I'M Sorry My Baby

I'M Sorry My Baby
Sudah berusaha



Clara menghempaskan tubuhnya ke kasur,


"Aww ..." rintih Clara.


dia pikir kasur ini cukup empuk, meskipun jauh dari kasur miliknya. Nyatanya di luar dugaan, kasur ini amat keras.


Reno masuk ke kamar dan menutup pintu. Wajahnya sudah berantakan tidak bisa di tuai dengan kata, mata sembab dan raut wajah yang lelah.


Clara bisa menyadari itu semua, dia adalah anak tunggal dan harus membereskan semua acara yasinan malam ini. Mulai dari bahan masak buat acara, selamatan, sampai yasinan.


Dia duduk di kursi, dan menyandarkan punggungnya. Matanya terpejam dan menarik nafas panjang.


"Lima menit lagi bersiaplah," ucap Reno masih memejamkan mata.


"Kemana?" tanya Clara singkat.


"Apa Nona Clara yakin mau tidur di tempat seperti ini?" tanya Reno dengan suara malas.


Clara menatap sekitar ruangan, memang kamarnya tidak terlalu besar. Tapi lumayan cukup bersih. Tak ada AC, hanya ada kipas angin yang menempel di tembok.


"Aku rasa ... ini cukup nyaman," ucap Clara meringis.


"Baiklah, kalau kenyataannya Nona harus tidur bersamaku gimana? di sini cuma ada dua kamar dan satu lagi tempat Bapak," ucap Reno membuka matanya dan menatap Clara.


"Bukankah sebelumnya, kita sudah pernah tidur bersama. Dan tak ada yang terjadi ... mungkin," ucap Clara ragu.


"Jangan mempersulit ku Nona, kita bisa berangkat sekarang," ucap Reno beranjak, Reno sudah malas berdebat lagi.


Reno sudah memakai jaketnya dan memutar ganggang pintu, namun tak ada pergerakan sedikitpun dengan Clara.


Reno memutar badan, dan melangkah mendekati Clara.


"Aku sudah capek, maaf." ucap Clara yang segera tidur dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


Reno menghela nafas panjang, mencengkram rambutnya kuat untuk meredam amarahnya. Dia hanya tak mau kalau Clara tidak nyaman di sini.


Reno melempar jaketnya dan tidur di samping Clara.


"Kalau tidak bisa tidur, langsung bangunin aku aja. Jangan melakukan hal apapun." ucap Reno lirih.


****


"Papa tidak ikut?" tanya Mike.


"Tadinya ikut, berhubung di kantor ada masalah. Jadi Papa pergi," jawab Nadira.


Mike menatap wajah Mamanya, sebenarnya dia amat membencinya. Karena dia lebih mementingkan keluarga lain dari pada dia. Namun apalah daya, dia tetap Mamanya yang harus dia jaga.


"Kapan Mama akan ke Paris?" tanya Mike, matanya masih menatap jalanan ramai dari jendela.


"Setelah semua urusan Mama selesai?" jawab Nadira acuh.


"Urusan dunia atau akhirat?" celetuk Mike.


Nadira melempar pandangan sesaat ke Mike, tampak senyum kecut terukir di wajah cantiknya.


"Kau sekarang jauh lebih pandai dari yang ku kira," kekeh Nadira.


Mike tak peduli dengan sanjungan Mamanya yang terkesan mengejeknya, siapa yang tahan melihat Mamanya menderita beberapa tahun ini.


Saat itu usianya masih lima tahun, nenek dari Papanya menjemputnya dengan alasan Papanya merindukan dia.


Akan tetapi apa yang Mike dapat? Dia mendapati kenyataan kalau Mamanya lah yang menyuruh mereka menjemput Mike.


Sebenarnya Mike mendapatkan fasilitas yang terbilang cukup mewah, namun tetap saja dia kecewa karena perlakuan Mamanya yang terlihat terang-terangan membuangnya.


Yang paling Mike tidak habis pikir adalah, Mamanya membuangnya hanya demi menjalani penderitaan yang tiada akhir.


Dia selalu mencintai Tyo, tapi semua berbanding terbalik. Di tambah lagi putri kecilnya yang bernama Clara itu.


Gadis mungil itu selalu mendapatkan perhatian lebih darinya, untung saja Neneknya selalu memberinya peluang untuknya untuk tinggal di tempat Mamanya. Kalau tidak, Mike tidak akan tau dengan semua yang di alami Mamanya.


"Aku tidak yakin kalau Clara bisa menjalani semua ini, ini adalah saatnya mendapatkan karma dari perlakuan Papanya," ucap Mike menahan amarah.


Nadira melempar pandangan ke Mike kembali dan menatapnya lekat.


"Kau tidak bisa menghakimi seseorang Mike, di sini yang bersalah Mama. Dan Mama harus bisa bertanggung jawab." jawab Nadira.


"Tanggung jawab seperti apa Maa? Apakah setelah sekian lama mereka menyiksa Mama, itu belum cukup!" ucap Mike tak kalah keras.


"Mama memisahkan kedua insan yang saling mencintai, yang lebih parahnya lagi. Mama memisahkan seorang anak dari Ibunya, sehingga anak tersebut tidak pernah tau wajah ibunya," ucap Nadia dengan air mata menetes.


"Mama sudah membesarkannya dengan penuh kasih sayang, Mama bisa lihat kan! Dan saat ini dia sudah menikah. Jadi tugas Mama sudah berakhir, jadi Mama bisa kembali ke Paris bersamaku," ucap Mike menggenggam jemari lembutnya.


"Mama sudah bersama anak yang bahkan bukan anak yang lahir dari rahim Mama, sekarang saatnya Mama tinggal bersamaku," lanjut Mike menatap Mamanya yang sedang menangis.


"Sabarlah Nak, setelah ini Mama akan bersamamu." ucap Nadira mengecup pucuk kepala Mike.


Mobil mereka melaju melewati jalanan ramai. Gelapnya malam membawa hawa dingin yang menusuk tulang.


kembali kepada dia insan yang berbaring di tempat tidur, salah satu di antara mereka belum juga dapat terlelap.


Saat ini Clara sadar mengapa Mama dan Kakaknya tidak memperbolehkan dirinya tinggal disini, kasur yang dia tempati sangat tidak nyaman. Badannya terasa remuk saat ini.


Dia membuka selimut yang menutupi kepalanya, matanya melirik kanan kiri, memastikan kalau tak ada seorangpun.


Ujung matanya mencuri pandang pada pria yang saat ini tertidur pulas, matanya tertutup rapat. Dadanya naik turun dengan tenang, mata Clara mulai terpana dengan ketampanan suami kontraknya ini.


"Tidurlah, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih. Kau sudah membuat Mamaku lebih tenang dan tidak sakit lagi, maaf aku tidak bisa membuat Ibumu selamat," ucap Clara lirih.


"Aku sudah berusaha, dan hanya ini yang bisa aku lakukan untukmu." lanjut Clara.


Matanya mulai berkaca mengingat saat Reno kehilangan Ibunya, hal itu yang membuat hati Clara teriris dan memilih untuk menemani Reno sampai mentalnya benar-benar membaik.


Mungkin dengan begini dia bisa menghapus rasa bersalahnya.


"Kau tidak perlu melakukan ini." sahut Reno membuka mata.


Clara segera bangun dan membalik badan, wajannya memerah menahan malu. Dia tidak menyangka Reno akan bertingkah seperti ini.


"Kau belum tidur?" tanya Clara gugup.


Reno tersenyum kecil, dia duduk dan bersandar di tempat tidurnya.


"Bagaimana bisa tidur, kalau aku reflek terus ..." ucap Reno.


"Aku akan ke kamar mandi dulu." ucap Clara bangkit.


Dia melangkah tergesa-gesa, namun langakahnya mendadak terhenti. Clara berbalik dan memasang senyum penuh arti.


"Ada apa?" tanya Reno melempar pandangan, seolah tau apa yang Clara maksud.


Dengan menahan senyum geli Reno bangkit dari kasur dan melangkah melewati Clara. Dia membuka pintu dan mengayunkan langkahnya menuju dapur.


Mata Clara menyusuri setiap sudut ruangan, mengamati semua barang yang berserakan. Ada sekarung beras dan beberapa kantong pelastik yang juga berisi beras.


Di sampingnya, bertumpuk beberapa bungkus mie dan minyak goreng. Mata Clara lebih terbelalak ketika melihat ada banyak masakan yang sudah tertata rapi di setiap baskom besar.


Di antara ada, tahu goreng yang di iris kotak besar, kotak kecil, kentang, ayam, dan seperti nya parutan kelapa.


"Kau lapar?" tanya Reno, ketika melihat Clara yang menatap semua makanan cukup lama.


"Enggak, memangnya mau ada acara apa disini? Emang disini kalau Yasinan yang di undang, berapa banyak orang?" tanya Clara sambil menatap semua bahan makanan mentah yang berserakan di lantai dapur. Seperti kelapa dan kentang.


Reno tersenyum kecil, dia memaklumi pertanyaan Clara. Karena sebagian orang kota akan lebih memilih catering dari pada masak sendiri.


"Disini masih kental dengan gotong royong, jadi kalau di kota kita cukup telfon catering, disini tidak. Kita akan masak bersama dan saling membantu," ucap Reno membuka pintu belakang.


Clara mengangguk kan kepala, mencoba mengerti dengan apa penjelasan Reno.


"Udah gih, sana." ucap Reno melempar pandangan ke luar.


Clara membulatkan matanya saat melihat kamar mandi yang terletak di luar rumah dengan jarak 200 meter.


"Udah berasa masuk ke adegan horor aja gue," ucap Clara lirih.


Dia menelan liurnya saat melihat pemandangan malam yang mencekam, di tambah suara deringan jangkrik yang membuat nuansa semakin mencekam.


Reno hanya tersenyum kecil melihat tingkah Clara, wajahnya nya sangat lucu kalau sedang ketakutan.


"Udah sana," ucap Reno mendorong pundak Clara.


"Sepertinya pipisnya masuk lagi deh, nggak jadi deh," ucap Clara berbalik arah.


"Kok balik sih, sini aku anterin," ucap Reno menarik tangan Clara untuk melanjutkan langkahnya.


Udara dingin yang berhembus sepoi-sepoi, membuat bulu kuduk Clara benar-benar bangun. Dia menggenggam erat jemari Reno. Matanya terus menatap sekitar dengan tatapan waspada.


Jarak 200 meter, baginya sudah seperti 2km saja. Sangat jauh ...


"Aaa ..."