
Happy reading....
Meskipun sahabatnya beberapa kali mengucapkan satu hal, yang membuat Reno sedikit ragu atas niatnya. Tapi Reno tetap bertekad mewujudkan niatnya untuk menikahi Tasya.
Malam mulai larut, bis berhenti sejenak untuk istirahat. hal ini di gunakan Reno untuk mencari makanan pengganjal perutnya.
Beberapa jam lagi dia sudah tiba di rumah, jadi dia hanya memesan teh hangat untuk menghangatkan tubuhnya, yang terpapar hawa AC semalaman.
Hingga beberapa menit kemudian bis melaju ke tujuan selanjutnya, yaitu desa tempat dimana Reno tinggal.
Bus yang akan ditumpangi Reno tiba di tempat tujuan, Reno segera turun dan melangkah menuju masjid yang berada di sebrang jalan.
Adzan subuh berkumandang, Reno memutuskan untuk sholat terlebih dahulu dan melanjutkan perjalannya. Dia masih harus menaiki angkot dan di lanjut dengan ojek untuk menuju desanya.
Karena memang ini kejutan, jadi Reno tidak mengabari orang rumah. Beberapa hari ini ayah ibunya juga tidak menelpon. Entah tumben sekali, biasanya mereka akan memberi kabar kepada Reno tiap jam.
Sebenarnya Reno merasa ada keganjalan, mulai dari perubahan kedua orangtuanya sampai Juna yang sangat khawatir saat tau dirinya pergi ke desa.
Lagi-lagi Reno berusaha positif thinking, dan tak mau memikirkan hal yang tidak penting. Dia pulang ke desa dengan niat baik dan pasti akan berbalik kebaikan padanya.
Singkat cerita sampailah Reno di kampung halamannya, setelah melewati perjalanan cukup jauh. Reno menghela nafas panjang dan menatap keindahan desa masa kecilnya. Desa ini masih sama, asri dengan pemandangan yang mayoritas persawahan. Membuat udara paginya sangat sejuk.
Reno melangkahkan kakinya menuju tukang ojek yang mangkal di tepi jalan, dia segera naik ke motor dan melaju menuju desanya.
"Dari mana Mas?" tanya tukang ojek.
"Dari kota B Pak," Jawab Reno.
"Mudik ya?" tanya ojek kembali.
"Iya, Pak." jawab Reno singkat.
Reno melempar pandangan ke jam yang melingkar di tangannya, jam menunjukan pukul 7 pagi. sebenarnya tidak pantas untuk bertamu di jam seperti ini.
Reno merogoh ponselnya di balik jaket dan mencoba menghubungi Tasya, dia ingin melihat wajah kekasihnya yang lama tidak dia jumpai.
Reno pulang 1 bulan 2 kali, sehingga mereka jarang sekali bertemu. Meskipun setiap hari mereka melakukan Video Call, tetap saja Reno ingin sekedar melihat keadaan kekasih hatinya.
Beberapa kali Reno menghubungi akan tetapi, panggilan tak segera tersambung. Sampai akhirnya tukang ojek berhenti sesaat, karena Reno tak segera memberikan alamat yang di tuju.
Karena kekasihnya tak kunjung mengangkat sambungan, Reno memilih untuk pulang kerumahnya dahulu.
Beberapa menit kemudian sampailah Reno di rumahnya, halaman depan rumah tampak sepi. Biasanya di jam seperti ini ayah dan ibunya masih sibuk di ladang.
Dia segera turun dari motor dan memberikan selembar uang berwarna hijau, dan melangkah menuju rumahnya.
Reno menatap sekitar, suasana masih sama, tak ada yang berubah. Reno segera melangkah dan merebahkan tubuh lelahnya di tempat duduk depan rumah.
"Reno?" ucap seorang ibu berusia senja.
Dia membawa sebuah karung dan memikulnya di punggung, meskipun karung itu tak berat. tetap saja Reno tak tega.
Dia segera berlarian membantu ibunya dan membawa karung tersebut.
"Kamu mau pulang kok nggak kabar-kabar?" tanya ibunya mengelus pucuk kepala Reno.
"Kan kejutan," ucap Reno manja.
"Ibu, aku kan baru pulang. masa tanya mantu sih? nggak kangen ya sama aku," ucap Reno memanyunkan bibirnya.
"Ya kangen lah, takutnya kamu bohongi ibu lagi," ucap Ibunya menundukkan kepala.
"Reno janji, aku nggak bohong kali ini Bu," ucap Reno memeluk ibunya.
Reno tau betapa ibunya sangat merindukannya, sehingga dia ingin dirinya segera menikah dan menetap di desa. Di tambah kondisi ibunya yang semakin hari semakin melemah.
"Ibu cuma melihat kamu pakai baju pengantin, sebelum ..." ucapan Ibu belum selesai, Reno segera mengecup pipi Ibunya.
"Nggak akan terjadi apa-apa dengan ibu, ibu pasti bisa melihat cicit ibu dalam keadaan sehat." ucap Reno memeluk ibunya lebih erat.
"Maka dari itu, lekaslah punya istri dan anak. Ibu ..." ucap ibu kembali terpotong
"Reno laper, ibu masak apa? Reno dari kemarin nggak makan loh," ucap Reno manja.
Hanya dengan cara ini Reno bisa sedikit memotong percakapan ibu yang kian lama kian panjang, dan yang menyebalkan adalah. Masih dengan tema yang sama.
"Ibu masak, nasi jagung, tumis pepaya muda sama ikan asin." ucap ibunya bersemangat.
"Wah, surga dunia. Aku mau makan sekarang," ucap Reno menuntun ibunya untuk segera masuk ke dalam rumah.
Reno makan dengan lahap, dia tak menyangka kalau akan di sambut dengan makanan favoritnya. Setelah acara sarapan selesai, Reno segera membasuh tubuh lelahnya dan mulai bersiap.
"Wah mau kemana nih, ganteng bener," ucap Ibunya.
"Mau nyusulin mantu ibu lah,' jawab Reno semangat.
Setelah Reno siap, dia segera menaiki motor kesayangannya. motornya memang sengaja dia tinggal di desa, agar suatu saat nanti saat dirinya menetap di desa, dia sudah memiliki kendaraan.
Reno tidak sabar untuk menyambut kasihnya dan diperkenalkan ke kedua orang tuanya, mereka pasti sangat senang karena memiliki seorang mantu yang tempat tinggalnya dekat dengan yang tempat mereka, sama persis seperti keinginan ibu Reno.
Karena memang kedua orang tuanya ingin saat Reno sudah menikah dia tidak bekerja di perantauan, dia ingin Reno mengurus ladang kepunyaan kedua orang tuanya dan hidup damai di desa. Tanpa harus merantau, ataupun ikut dengan istrinya.
Dia sempat mengatakan niatnya dengan Tasya, Reno semakin senang karena Tasya menyanggupi permintaan Reno. Ini salah satu hal yang membuat Reno mempertahankan hubungannya.
Semakin dekat jarak rumah Tasya, semakin berdebar jantung Reno. Dengan teliti Reno mencari alamat Tasya hingga akhirnya dia menemukannya. sayangnya di rumah Tasya masih ada sebuah acara.
Sepertinya ini adalah acara keluarga, melihat motor yang terparkir amat banyak, serta beberapa mobil. yang terbilang cukup mewah.
Sekali lagi Reno merasa ada yang aneh, di acara semegah ini. Tasya juga tak mengabarinya, perlahan Reno melangkahkan kakinya memasuki jalanan rumah Tasya.
Tampak dekorasi bunga yang indah di ambang pintu rumah Tasya, semua dominan dengan warna putih. Beberapa orang berkumpul di dalam.
Memang benar, di dalam sangatlah ramai. Dilihat dari dekorasi ruangan, sepertinya ini adalah acara lamaran. Tapi siapa yang lamaran?
Sedangkan kakak Tasya sudah menikah, dan adiknya masih duduk di bangku SMA, Reno celingukan mencari sosok kekasihnya.
Hingga matanya berbinar ketika melihat Tasya memakai setelan batik dengan warna merah maron. dia sangat cantik pagi ini.
Reno bergegas melangkah mendekati Tasya, tapi langkanya terhenti saat ada seorang lelaki merangkul pinggang Tasya sangat erat.
"Si-siapa dia?"
BERSAMBUNG.....