INDEPENDENT WOMAN

INDEPENDENT WOMAN
Lanjutan.



Akhirnya matahari pun keluar dari persembunyiannya, pagi itu lebih dingin dari hari biasanya. Sepertinya suhu udara dan matahari  pun ingin mendinginkan kamar mereka akibat hawa panas yang menyergap sejak tadi malam.


Kali ini Yoona lah yang mendapatkan juara bangun pagi . la segera tersadar dari rasa kantuknya melihat baju dari kain nya tak tertutup dengan benar.


"Ukh?" Kinaya berusaha mengingat kejadian semalam dengan keras.


"Hah!" pekiknya sendiri setelah menyadari perbuatannya semalam.


la menggeleng gelengkan kepalanya tak percaya dengan dirinya sendiri setelah melihat tubuh pria di sampingnya yang penuh dengan tanda kepemilikan akibat gigitannya semalam.


"Yaampun, ak- aku melakukan ini" gumamnya tak percaya sembari menatap Ryo yang masih tertidur lelap dengan wajah yang terlihat begitu lelah.


Tentu saja ini bukan salahku, Dia tidak bisa menahan nya.


pikir Kinaya seraya mengelus dadanya sendiri untuk menenangkan diri. Ini adalah kali pertamanya di sentuh seorang pria, Walau ia adalah anak seorang bangsawan, ia sama sekali tidak kurang moral. Masih ada rasa bersalah dalam hati nuraninya itu.


Kinaya segera berjalan meninggalkan ruangan itu.


__________


"Em?" Yangmulia membuka matanya perlahan sembari menoleh mencari Kinaya, ia bingung menyadari Kinaya tak ada di sampingnya.


"Sejak kapan dia bangun?." Satu pertanyaan yang seketika terlintas.


Hingga lalu akhirnya perlahan.


Yangmulia memasuki kolam air panasnya sembari mengingat kembali kejadian tadi malam.


Sesekali ia tersenyum saat ekspresi misterius.  Yangmulia kemarin kembali membayanginya.


___________


Kini Yangmulia sedang mencari Kinaya di seluruh sudut istana, berharap bisa menemukan nya dan memberi tahu bahwa dia adalah Yangmulia yang sebenernya. Serta akan bertanggung jawab atas apa yang sudah di lakukan nya terhadap Kinaya semalam.


Namun, ia tidak menemukan Kinaya di sudut manapun, dan akhirnya justru bertemu dengan  Dero.


" Kau, sedang apa kau disini" Tanya Yangmulia kepada Dero.


" Seharusnya aku yang bertanya?. Mengapa kau berada di istana wanita? Apakah kau sudah tidak tahan untuk bermalam dengan para Selir mu itu. Hayoo lah kawan bersabar lah sebentar" Canda Dero.


" Huss" Kau jangan asal bicara!  Mau ku hukum mati, atau ku hukum gantung" Balas Yangmulia dengan nada kesal.


" Whoohoho, Slaw bro" Tukas Dero yang berjalan mundur menjauhi Yangmulia yang sedang tampak sangat emosi itu.


********


Sementara itu Kinaya , sedang berada didalam kamarnya, mengurung diri dan tidak ingin bertemu siapapun. Bahkan ia tidak ingin menyantap makanan nya.


"Mengapa bisa begitu?"


Yonnahe, baru saja membaca selembar kertas berwarna coklat muda, kertas surat jaman istana dulu.


Tidak hanya Yoona yang menerima surat itu. Namun semua Selir lainnya juga menerima nya.


Sebenarnya tidak ada isi yang begitu serius dengan Surat itu. Hanya saja, ada satu bait yang menuliskan.


[Jika, seorang selir sudah berbohong dengan keperawanan nya, maka hukuman mati akan menantinya].


Kinaya sebenarnya tidak terlalu peduli dengan baik itu, hanya saya jika mengingat kembali apa yang sudah ia perbuat dengan pria itu, maka secara ilmiah nya Kinaya sudah tidak perawan lagi.


"Bagiamana ini? Apakah aku harus meminta pertanggung jawaban  Ryo? bagaimana jika dia menolak nya?. Ahh tidak, tidak.


Atau aku pergi menghadap yang mulia saja, dan memberi tahu bahwa aku sudah tidak perawan. Ahh,,, apalagi itu, jelas sama saja aku mengantar nyawa ku"


" Agrrrr" Pekik Kinaya hingga terdengar keluar kamar.


" Nona, apakah kau baik-baik saja" Tanya Mora dari luar dengan penuh khawatir. Hingga tidak lama Tuan Himchan, yang memang sedang ingin bertemu Yonnahe dengan cepat mengahampiri Mora.


" Apa yang terjadi" Tanyanya khawatir.


Himchan yang khawatir berusaha mengedor- gedor pintu kayu kamar yonnahe. sesekali berteriak meminta nya untuk membuka kan pintu.


" Yonna, apa kau mendengar kan ku"


Tidak ada jawaban apapun dari dalam sana. suana hanya diam tak berkutik.


Rasa kekhawatiran Himchan kepada yonna semakin dalam. Ia takut jika Yonnahe melakukan hal yang berbahaya.


**


Himchan. kini tubuh nya sudah siap untuk mendobrak pintu besar itu, dengan sekuat tenaga.


Sekali hentakan tubuh Himchan tidak dapat langsung membuat pintu itu.


Himchan lalu akan melakukan hentakan yang kedua, kali ini sepertinya akan mengunakan kaki.


Namun, tiba-tiba saja suara terdengar dari balik sana. Suara Yonnahe meminta nya untuk berhenti.


"Berhenti melakukan itu. atau kalian tidak akan bertemu dengan ku lagi. Aku baik-baik saja di dalam, tolong beri aku waktu untuk


Sendiri" Ucapan yonna, terdengar jelas.


Himchan tidak berhenti disitu, ia terus saja berusaha agar Yonna mau membukan pintu.


Kali ini Himchan berusaha melalui jalur istrinya Jung.


***


Jung yang mendengar perkataan Himacan tentang Yonnahe. Gelisah tak menentu, karena jung tahu , jika keponakan nya Yonnahe sering kali mengurung dirinya di kamar dan melakukan hal yang di luar kendali.


" Gadis bodoh itu, apa yang akan di lakukan nya sekarang. Tuan ku bisa kah kau membuka pintu itu" mohon Jung kepada Himchan.


" Aku sudah mencoba melakukan nya, namun ia justru mengancam. Sekarang hanya kau yang bisa membantu nya" Ujar Himcan.


*****


Yonnahe sedang melamun dengan pikiran yg kacau di ruang kamar nya.


"Nona, Nona Jung ingin mengunjungi mu" ucap Mora dari luar kamar.


"Ck. suruh nona masuk" jawab nya dengan nada datar.


" Yoona lihat ini!,aku membuatkan kue kering untuk mu. Kue ini lucu bukan? Kue ini berbentuk inisial dari nama kita berdua" Ujar Jung berusaha menghibur.


Yonnahe langsung saja menatap ka arah Euoni nya itu.


Dan secara perlahan meneteskan air mata, yang sedari tadi sudah terbendung di sudut matanya.


" Heii, mengapa kau menangis" Tanya Jung yang sedang berusaha mengusap air mata keponakan nya itu.


" Eouni, bagaimana jika kau melakukan kesalahan" Tanya nya , secara perlahan menaikan wajah nya yang sedari tadi tunduk kebawah.


" kamu pasti akan di ampuni, sudah tidak perlu menangis."


"kau tahu? tumpukan batu di sudut istana, tempat suci bagi seorang ibu meminta ampun atas kesalahan anaknya, Namun aku yang tidak punya anak juga memiliki satu


Itu ku buat, untuk meminta ampun semua kesalahan yang pernah kau buat.


Jadi sudah lah, tak usah menangis lagi" Ujar jung, yang kini memegang pipi Yonnahe dengan kedua tangan nya.


" Mengapa kau melakukan itu?" Tanya Kinaya penasaran.


" 5 tahun yang lalu, saat ibu sudah meninggal, aku membawa mu bersama ku. Dan kau sudah tumbuh dewasa Hinga saat ini.


Setiap, kau melakukan kesalahan. aku akan berdoa untuk mu. Karena kau sudah ku anggap seperti anak ku" Ucap Jung yang perlahan menetes kan air matanya.


Isak mereka pecah, Yonnahe kini tubuh nya memeluk dengan erat wanita yang di depan nya ini.