
"Apa ini? ini semua pasti ingin yang dimiliki gadis ini" Gumamnya seraya perlahan duduk sebentar di bawah pohon besar.
Kinaya terlihat sangat lemas setelah pertarungan hebat yang di lakukan nya baru saja. Tubuhnya seperti tubuh bertulang, keringat nya kini menjadi dingin, wajah nya perlahan mulai memucat. Ia lalu meraba kerang yang di bawa nya tadi berusaha mengapai botol yang berisi air, dengan sigap langsung meminum air itu.
"Hufff" perlahan menarik nafas dalam-dalam dan lalu menghembus nya pelan.
Melihat sekeliling, sepertinya malam akan semakin larut Kinaya berusaha bangkit dan memakai kembali penutup wajah nya itu.
Kembali melangkah kan kaki menuju ke sebuah desa di ujung jalan.
"Tok"
"Tok"
Kinaya mengetuk setiap pintu di desa dan membagikan makanan keseluruh rumah yang berada di sana.
Semua mata kagum melihat seorang gadis datang membawa kan makanan untuk mereka yang memang sedang sangat kelaparan.
" Nona bagaimana kami berterima kasih kepada mu"Tanya mereka.
"Kalian hanya cukup merahasiakan tentang ku dari keluarga kerajaan, mengerti."Tukas Kinaya yang kini perlahan berlari masuk kembali kedalam hutan dengan membawa sebuah lampion yang di berikan warga kepadanya.
Kinaya bergegas ia berlari sangat kencang, menerobos masuk kedalam istana Lewat jalan rahasia yang di beri tahu Mora.
Hingga akhirnya kini, yonnahe sudah kembali berada di istana.
" Aduhh" Lirih nya yang baru saja loncat dari gerbang istana.
"Heii!! siapa disana" Suara prajurit terdengar melangkah ke arah nya.
Yonna kebingungan, ia hanya modar mandir ke kiri atau kekanan.
" Ahh ini tidak benar" Ia berlari ke arah kanan.
" Mampus" Ucap nya saat melihat 2 orang prajurit melaju ke arah nya.
Yonnahe sudah salah jalan. Hingga akhirnya tiba-tiba saja! seseorang menarik tangan nya.
***
Kini, Yonnahe sudah berada di sebalik tembok besar di belakang nya dan seorang pria tampan bertubuh kekar di hadapan nya.
" Himchan" Lirihnya.
Namun Himacan justru menutup mulut Yoonahe dengan kedua tangan nya. meminta nya untuk tetap tenang.
Jantung kinaya berdegup kencang, saat matanya dan mata pria itu saling menatap.
Jarak di antara kedua nya beberapa senti meter saja, sehingga hanya suara nafas mereka yang terdengar saat ini.
Yonnahe benar-benar tidak kuasa mentap mata pria tampan ini, ia berusaha melangkah pergi. Namun sialnya, Kinaya tidak sengaja menginjak ranting pohon di bawah nya.
Sehingga membuat kedua prajurit yang sedang mencari nya mendengar suara itu.
Himchan, dengan sigap mengapai kembali tangan Yoona, dan membawanya bersembunyi di sebuah ruangan gelap.
" Kita aman disini" Lirih Himacan pelan.
dan Kinaya hanya mengangguk.
Mereka kini duduk di bawah dengan alas dari karung seadanya yang ada di sana.
Tiba-tiba saja seorang menutup pintu nya dari luar.
Himchan berdiri dan berusaha membuka pintu itu dengan menggoyang-goyang kan pemegang pintu itu, namun ia tidak kuasa. Karena pintu ini sangat besar dan dibuat dengan kayu yang berkualitas tinggi.
" Cihh" Himchan mengakat rambut dengan tangan nya, ia kebingungan saat ini mereka benar-benar terjebak di dalam ruangan penyimpanan makanan.
" Tuan bagaimana ini" Lirih Yonnahe pelan kepada nya.
Himchan perlahan meraba kesekitar, mencari sekelar untuk menyala kan lampu.
" Tempat apa ini" Tanya Yonnahe yang merasa kaget melihat begitu banyak bahan makan dan obat-obatan yang sangat banyak ini.
" Ini salah satu tempat penting dalam istana, tidak banyak yang tahu tentang tempat ini" Jelas Himchan yang berjalan mendekati Yonna yang sedang terlihat kagum melihat semua ini.
"Sebenarnya dari mana kau malam-malam begini" Tanya penasaran Himcan.
"kenapa?"
" Bagaimana cara agar kita bisa keluar dari sini" Kinaya mengalih kan pembicaraan karena tidak ingin mengatakan jika dia baru saja dari luar istana.
" Kita akan keluar dari sini besok pagi, jadi tunggu saja hingga pagi"Ujar Himcan.
"Apa! pagi."Kinaya tercengang.
****
" Hello,,, apa ada orang di luar"
"Ada orang di dalam"
Kinaya berusaha meminta bantuan dari luar.
" Teriak lebih keras lagi, dan kau akan langsung mendapat hukuman, karena keluar dari kamar mu selarut ini" Ucap Himchan.
" Dan kau, aku juga sama keluar kamar, larut malam begini"Tunjuk yonnahe ke hadapan Himchan.
" Aku! aku pangeran, siapa yang berani menghukum ku" jelas Himcan kepada Yonna.
Yoona kini tidak berkutik, ia hanya duduk di pojokan berharap malam untuk segera berlalu, dan esok pagi seseorang akan membuka kan pintu untuk mereka.
Yonnahe, terus saja menglus bahu nya dengan kedua tangan nya, menahan rasa dingin yang menembus kain tipis yang di pakai nya.
Himchan perlahan mendekati Yoona, duduk di hadapan nya dan meraih tangan nya, lalu secara perlahan mengosok - gosokan kedua tangan Yoona, sesekali ia juga meniup nya.
Kinaya merasa nyaman dengan setiap tiupan yang diberikan Himchan.
" Apa ini, kenapa aku selalu bersikap seperti ini saat sedang bersama nya" Batin Kinaya.
"Kau tenang saja, aku ada disini untuk mu" Ujar Himacan mengelus pelan pucuk kepala Yoona.
Yonnahe tersipu, wajah nya mulai memerah dan melepaskan tangan nya dari pengangan Himchan sedari tadi.
" Tidak. aku tidak boleh seperti ini. Pria ini, suami dari jung. Aku tidak boleh luluh karena nya" Batin Kinaya menyadar kan diri sendiri.
******
Malam sudah semakin larut, dan Yonnahe kini sudah tertidur pulas du atas bahu Himchan.
Himchan yang tidak bisa tertidur terus saja menatap begitu dalam ke wajah cantik milik gadis yang memang sudah ia cintai sedari dulu.
" Saat tidur saja terlihat sangat cantik" Ucap Himchan, yang tanpa sadar tersenyum lebar.
******
Hari kini sudah berganti pagi, cahaya mentari mulai masuk kesela bagunan itu.
Himchan terbangun dari tidurnya dengan kapala nya di atas kepala yonnahe.
" Kenapa aku bisa tertidur" Batin nya merasa heran.
" mmmm tuan" Kinaya terbangun dengan kepala yang sedikit pusing.
" Kau sudah bangun, cepat kita keluar. aku mendengar seseorang membuka kunci pintu dari luar" Jelas nya bergegas bangun menarik tangan Yonnahe.
Mereka akhirnya bisa keluar dari ruangan itu tanpa terlihat siapapun.
Yonnahe kembali ke kamar nya, tampak di luar kamar Nona Jung terus saja mengedor-gedor pintu kayu kamar Yonnahe.
Tentu saja, pintu itu tidak akan terbuka karena yang berbeda di dalam adalah Mora dengan wajah yang sangat ketakutan saat ini.
"Eoniii" Panggil Yonnahe melangkah kehadapan Jung.
"Kau!! dari mana kau pagi-pagi buta sudah berada di luar kamar" Tanya Jung menyentuh lembut bahu Yoona.
" Aku sedang menghirup udara pagi, Eoni" jawab Yoona berbohong.
" Apakah kau melihat Tuan ku Himchan?" Tanya Jung.
"Aaaa,, tuan Himchan. Tidak Euoni , aku tidak melihat nya" Kinaya terpaksa berbohong lagi karena tidak ingin Jung curiga kepada nya.