
Wajah yang semula datar, sekarang berubah menjadi mimik wajah panik dan cemas. Melihat hal ini Reno semakin penasaran dengan hal yang terjadi kepada Bapaknya.
"Bapak saya kenapa Bu?" tanya Reno semakin cemas.
"Mari saya antar," ucap wanita tersebut melangkah keluar ruang rawat Ibu Reno.
Melihat ekspresi Maryam, membuat otak Reno melayang jauh. Hatinya semakin resah saat ini, bibirnya terus berdo'a semoga tidak ada hal buruk menimpa Bapaknya.
Tak jauh dari bangsal ibunya, Reno sampai di sebuah bangsal. Bu Maryam terus melangkah semakin masuk dan akhirnya tiba di sebuah ruangan.
Di sana Reno melihat sang Bapak sedang terkapar lemas dengan kaki dan tangan diperban, serta beberapa luka lebam di sekitar area wajah.
"Bapak kenapa?" tanya Reno syok dan segera melangkah mendekatinya.
Bapak hanya tersenyum kecil, dan mengelus kepala putranya dia tidak menyangka kalau dia akan datang menjenguk dirinya.
"Kamu kok bisa pulang? Nggak sibuk," tanya Bapak Reno.
"Pak, Bapak kenapa?" tanya Reno kembali bertanya, dia tidak suka bila pertanyaan malah dijawab dengan pertanyaan kembali.
"Ibu pergi dulu ya," ucap Bu Maryam berpamitan dan keluar dari ruangan.
"Terima kasih ya bu," ucap Reno kemudian melempar pandangannya kembali ke Bapak.
"Bapak keserempet mobil saat membelikan obat ibumu seperti biasa, sakit ibumu kambuh dia kurang hati-hati kalau mengkonsumsi makanan," ucap Bapak Reno menjelaskan.
"Bapak sekarang bagaimana? masih ada yang sakit atau kita ke sangkal putung aja," tanya Reno menawarkan serta menampakkan wajah cemasnya.
Bapak Reno hanya menggelengkan kepalanya lirih, Dia menepuk pundak Reno dan memamerkan deretan gigi putihnya.
"Jangan cemas, bapak hanya luka ringan saja. Setelah ini bapak akan keluar dari rumah sakit," ucapnya menenangkan Reno yang sedang cemas.
"Bagaimana ibumu?" tanya Bapak.
"Ibu tadi masih tertidur Pak," jawab Reno singkat.
Bapak Reno melempar pandangannya, matanya menatap jauh ke pintu kamar, angannya melayang jauh mengingat bagaimana hari-hari mereka sebelumnya.
"Tidak ada keinginan kah kamu untuk menikah?" tanya Bapak menatap Reno serius.
Seketika Reno membatu, dia tak menyangka pertanyaan ini akan timbul kembali. Bagaimana dia menikah? Sementara dia masih terikat kontrak dengan bosnya beberapa saat lalu.
Bahkan tanpa mereka ketahui, Reno akan melangsungkan resepsi pernikahan palsunya. Lidah Reno terasa keluh untuk mengucapkan semua kenyataan pahit yang di alami.
"Kalau kamu belum punya calon, bapak dan ibu sudah menemukan calon tersebut. Tapi kalau kau tidak cocok dengannya, kau bisa mengulur waktumu asal kau tahu ibumu sangat mengharapkan pernikahan secepatnya. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya," ucap Bapak Reno menjelaskan sesuatu yang sulit untuk dimengerti baginya.
"Maksud Bapak apa?" tanya Reno menggenggam tangan bapaknya.
"Baik pak, Reno sudah punya calon kok. Besok akan Reno bawa kemari," ucap Reno yakin.
Sebenarnya dia bingung harus mengatakan apa, dia tidak tahu harus melakukan hal apalagi untuk menenangkan kedua hati orang tuanya.
Menikah? Ya dia memang ini menikah, akan tetapi tidak secepat dan gegabah ini bukan. Belum lagi kejadian yang harus mewajibkannya menandatangani kontrak.
Dia seolah mendapatkan karma yang begitu cepat, dia menolong kedua orang tua yang lain. Sedangkan kedua orang tuanya saat ini sedang membutuhkan pertolongannya.
Andai saja dia tidak menandatanganinya, pasti saat ini dia bisa memilih seorang gadis untuk menikahinya secara siri.
Otak Reno seakan mau pecah saat ini, dia bingung harus mengatakan apa kepada kedua orang tuanya. Dia merasa sangat bersalah.
"Istirahat dulu ya, Reno akan menjaga ibu. Oh ya sebelumnya bapak memerlukan apa?" tanya Reno melihat nakas bapaknya yang masih kosong tak ada apapun untuk dikonsumsi.
"Udah kamu tinggal saja, Bapak bisa jalan sendiri kok. Habis ini Bapak juga ke ruangan ibu," jawab Bapak Reno.
Reno mengangguk lirih, Dia segera beranjak dari kursi dan keluar kamar. matanya tertuju pada sekelebat wanita yang menghilang di balik tembok.
Melihat wanita tersebut Reno segera berlarian, dia menuju tembok itu, sayangnya wanita tersebut hilang entah ke mana.
Reno mengabaikan semuanya dan kembali pada tujuannya, melangkah menuju ke ruangan ibunya dirawat.
Reno menatap wajah senja ibunya, keriput sudah mulai timbul di kening dan pipinya, pantas saja dia memikirkan seorang cucu.
Tapi apa yang dia perbuat? dia malah menghancurkan cita-cita ibunya, bahkan istri palsunya saja tidak mau memiliki seorang.
"Reno janji akan membereskan masalah ini dan memberikan cucu pada ibu," ucap Reno menggenggam erat jemari Ibunya dan mengecupnya lembut.
****
Di sudut kota yang berbeda Clara menghempaskan tubuhnya di atas kasur, dia masih tak percaya akan perlakuan Reno kepadanya sore ini. Sejak kapan dia berubah menjadi 180 derajat berbeda?
Ponsel berdering, akan tetapi Clara masih enggan untuk menggeser tombol hijau pada nomor tersebut. Otaknya masih malas untuk meladeninya.
Pada akhirnya dering ponsel tersebut berbunyi berulang kali, dan membuat telinga terasa ingin pecah. Dengan menahan amarahnya, Dia segera meraih ponsel tersebut dan menggeser tombol hijau ke atas.
"Apa kau tidak punya kerjaan hah! dasar orang gila," bentak Clara
Tak Ada jawaban dari ujung sambungan, hingga beberapa detik kemudian clara mendengar suara tersebut, seketika dirinya membatu. Mulutnya tercengang mendengarkan penjelasan seseorang di ujung sambungan tersebut.
Beberapa menit berlalu, seorang tersebut mematikan ponsel secara sepihak. Namun ponsel Clara masih setia menempel di telinganya.
Clara segera bergegas melangkah menuju kamar mandi dan membersihkan tubuhnya yang penuh akan keringat, Tapi otaknya masih tak bisa mengabaikan kabar yang baru saja dia dengar.