
Setelah Reno pergi, Clara mengambil menghela nafas panjang, dia berusaha tak tersulut emosi saat menggeser tombol hijau. Jangankan untuk sekedar ngobrol, mendengar namanya saja Clara sudah mual.
Clara menggeser tombol hijau ke atas dan menempelkan benda pipih tersebut di telinga kanannya.
"Apa?" tanya Clara.
"Papa pengen ketemu kamu," ucap Rico.
"Untuk?" tanya Clara.
"Mau rembukan tentang pernikahan kita," ucap Rico enteng.
Astaga, Clara tidak tau otak Rico terbuat dari apa. Atau mungkin urat malunya memang sudah putus. Bisa-bisanya dia membahas pernikahan setah tidur dengan wanita lain.
"Astaga, ternyata bukan ke Mamaku saja, bahkan Papamu belum tau" ucap Clara dengan suara melengking.
Clara tidak heran dengan ini, karema sebelum kejadian itu, Om Burhan. Pernah bilang akan memberikan perusahaan untuk aku kelola, karena Reno belum cukup pandai untuk mengelolanya.
"Kau tau sebabnya bukan?" ucap Rico.
"Maaf ya, seenggaknya aku udah nggak bodoh lagi seperti dulu. Silahkan kamu pikir sendiri caranya, yang jelas aku nggak bisa datang." ucap Clara memutus sambungan sepihak.
Clara menghempaskan tubuhnya ke kursi, dia memutar kuris hingga di hadapannya muncul pemandangan langit jingga yang indah.
Dia tak habis pikir bisa cinta sama orang nggak tau diri seperti Rico. Untung saja dia tau sejak awal, kalau tidak. Dia bisa jadi mesin uang untuk Rico dan pelacur itu.
Di sisi lain Clara sangat bersyukur bisa lepas dari jeratan buaya, tetapi cintanya terlalu dalam. 5 tahun bukanlah waktu yang sebentar dan itu tidaklah mudah.
Semudah itu dia mempermainkan perasaanya, sejujurnya Clara tidak sekuat ini. Harinya juga hancur seperti wanita yang di selingkuhi pada umunya.
Terdengar suara pintu di ketuk dari luar, sepertinya itu suara Pak Bejo. Dia menatap jam yang menempel di dinding, ternyata hari mulai senja.
"Masuk," ucap Clara.
Pak Bejo masuk ke ruangan Clara dengan wajah khawatir, keningnya berkeringat. Mulutnya terbuka mengatup, seolah ingin mengatakan suatu hal yang sangat sulit.
"Ada apa?" tanya Clara.
"Nyo-nyonya Non," ucap Pak Bejo terbata.
"Mama kenapa?" tanya Clara ikut khawatir.
"Tiba-tiba Nyonya pingsan di kamar mandi, saat ini menuju rumah sakit," ucap Pak Bejo.
"Apa? Yaudah. Kita kesana sekarang," ucap Clara segera mengemasi barang-barangnya dan melangkah keluar ruangan.
Di sisi kantor, tepatnya di lantai kantor teratas, Ada dua orang yang sedang menikmati langit senja dengan secangkir kopi hitam.
Mereka menatap lekat langit sore yang indah, sesekali Juna menatap Reno yang duduk termenung dengan tatapan kosong.
Itu hal yang sangat wajar, hati siapa yang tak hancur saat wanita yang di perjuangkan malah memilih wanita lain.
Tidak hanya itu, bahkan dirinya tidak memberi tanda-tanda. Padahal hubungan mereka semua baik-baik saja.
"Gue udah ngomong kan ke Lo, Lo aja yang ngebet banget pengen nikah sama dia," kata Reno membuang pandangannya.
Reno menatap Juna sekilas, Dia mencoba mengingat kapan saat Juna mengingatkan tentang hubungannya. Melihat tatapan Reno ke dirinya, Juna menghela nafas kasar.
"Sebelum lo berangkat, waktu Lo habis kejebak di lift sama tuh cewek singa. Gue udah bilang ya, Tapi Lo malah ngejek gue," ujar Juna tak terima
Reno mencoba mengingat kembali, dan ternyata memang iya. Dialah yang sulit untuk meninggalkan kekasihnya itu.
Dia hanya tak mau semua usahanya sia-sia, setiap bulannya dia menabung. Bahkan menekan semua anggaran kebutuhannya hanya untuk menyisihkan beberapa uang untuk bekal menikah.
Tapi memang manusia hanya bisa mengatur, semua keputusan akan kembali kepada-Nya sang maha pencipta.
Reno kembali menatap langit sore, dirinya tak percaya cinta yang dia jaga pupus di tengah jalan.
"Lalu gimana emak-Bapak Lo?'' tanya Juna.
"Ya mereka seneng lah. Untung lo punya nomor cewek gituan." ucap Reno tanpa ekspresi.
"Nah, maka dari itu. Dari pada galau gini, comot 1 buat hiburan. Besok udah baikan deh," ucap Juna.
"Gue kasih cewek langganan gue ya," ucap Juna semakin bersemangat.
Reno melempar Juna dengan kain pel basah yang ada di dekatnya, ingin dia cuci otak temannya yang kotor itu.
Meskipun dia hancur dan remuk, tak ada niat sedikitpun baginya untuk berbuat demikian. Reno melempar pandangan ke langit jingga kembali dan mencoba mencari jalan keluar.
Mungkin saat ini, dirinya aman karena kebohongannya. Tapi akan ada kemungkinan besar untuk dia dalam posisi tidak aman, melihat kedua orangtuanya sangat menyukai gadis penghibur itu. Pasti tidak lama lagi mereka akan mendesak pernikahan.
Berulang kali Reno menghela nafas panjang, karena hanya memang itulah yang bisa dia lakukan. Semenjak menjalin hubungan dengan kekasihnya itu, dia sama sekali tidak punya kenalan. Bahkan teman wanita sekalipun.
"Muka Lo biasa aja, kaya besok kiamat aja," ucap Juna yang sebal melihat wajah Reno yang kusut.
"Bulan depan pasti orang tua gue nyuruh gue nikah," ucap Reno putus asa.
"Nah kan gampang, tinggal comot kaya' kemarin." ucap Juna enteng
"Enak aja, nikah tuh nggak di buat mainan. Masa' iya ganteng-ganteng gini jadi duda." ucap Reno
"Jangan salah, cewek SMA sekarang carinya yang DUREN loh," ucap Juna bangga.
"Otak Lo makin lama makin gesrek aja," ucap Reno yang mulai beranjak dari duduknya.
Dia melangkah dan berdiri di dekat balkon, tampak Clara yang berlarian di parkiran. Tampak dia terjatuh dan bangkit kembali, wajahnya sangat khawatir.
Tampak di memasuki sebuah mobil yang familiar bagi Reno dan pergi meninggalkan parkiran kantor.
Reno segera mundur beberapa langkah dan menuju pintu keluar, Juna yang kebingungan melihat temannya hanya diam mematung.
"Gue balik dulu," ucap Reno terdengar samar.
BERSAMBUNG....