
Reno melangkah masuk melewati gang sempit, di sepanjang jalan otaknya tak henti membayangkan adegan beberapa menit yang lalu.
Dulu dia sangat menghormati wanita, entah mengapa tadi dia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.
Bila di dekat Clara otak dan hatinya selalu tidak singkron, terdengar helaan napas panjang berulang kali. Dirinya mencoba untuk tetap tenang walau otaknya membawa angannya kembali pada titik yang sama.
Matanya mengernyit ketika melihat sosok bayangan berada berdiri tepat di depan pintu kostnya, karena minim pencahayaan Reno tak dapat melihat dengan jelas siapa sosok tersebut.
Reno segera mempercepat langkahnya untuk segera sampai di kamar kost.
Dia melihat seorang yang sangat dia kenal sedang memasang wajah muram, matanya terpejam sambil menatap langit dan menyandarkan tubuhnya di pintu.
"Juna, ngapain lo kesini?" tanya Reno mengerutkan alisnya.
Juna terkejut dan melempar pandangan ke Reno,
"Dari mana aja sih lo? Lama banget," sahut Juna memasang wajah melas.
"Terserah gue dong, kost gue bukan punya nenek Lo," jawab Reno sambil merogoh kunci di saku celananya.
"Gue nginep sini ya," pinta Juna memelas.
Reno tak menanggapi, dia membuka pintu dan masuk. Dia segera menghempaskan tubuh lelahnya di atas kasur spons lapuk yang berbalut kain dengan motif grup sepak bola luar negri berwarna merah.
Betapa nyaman punggung tegangnya saat merasakan empuknya kasur. Hari ini cukup melelahkan karena Adik boss besarnya itu, Reno sampai balap-balapan agar segera sampai di rumah Clara.
Dan ...
Astaga, bayangan itu datang lagi ...
"Heh, Lo denger gue nggak sih?" tanya Juna sebal karena semua curhatannya tidak di gubris.
Reno mencoba menghapus bayangan yang terlintas dan segera bangun,
"Aduh, ada apa lagi sih? Pasti habis buntingin cewek nih!" tebak Reno menatap tajam.
"Enak aja, meskipun gue doyan begituan tapi gue lihat orangnya. Sembarang aja Lo," perotes Juna yang tidak terima.
Bukan tanpa alasan Reno mengatakan demikian, beberapa waktu lalu Juna sampai di teror seorang wanita yang minta pertanggung jawabannya. Lalu dia memutuskan untuk menginap beberapa waktu di kost Reno.
Tidak hanya itu, karena mulut yang manis melebihi gula satu truk. Juna sampai di kejar wanita yang tergila-gila dengannya, parahnya wanita itu istri orang. Hampir saja Juna babak belur karenanya.
Dan untuk saat ini, Reno tidak tau alasan apa lagi yang membuatnya harus bersembunyi di kosnya.
"Gue ... di kejar banci," jawabnya lirih.
"Lo, di kejar banci?" tanya Reno untuk memastikan pendengarannya tidak salah.
Juna hanya menggaruk kepala dan melempar pandangannya ke arah yang berbeda. Dia cukup malu mengatakan alasan gila ini.
Untung saja dia mempunyai teman yang bisa di andalkan untuk menjaga rahasia pribadinya, kalau tidak. Hilang sudah pamornya sebagai buaya kantor.
Melihat temannya yang mati kutu membuat Reno tak bisa menahan tawanya, tawanya pecah seketika. Dia sampai menahan perutnya yang kaku akibat tertawa terpingkal.
Untuk kali ini dia sangat prihatin dengan temannya, kalau dulu dia sering memarahinya saat mendapat masalah. Kali ini dia sangat prihatin.
Bagaimana bisa temannya yang gantengnya sudah seperti Jin BTS ini di kejar-kejar banci,
"Udah, puas!" ucap Juna memasang wajah lebih masam.
Reno semakin terpingkal melihat reaksi Juna, matanya sampai berair melihat temannya. Belum selesai dia tertawa, pintu kost di ketuk.
Mereka saling bertatapan, Juna mengatupkan kedua tangannya kedepan dan memohon pada Reno. Wajahnya menampakkan ketidak berdayaan
Reno bangkit dan membuka pintu, sedangkan Juna bersembunyi di dalam lemari.
"Hallo mas ganteng, ada mas Jin nggak?" tanya seorang wanita dengan paras hampir sempurna cantiknya.
Reno menatap wanita tersebut dari atas sampai bawah. Wanita ini sangat cantik, rambut pirang panjang. Postur tubuh putih mulus dan tinggi tegap.
"Jin siapa ya Mbak?" tanya Reno menahan tawa.
"Itu Lo, Mas yang rambutnya pendek segini. Terus tingginya segini, putih, ganteng, pagi anting." ucap Wanita tersebut sambil memperagakan postur tubuh Juna.
Ya, tanpa wanita tersebut mengucap semua ciri fisik. Reno sudah tau siapa yang dia maksud.
"Maaf Mbak, saya nggak kenal tuh." dusta Reno.
Wanita tersebut celingukan ke dalam kamar kost Reno, dia masih pantang menyerah dan tak gentar.
"Eh, Mbaknya ngapain? Nggak boleh gitu dong, ini privasi," protes Reno.
"Lah Mas sendiri ngumpetin pacar saya," Wanita tersebut tidak mau kalah.
"Enak aja ngumpetin, kenal aja nggak!" Reno semakin ngotot.
Wanita tersebut terdiam dan menatap lekat Reno, matanya menyusuri tiap inci tubuh Reno dari atas ke bawah. Lalu melempar senyum nakal.
"Mas suka ya sama aku," ucap wanita itu genit.
Seketika bulu kuduk Reno berdiri, amit-amit suka lihat aja udah mual.
"Enak aja, udah sama pergi." ucap Reno menutup pintu.
Tidak semudah itu, wanita tersebut menghalang dan mendorong pintu dengan kuat. Reno sampai kualahan di buatnya.
"Anj***Ng, gila lo, pergi sama!" bentak Reno sambil berusaha dengan penuh tenaga menutup pintu.
"Balikin pacar gue!" teriak wanita setengah pria tersebut dengan suara beratnya.
"Dasar banci, bikin rusuh aja Lo. Gue panggil warga nih ya kalo Lo nggak pergi!" ancam Reno masih mencoba menutup pintu.
"Balikin Jin nggak, gue sayang sama dia." wanita tersebut tetap tak gentar dan terus mendorong pintu.
Hingga ...
ceklek ...
Pintu berhasil di kunci saat Juna keluar dari lemari dan membatu Reno mendorong pintu. Napas mereka kembang kempis saat mendapati usaha mereka telah berhasil.
"Juna, awas Lo ya!" Teriak orang di luar.
Di dalam Reno dan Juna masih mencoba mengatur napas dan dada yang masih bergemuruh. Entah dari mana banci itu mendapatkan kekuatan besar ini.
Dua orang hampir kalah hanya dalam mengatasi satu banci,
"Besok gue mau ikutan fitnes aja, gue baru sadar kalau gue lemah banget." ucap Reno di tengah napas yang tersengal.
"Gue ikut, besok gue hajar tuh bencong. Gila, gue di tipu abis-abisan." sahut Juna yang juga mengatur napasnya.
"Otak Lo encerin dikit napa? Mata lo rabun hah!" ucap Reno yang kehabisan kesabaran.
"Kok gue sih!"
"Lha Lo, bisa-bisanya demen sama banci,"
"Gue nggak demen banci, dia aja yang nipu gue,"
"Lihat noh, dia mencak-mencak. Emang ada ya tersangka teraniaya,"
"Lah dia duluan bilang mau ngelayanin, giliran gue kasih duit. Terus gue pegang anunya ternyata samaan," celetuk Juna.
"Ih jijik gue, astaga. Kok bisa gue punya temen model kaya Lo!" jawab Reno bergidik ngeri.
****