
Reno menarik nafas dalam, saat ini tak ada jalan keluar lagi. Dia harus jujur dan semoga keluarganya dapat menerima semua masalahnya yang rumit.
Secangkir kopi panas telah habis, hingga beberapa ****** rokok berserakan di sampingnya. Reno memutuskan untuk segera pergi dari kantin tersebut.
Semakin dekat langkah Reno semakin cepat detak jantungnya berpacu, entah apa respon mereka nanti saat dirinya akan berkata jujur.
Beberapa langkah lagi Reno sampai ke ruangan Ibunya, dia memutuskan untuk berhenti sejenak dan menenangkan hatinya.
"Assalamualaikum Bu," ucap Reno berusaha memamerkan gigi putihnya.
"Waalaikumsalam," jawab mereka serempak.
Reno terbelalak ketika melihat seorang yang saat ini duduk di dekat Ibunya, dia tersenyum teduh menatap ke arahnya.
"Ka-mu?" tanya Reno tak percaya dengan pemandangan di hadapannya.
"Kenapa Mas?" Clara balik bertanya.
'Mas?' batin Reno mengulang kata panggilan untuknya.
Entah mengapa setelah mendengar Clara memanggilnya dengan sebutan demikian, membuat hatinya seketika menjadi taman bunga.
Perasaan yang tadinya porak-poranda seakan menjadi sejuk bagai di taman sakura.
"Kamu kok tega banget sama istrimu yang cantik ini," ucap Ibu melempar senyum ke arah Clara.
"Apa? Istri," Reno kembali di buat bingung.
Melihat Reno yang kebingungan membuat Clara segera bertindak, dia melangkah mendekati Reno dan meraih tangannya.
"Maaf Pak, Bu. Clara pamit dulu mau sarapan," ucap Clara bergantian menatap Bapak dan Ibu Reno.
"Ya sudah kalian sarapan dulu," ucap Bapak.
Clara melempar senyum dan mempererat cengkeramannya di lengan Reno. Mereka melangkah keluar ruangan.
Gadis itu segera menuntun Reno ke sudut rumah sakit, mereka duduk di sebuah kursi taman. Di sampingnya terdapat pohon beringin yang lumayan besar dan teduh.
"Jadi Lo mau kabur dari kontrak?" tanya Clara sengit.
"Ya nggak lah, kan kamu bisa lihat sendiri. Ibuku sakit." ucap Reno sambil duduk di samping Clara.
"Itu nggak jadi alasan untuk membatalkan kontrak, lo kan bisa hubungi gue," sahut Clara.
"Lalu lo mau bilang ke mereka kalau kita kawin kontrak! Lo mau ..." ucapan Reno terpotong.
"Gue udah bilang ke mereka, lihat! Mereka menerima semua dengan senang hati" sahut Clara.
"Apa!" Reno bangkit dari duduknya.
Mendengar suara Reno yang melengking, membuat beberapa orang melempar pandangan ke arah mereka. Clara segera menarik jari Reno dan menuntunnya untuk duduk kembali.
"Lo bisa santai nggak sih?" ucap Clara menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Lo mau bunuh Ibu gue ha?" sahut Reno tak mampu menahan emosinya.
"Mata Lo sakit hah?" ucap Clara melempar pandangan.
Faktanya, Ibu Reno sedang duduk bercengkrama dengannya sebelum ini bukan? Clara sudah menceritakan semuanya, meskipun ada beberapa bagian yang dia tutupi. Sehingga semua masalah sudah aman terkendali.
Menyadari Clara sudah membantunya keluar dari masalah, membuat Reno terdiam sesaat.
"Makasih," ucap Reno lirih.
Clara tersenyum kebut, dia hanya tak menyangka kalau Reno juga memiliki masalah yang sama persis dengannya.
Mungkin kalau dia ada wajarnya, karena memang umur Clara sudah cukup. Tapi Reno? harusnya dia tidak mempermasalahkan urusan pernikahan.
"Ibu sakit jantung, dia tidak bisa mendapatkan kabar buruk. Oleh sebab itu aku tidak mampu memberi tau hubungan rumit ini," Ucap Reno.
"Tenang saja, kan ada aku." jawab Clara spontan.