
"Kau tidak boleh egois, sepertinya Reno dan gadis itu tidak saling mencintai." ucap Ayah.
Ibu hanya mengangguk lirih, dia melempar pandangan teduh ke arah suaminya. Lalu tersenyum kecil.
"Aku tau, tapi entah mengapa aku yakin kepada mereka. Sepertinya mereka berjodoh." jawab Ibu lirih.
Kondisinya belum begitu pulih, sehingga dia memilih berbaring kembali. Ayah duduk di kursi sambil terus menggenggam jemari keriputnya.
"Istirahatlah," ucap Ayah sambil menarik selimut untuk menutupi sebagian tubuh Ibu.
Ayah hendak beranjak pergi, dia tak tega melihat kondisi Istrinya yang lemah. Namun langakah terhenti saat tangannya di cubit kecil.
Ayah membalikkan tubuhnya dan melempar pandangan. Tampak Ibu yang menggelengkan kepalanya lirih.
"Jangan kabur lagi, mari kita berdiskusi." ucap Ibu dengan suara serak.
"Lihat kondisimu, kau harus istirahat." ucap Ayah tegas.
"Kau jangan kasar-kasar denganku, nanti kau akan menyesal saat aku pergi." sahut Ibu tersenyum kecil.
Ayah segera duduk kembali dan mencengkram lembut jemari Ibu, berulang lagi dia mengecup mesra. Matanya mulai berkaca-kaca.
Dengan susah payah Ibu mengangkat satu tangan dan berusaha menghapus air mata Ayah,
"Sudah lama bukan? aku tau Papa dan Mama tidak akan peduli denganku, tapi Reno harus mengetahui siapa dia sebenarnya." ucap Ibu.
"Aku mohon jangan bicara macam-macam, kau pasti sembuh." ucap Ayah menahan isaknya.
"Terima kasih Pak guru, kau sudah memberikan segala ilmu yang berharga di hidupku." ucap Ibu tersenyum lirih.
"Tidak, jangan begini. Bukankah kau ingin melihat cucu kita. Bahkan kau yakin gadis itu akan memberikanmu seorang cucu menggemaskan." ucap Ayah sambil memberi semangat.
"Aku akan melihatnya, pasti. Bisa tolong panggilkan anak-anak." pinta Ibu lirih.
"Ba-baik, mau tunggu sebentar." ucap Ayah segera beranjak dari kursi dan berlari kecil keluar kamar.
Matanya terus menyusuri sekitar, berharap dia akan segera bertemu Reno dan Clara. Hingga pada akhirnya ujung matanya menemukan sosok yang sedari tadi dia cari.
Dengan langkah buru-buru Ayah segera mendekati mereka yang sedang berjalan ke arahnya.
"Reno, kita harus ke kamar Ibu sekarang. Tapi sebelumnya ... " tampak raut kecemasan terpancar di wajah Ayah.
Seolah tau apa yang akan di sampaikan oleh Ayahnya, Reno segera meraih tangan Ayahnya dan bergeser di sebuah tempat yang sedikit lebih tenang.
Sementara Clara duduk di kursi sambil mengamati tingkah kedua Ayah Anak itu.
"Baiklah, ada apa Yah?" tanya Reno singkat.
"Ibumu ingin kalian menikah sekarang," ucap Ayah menatap lekat manik mata Reno.
Mendengar ucapan Ayahnya, Reno memijat keningnya. Saat ini apa yang harus dia lakukan? Haruskah dia melakukan ijab sah lagi.
Sekilas Reno melempar pandangan ke Clara, dan di sambut senyum kikuk olehnya.
"Yah, aku belum siap," jawab Reno lirih.
"Sama, Ayah juga belum siap. Tapi bagaimana kalau ini adalah permintaan terakhir Ibumu," sahut Ayah dengan mata berkaca-kaca.
"Apa? Ayah pasti bercanda bukan," ucap Reno tidak percaya sedikitpun.
"Pikirkan baik-baik, Ayah akan tunggu di kamar Ibu. Jangan sampai kau menyesal." ucap Ayah yang segera melangkah meninggalkan Reno dan Clara.
"Ada Apa?" tanya Clara melangkah mendekati Reno sesaat setelah Ayah Reno pergi.
"Berjanjilah, kau akan menuruti semua ucapan ku sebentar saja," ucap Reno menatap Clara serius.
"Maksudnya?"