INDEPENDENT WOMAN

INDEPENDENT WOMAN
Aku bisa gila.



Malam sudah semakin larut perlahan kinaya mulai memakan makanan yang dibawakan Mora.


" Nona, apakah kau tidak apa-apa" Tanya Mora.


"Mora, Apakah tuan Himchan sudah lama menikah dengan Nona Jung"Tanya nya penasaran.


" Maksud anda?" Tanya mora Tercengang.


" Ahh tidak Mora, aku hanya sedikit penasaran. Kau tau kan aku belum sepenuhnya mendapatkan ingatanku "Ucap Kinaya memegang kepala bagian belakang nya.


Mora mengerti maksud Yonna. Ia lalu menceritakan sedikit tentang pernikahan Himchan dan istrinya Nona Jung.


"Pangeran Himacan sudah lumayan lama menikah, namun ia belum di karuniai seorang anak, Karena yang mulia Nona Jung, memiliki penyakit yang sudah lama di deritanya. Jadi kemungkinan untuk hamil dan punya anak itu susah. Tapi meskipun begitu tuan Himchan selalu menyangi istrinya dan selalu berada di sisi nona jung"  cerita Mora.


" Ouhhh jadi begitu" Kinaya datar.


" Maaf Nona, apakah aku terlalu banyak berbicara " Ucap Mora.


"tidak apa-apa Mora, dan sekarang kau sudah boleh pergi, dan aku akan beristirahat " Perintah nya kepada Mora.


Mora meninggalkan ruangan milik Nona nya itu. Namun sesekali ia membalikkan wajah nya dan menatap ke arah pintu kamar itu.


" Nona Yonnahe  yang malang, sebelumnya kau hampir mati di hutan rimba itu dan sekarang kau harus menghabiskan seumur hidup mu menjadi selir istana." Gumam Mora yang merasa kasihan kepada nasib Nona Yonna nya.


*****


Hari sudah berganti.


Hari ini tepat tanggal 15. Dan nanti malam adalah malam bulan purnama. Malam pertama permaisuri dan yang mulia tapat pada nanti malam.


Permaisuri kini sedang menikmati pemandangan indah di atas jembatan melihat luas pemandangan sungai yang mengalir tenang di bawah nya.


Kinaya pun sama ia sedang berjalan- jalan mengelilingi halaman yang luas itu, di temani Mora yang senantiasa di samping nya.


Langkah Kinaya terhenti, saat melihat permaisuri sedang tersenyum bahagia.


" Apalagi yang akan di lakukan gadis ular itu. Mengapa dia terlihat sangat bahagia. Sepertinya dia sudah menemukan pelayan lain yang di jadikan mainannya" Batin Kinaya yang sedari tadi menatap ke arah permaisuri.


" Nona!"


Panggil Mora menyadarkan nya dari lamunannya tentang permaisuri.


" Dia,, adalah permaisuri Alura. Istri pertama dari Yangmulia raja" jelas Mora seraya menunjuk dengan ibu jari nya ke arah permaisuri.


"Ouhh ternyata permaisuri pantesan sangat cantik" Ucap Kinaya seolah tidak tahu kalau itu Permaisuri.


***


Sayang sekali Permaisuri Alura, Gadis yang sangat cantik dengan nama yang bagus namun Sikap nya tidak sesuai dengan wajah nya.


ALURA, Putri dari kerjaan Zhepyre yang sudah dari kecil lahir dari keluarga bangsawan. Bahkan menjadi putri tercantik di area kerjaan nya.   Ya mungkin karena anak Raja, mana mungkin orang bilang jelek.


Namun, karena sudah di berkati dengan wajah dan harta yang melimpah, membuat Alura semena-mena terhadap orang lain.


Apalagi cuma sebatas pelayanan rendahan.


***


Kinaya lalu membalikkan badannya karena tidak ingin permaisuri itu melihat kearah nya, namun ia justru melihat Dero.


Dero melaju cepat ke arah nya. Kinaya dengan sigap langsung memutar balikkan tubuhnya sebelum Dero melihat nya.


" Kenapa anda menghindar nyonya, apakah anda mengenal nya" Tanya Mora yang merasa ada yang aneh.


" Ahh tidak. bagaimana orang sepertiku mengenai soseorang prajurit seperti nya" Ujar nya sambil berusaha menutupi wajahnya dengan tangannya.


" Prajurit" Mora tercengang.


" hmm"


" Nona, dia adalah tuan Dero. Sepepu dari sang raja, dia bukan lah orang biasa" Jelas Mora.


"Apalagi ini? Apakah aku membohongi ku tentang status nya dari pertama juga aku sudah menduga . mana mungkin pria tampan seperti nya hanya sebatas prajurit" Batin Kinaya yang kembali berjalan dengan Posisi muka menduduk kebawah.


Kinaya tercengang, saat mengetahui yang ia tabrak adalah dada dari Himchan. Langsung saja ia kembali menunduk kan kepalanya.


" Kenapa" tanya Himcan yang kini mengangkat dagu Kinaya dengan jari nya.


" Adu, duduh. Mora ini sakit sekali" Desis Kinaya. Mora merasa heran, kenapa sakit nya baru terasa sekarang, bukan sedari tadi.


" Anda yang menabrak ku Nona" Canda Himchan dengan senyuman manis khas-nya. yang perlahan mulai mendekat kan wajah nya kewajah Yoonahe.


" Aaaa aku tidak peduli" Ucap Kinaya merasa malu. perlahan meranjak pergi.


" Nona, Kita salah arah" Ucap Mora sambil menahan tawanya.


sama halnya dengan Mora. Himchan perlahan juga menahan tawa melihat tingkah aneh dari Yonnahe ini.


Kinaya melangkah pergi menahan rasa malunya.


" kenapa aku jadi sebodoh ini" Ucapnya menepuk pelan dahinya, sementara Mora masih saja menahan tawanya.


" Apa.. kau Mora, kau ingin tertawa, ketawa saja" Cetus nya dengan melipat kedua tangannya.


" Ampun Nona aku tidak akan tertawa" Ucap Mora menutupi mulut nya dengan sebelah tangan nya.


Kinaya semakin kesal, ia ingin Mora pergi dan meninggalkan nya sendiri.


Ia lalu kembali menyusuri istana itu. Namun Tampak dari ujung pelayan kal sedang melaju ke arah nya.


Kal, matanya kini sudah mengarah ke Kinaya.


Namun dengan sigap seseorang menarik tangan nya dan menutup mulutnya dengan tangan nya.


Seorang pria yang tidak asing, Pria berparas tampan mengunakan baju khas istana.


Mereka kini, bersembunyi di sebalik sebuah bangunan Paviliun.


Pria itu, matanya menatap kearah depan.


Sementara Kinaya, mata nya menatap ke arah wajah tampan yang kini berada dihadapannya.


" Wajahnya, wanginya, matanya, dan bibir nya tampak sempurna" Batin Kinaya yang perlahan menahan salilvana nya.


"Heii" Ucap pria itu menyadarkan kinaya.


"Ehhh" Kenapa kau bisa berada disini?"tanya kinaya.


"Bukan kah seharusnya aku yang bertanya" Jawab datar pria itu.


Pria itu adalah yang mulia Raja yang sedang berpenampilan biasa.


Sedangkan kinaya, hanya mengena nya sebagai nama Rio, dan mengira pria itu hanya


seorang cendikiawan istana.


" Dan, kau kenapa kau mengunakan pakaian seperti ini" Tanya Raja yang merasa aneh, kenapa seorang pelayan bisa memakai pakaian mewah seperti ini.


" Ceritanya Panjang, aku akan menceritakan nya nanti. Tapi, bisa kah kau merahasiakan keberadaan ku di istana" Mohon Kinaya.


" Kenapa? " Tanya yang mulia.


" Dan satu lagi, jangan panggil aku Kinaya" Ucap Kinaya, bergegas pergi dari hadapan pria itu Seraya mengucapkan terimakasih di sela larian nya.


"Kenapa dia aneh sekali. Ahh biarkan saja, Yang penting aku sudah memastikan dia baik-baik saja. Lalu, apakah Dero sudah mengetahui keberadaan nya di istana dan kenapa dia meminta ku merahasiakan keberadaan nya di istana" Pertanyaan beruntun tiba-tiba muncul dari benak nya.


Tapi, tidak lama Dero memangil nya.


****


Sedangkan di sisi lain, Kinaya terus saja melangkah Secara hati- hati dan berhasil masuk kedalam kamar nya.


" Aku tidak bisa hidup begini, aku tidak mungkin bisa menghidar terus. Tapi bagaimana ini? satu hari saja sudah hampir mati, karena bertemu orang-orang itu. aishhh semua ini membuat ku gila" Kinaya mulai mengacak- acak rambutnya.