yang ingin aku tanyakan” Ucap Kinaya.


“Tanyakan saja aku akan menjawab mu nona” Tegas pangeran.


“ Apakah kamu mengenal pangeran”?


Pertanyaan Kinaya, membuat pangeran Tercengang.


”Apakah aku sudah ketahuan” Satu pertanyaan yang tiba-tiba muncul di benak nya.


“ Kenapa kamu menayangkan dia” Tanya nya kepada Kinaya.


“ Aku hanya penasaran dengan gimana wajah aslinya, kenapa dia sangat misterius” pinta Kinaya.


“ Mungkin karena dia tidak ingin melihat mu, sudah lebih baik kita pergi melihat pemandangan yang indah ” pangeran mengalihkan pembicaraan dan menuju ke arah bawah.


“ Heii kenapa mengalihkan pembicaraan? katakan saja apakah kamu mengenal pangeran” Tukas Kinaya mengikuti langkah pria itu dari belakang.


“ Tidak aku tidak mengenalnya” Potong pangeran seraya mengerakkan tangan nya seolah tidak tahu.


Lagi dan lagi pangeran berhenti tiba-tiba, dan Kinaya kembali menabrak pundak pangeran.


“Awww” Desis nya.


“Kenapa kamu berjalan tidak melihat kedepan” pekik pangeran yang tangan nya kini hampir menyentil kembali kepala Kinaya, namun Kinaya sudah dengan sigap menahan tangannya.


“ Berhenti melakukan itu” Larang Kinaya.


Pangeran hanya diam dan patuh.


“Wahhh tempat apa ini, kenapa ada tempat sebagus ini di dunia novel” Gumam Kinaya.


“ Dunia novel” Tanya pangeran heran.


“Tidak, maksud ku dunia hutan” Jelas Kinaya.


" Kenapa aku bisa seceroboh ini" batin kinaya, yang kini menutup rapat-rapat mulut nya.


“ Aneh sekali dunia hutan” Gumam pangeran merasa heran dan sedikit megelengkan kepalanya.


Kinaya karena tidak ingin semakin terlihat aneh ia pun melangkah melewati pangeran dan melihat kearah depan, ia benar-benar merasa kagum dengan apa yang berada di depan nya kini. Sebuah sungai yang terbentang luas dengan di hiasi banyak dadaunan kering yang mulia berjatuhan. Suasana yang sangat asri dengan hening yang sangat jarang di temukan kinaya di kota, hanya beberapa suara burung kenari yang sedang bernyanyi terdengar.


“Wahhh benar- benar cantik sekali” Ujar kinaya, menatap danau yang indah.


“ Iya sangat cantik,”  Ucap pangeran yang sedari tadi menatap ke arah nya.


“ Boleh kah aku bermain air” Tanya Kinaya.


“ Ya lakukan saja sesuka mu”


Kinaya merasa sangat kegirangan ia bergegas mendekati danau nan indah itu, menyeka air dengan tangan nya dan perlahan menyiratkan ke arah pangeran.


“ Gadis yang sangat manis” pangeran tersenyum melihat tingkah Kinaya.


Namun tiba-tiba saat mereka sedang menikmati kebersamaan, waktu terasa begitu cepat berlalu, hari akan semakin gelap, pangeran meminta Kinaya untuk menyudahi bermain- main karena ia harus segera kembali ke istana.


“Lebih baik pulang bersama saja, hari sudah mulai gelap” Ujar pangeran.


“Tak apa, tak usah risau aku bisa kembali sendiri” Ucap Kinaya. Tiba-tiba saja, saat pangeran mulai meniup ibu jari yang di satukan dengan jari telunjuk dan mengahasilkan suara seperti peluit. Seekor kuda berwarna coklat muda datang dengan sigap menghampiri nya.


"Kita pergi naik kuda saja” Usul pangeran.


"Naik kuda?” Kinaya kaget, karena di dunia modern sudah jarang adanya kuda.


“ Cepat” Pungkas pangeran menarik tangan nya dan meminta nya untuk naik.


“Aku tidak yakin ini aman” Kinaya mulai gelisah saat ini, saat posisi nya kini berada di atas kuda dan seorang pria tampan di belakang nya, yang tangan nya sedari tadi melingkar di pinggang nya memegang erat kerah kuda.


“Tenang saja, dan tutup mata mu”  pangeran mengerakkan kuda nya, sedikit lebih kencang karena harus segera kembali ke istana.


Kinaya hanya terdiam dan patuh, hingga akhirnya mereka tiba di penghujung hutan memasuki desa.


“ Kita sudah sampai, buka mata mu” Lirih pangeran di telinga Kinaya.


“Hahh cepat sekali” Kinaya perlahan turun dengan memegang tangan pangeran yang sudah terlebih dahulu berada di bawah.


“ Langsung pulang, jangan kembali kehutanan, bagaimana jika tersesat lagi” Ucap pangeran.


“ Maksud kamu Tersesat” t,anya kinaya merasa heran.


“ Aku harus segera pergi” pengeran membalikkan kudanya beranjak mulai menjauh dari hadapan Kinaya.


Sementara Kinaya masih Sedikit penasaran kenapa mengetahui tentang ia tersesat.