INDEPENDENT WOMAN

INDEPENDENT WOMAN
Keluar dari istana



" Kenapa kau ingin keluar dari istana"


" Aku hanya ingin menikmati seperti orang biasa"


"Maksud mu rakyat biasa?"


" Eumm"Yoona hanya mengangguk.


" Tapi kau sendiri tahu! Aku seorang Raja! Bukan hal mudah untuk ku keluar dari istana "


" Aku punya ide?"


" Ide maksudnya?" Yangmulia hanya mematung menatap kearah Yoona.


" Kemari lah" Pinta Yoona yang meminta Yangmulia untuk lebih dekat kepada nya.


" Yoona lalu meraih tengkuk Yangmulia, dan dengan sigap membisik kan sesuatu padanya"


Dan Yangmulia hanya bisa tersenyum mendengar ucapan dari Yoona.


" kenapa kau tersenyum?"


" Ahhh ituu! Kenapa Istri ku jadi begitu pintar seperti ini" ledek Yangmulia.


"Apa kau mengerti apa yang ku maksud?" Tanya Yoona memastikan.


Yangmulia hanya diam dan sejenak berfikir.


" Tuan ku katakan!" Rengek Yoona dengan menarik -narik baju Yangmulia. Yangmulia lalu menarik tengkuk Yoona dan kembali mencium bibir ranum milik istrinya.


" Baik! Kita akan melakukan nya besok jadi istirahat lah" Pinta Yangmulia yang menyetujui permintaan Istri nya Yoona.


*


*


*


*


Yoona menggeliat dan membuka matanya dengan enggan. Mendekati pagi, dia malah merasa nyaman menyusup dalam selimut tebalnya yang hangat.


" Nona Apakah anda susah sadar" Tanya Mora yang sudah mengetahui bahwa Nyonya Yoona yang hanya berpura-pura memainkan perannya.


#Flasback


Ya! Yoona dan Mora merencanakan sesuatu sebelum perjamuan makan malam itu terjadi, Yoona sudah membaca sekilas dari buku novel itu. Tentang Permaisuri Alura yang akan memberikan nya racun.


Dirinya dengan sigap langsung mengutus Mora untuk mencari keberadaan pendeta Gyorge, sebelum Alura menemui nya terlebih dahulu.


*


*


"nyonya. Tandu yang dikirim kasim Kim sudah tiba" Mora menggoyang sedikit lengan majikannya itu, karena dilihatnya mata sang nyonya hendak terpejam kembali.


Sejenak kepala Yoona yang terasa berat menjadi seringan kapas, dengan cepat di sibaknya selimut yang membungkus badannya dan duduk dengan wajah kesal.


"Apakah harus sepagi ini?" gumam Yoona dengan mata yang memicing dengan serius. Lalu mengucak kedua matanya, memaksa mata indah itu terbuka dengan sempurna.


Yoona merapikan rambut panjangnya yang berantakan, wajah mulus itu merona dalam raut masam.


Dia sangat bersejarah untuk pergi kemana saja dengan Yang Mulia, malah dia lebih takut jika Yang Mulia mengurungnya dalam kamar, hanya berdua saja dengan Alura yang menurut Yoona, kadang berperangai aneh dan tidak mampu mengendalikan dirinya sendiri itu.


Yang membuatnya resah adalah nasib Mora. Gadis baik ini pastilah menangi, Karena kali ini ia tidak akan ikut serta.


*


*


*


SEMENTARA Yoona pergi meninggalkan istana yang ditemani oleh Kasim Jung. Yangmulia diistana sedang memberi tahu kepada seluruh penghuni istana. Bahwa akan pergi untuk menemani selir Yoon yang sedang sekarat.


Benarsaja, mendengar ucapan itu keluar dari mulut Yangmulia, membuat Alura membolakan mata sempurna, bahkan dirinya sekarang tersenyum licik, mengetahui semua rencana berjalan dengan lancar.


" Anna Kau tahu akhirnya yang dikatakan oleh pendeta itu terjadi"


" yang mana nona" Tanya Anna dengan sedikit mencoba mengingat.


" Tentang tragedi Selir Yoon akan meninggal diluar istana"


" Benarkah itu terjadi?" Tanya Anna yang sejenak berfikir kenapa bisa terjadi dalam waktu yang sangat cepat.


@@@@


Di pintu gerbang kota itu telah berdiri Kasim kim, menunggu.


Dia berbicara sebentar dengan seorang dari penjaga pintu gerbang kemudian mengatakan beberapa hal kepada para pengawal Joen menjemput


*


*


Hingga Tidak berapa lama, mereka tiba di tengah pemukiman kota yang mulai ramai oleh orang-orang yang berlalu lalang. Kota Yuzei memang selalu ramai dan begitu hidup meskipun di pagi hari seperti ini.


Senyum Yoona merekah, betapa menyenangkan menghirup udara kota yang begitu segar dan nyaman ini.


Pengawal di depan memberi isyarat untuk berhenti di depan sebuah kedai makan, yang sepertinya baru saja buka.


"Nyonya, kita akan sarapan pagi di sini, sebelum melanjutkan perjalanan" Kata Pengawal joen sambil menganggukkan kepalanya dengan penuh hormat.


Yoona menyambut ide itu dengan wajah riang, telah lama dia tidak merasakan masakan di luar istana, tentulah pasti lebih enak dan kaya cita rasa dibanding dengan makanan yang di sajikan oleh dapur istana.


Pengawal jeon membawa Yoona Masuk ke dalam kedai. Baru saja melangkah melewati pintu, seseorang telah menarik tangannya membuat tubuhnya melayang dan hampir terjengkang.


Tangan kekar itu dengan sigap memeluk pinggangnya.


"Ternyata tubuhmu lebih ringan dari kapas, seharusnya seorang selir tidak sekurus ini..."


Yoona terpekik kecil, kemudian tertegun dengan raut yang panik sementara kaki kirinya masih melayang di udara karena keseimbangannya yang tidak stabil.


Bola mata Yoona hampir tidak berkedip ketika wajah mereka bertemu hampir tak berjarak.


"Yang Mulia..." Suara Yoona seolah tercekat di kerongkongannya. Terkejut sekaligus terpana,


meskipun Yang Mulia dalam kostum seburuk apapun selama Yoona melihat bola mata coklat kehitaman itu, dia akan selalu mengenali Yang Mulia dalam berbagai rupa.


"Yoona..."Yang Mulia mendorong tubuh ramping Yoona perlahan, memastikan gadis itu berdiri tegak dengan aman.


"Ampuni hamba Yang Mulia..."Yoona menekuk kakinya, memberikan sikap resmi di depan Yang Mulia Keizen.


Yang Mulia Keizen mengenakan jubah sederhana seperti seorang pedagang pinggir jalan. Tetapi baju jelek itu tidak bisa menyembunyikan aura ketampanan Yang Mulia.


Yang Mulia Kizen terdengar batuk kecil dengan kepala yang mengawasi sekeliling seperti waspada padahal di dalam ruangan itu masih sangat sepi hanya dia dan yang Mulia dan beberapa pengawal Yang Mulia dalam pakaian orang biasa serta meja kursi makan yang tanpa penghuni sedang dibersihkan oleh seorang pelayan yang acuh saja dengan kehadiran mereka berdua.


Hari masih terlalu pagi, untuk kedatangan


Pemilik kedai dan para pelayannya masih sibuk menyiapkan kedai itu untuk kedatangan para pengunjung dan pelanggan mereka.


Jari telunjuk Yang Mulia menempel di bibirnya yang cokelat muda berkilat, mengisyaratkan bahwa Yoona tak perlu bersuara lagi.


"Kemari, ikuti aku..." Yang Mulia menarik pergelangan tangan gadis itu dengan terburu-buru. Menaiki tangga ke lantai atas kedai itu. Masuk kedalam sebuah ruangan, yang di sana telah tersedia sebuah meja besar dan makanan yang tersaji dalam keadaan masih mengepulkan asap tipis pertanda baru saja disiapkan.


Di ruangan itu juga sudah ada pengawal Joen yang berdiri seperti arca di sudut ruangan, mengawasi meja makanan itu dengan seksama dalam balutan pakaian orang biasa kebanyakan.


Yang Mulia menoleh kepada Joen, matanya dipicingkan sedikit, seolah bisa membaca maksud Yang Mulia, pengawal setianya itu mengangguk.


"Semua sudah dipastikan aman Yang Mulia, silahkan menikmati makan pagi Yang Mulia bersama selir Yoon." pengawal Jeon beranjak dari tempatnya berdiri.


"Saya akan berada di luar pintu Yang Mulia" pengawal Jeon pamit keluar.


Yang Mulia Keizen mengangguk saja sementara tangannya masih mencengkeram pergelangan tangan Yoona.