I'M Sorry My Baby

I'M Sorry My Baby
Tidak Bisa Di Hubungi



"Kamu kok disini?" tanya Reno menunjuk Geovana yang sudah berdiri di depannya.


"Iyalah, tadi waktu aku pulang kerja kamu aku cariin nggak ada. Bisa barengan gitu ya sama Clara," Geovana mulai curiga.


"Emang ngapain nyari aku?" Reno mulai sebal.


"Mau neraktir, kan aku ulang tahun," jawab Geovana sambil menarik tangan Reno, reflek Reno menepis tangan tersebut.


Dia sudah memutuskan untuk memilih Clara dan tidak mau ada kesalah pahaman lagi, sejujurnya dia suka bila Clara sedikit cemburu padanya. Namun tetap saja menghindar dari masalah adalah jalan terbaik.


Terlebih dia adalah faktor mood Clara yang rusak beberapa hari ini,


"Kok gitu sih, aku udah nyiapin makanan loh." ucap Geovana sedikit kecewa.


Juna segera melerai kedua makhluk itu, lagian apa susahnya sih tinggal duduk dan segera makan. Andai saja mereka tau kalau cacing di perutnya ini sudah lapar.


"Reno cowok pinter dan baik sekantor, bisa nggak cepetan duduk. Lo tau nggak, gue pengen makan itu aja harus nunggu Lo balik," Juna mulai sebal karena Reno masih berdiri.


Dengan malas Reno duduk di samping Juna, berbanding terbalik dengan Geovana. Dia segera mengambil sebungkus nasi bungkus dan di sodorkan ke Reno lalu Juna.


"Maaf yaa cuka ini, nanti kalau gajian aku beliin yang agak enakan." ucap Geovana menatap Reno perhatian.


Juna segera membuka bungkusan tersebut, terdapat seporsi daging bebek goreng dan beberapa lalapan di tambah sambal terasi.


"Alhamdulillah, makan ..." ucap Juna dengan mata yang berbinar.


Apa boleh buat, demi menghormati makanan Rono segera melahap nasi bungkus pemberian Geovana. Agar semua segera selesai dan dia segera pulang.


Entah mengapa hatinya mulai tak tenang, padahal Clara tidak mengetahui semua ini. Tapi perasaannya merasa bersalah.


Setelah acara makan selesai, saat yang di nanti tiba. Geovana pamitan pulang dan kamar kost hanya menyisakan dua pria lajang yang saat ini sedang rebahan.


"Lo maruk banget sih, dua cewek Lo embat sekaligus." perotes Juna.


"Enak aja, emang Lo. Gue juga nggak tau Napa tuh cewek ****** terus." wajah Reno sudah sebal.


Dia teringat akan waktunya yang selalu terbuang sia-sia saat jam makan siang dengan Clara, selalu aja ada alasan gadis itu menganggu waktunya bersama Clara.


"Idih, kan masih cakep dia dari pada perawan tua itu. Mana galak lagi." ucap Juna mendorong kening Reno dengan telunjuknya.


"Biarin, yang penting gue suka wekk ..." ucap Reno melangkah masuk ke kamar mandi.


"Pasti barusan ngapa-ngapain ya ..." ledek Juna.


"Bodo amat," Reno tidak peduli dengan ocehan Juna dan memulai mandinya.


****


Clara baru saja keluar dari kamara mandi, aroma sabun dengan wangi bunga mawar semerbak memenuhi kamarnya.


Dia duduk di depan kaca, jemarinya menyentuh bibir yang baru saja di kecup lembut oleh seorang pria. Angannya seolah mengajaknya kembali ke detik-detik mendebarkan itu.


"Astaga, kok pengen lagi ... nggak-nggak, pasti gue udah gila ..." Clara bermonolong dan memukul kepalanya sendiri.


Sepertinya dia terlalu dekat dengan pria menyebalkan itu jadi terbawa suasana, sudah dua kali dia kecolongan seperti ini. Bukankah harusnya dia marah?


Matanya melirik sebuah permen kapas yang masih di balut pelastik besar, motifnya masih sama berbentuk hati.


Dia teringat akan ucapan Reno yang bilang kalau di dalamnya ada sebuah hadiah, Clara yang penasaran segera meraih permen tersebut dan mengamatinya dengan teliti.


Berulang kali dia membolak-balik permen tersebut namun tak ada tanda kalau ada suatu benda di dalamnya.


Ingin sekali dia membukanya, tapi sejujurnya dia belum rela. Baru kali ini dia mendapatkan hadiah permen dari seorang pria, terlebih itu permen kapas, makanan favoritnya.


Ponselnya berdering kencang, Clara meraih benda pipih tersebut dan membaca nama yang tertera di sana.


Ingin sekali dia menggeser tombol hijau, tapi jantungnya masih tidak bisa di ajak kompromi. Rasa bahagia masih menyelimuti hatinya dan bibirnya masih kelu untuk menyapa orang tersebut.


Ponsel berdering berkali-kali, namun Clara belum juga berani mengangkatnya. Hingga sebuah notif WA masuk ke ponselnya.


Reno : "Udah tidur yaa ... maaf ya tadi aku lancang.


Clara : "Maaf baru selesai mandi,"


Reno : " Udah di makan?"


Clara masih bimbang untuk menjawabnya, tak mungkin dia membalas tidak dan jujur kalau dia menyayangkan hal itu.


Membayangkan saja sudah pasti pria di ujung sana akan merasa besar kepala, Clara mencari alasan lain.


Clara : "Barusan sikat gigi, nggak berani makan manis,"


Reno : "Wahh rajin bener Ibu dari anak-anakku,"


Membaca chat seperti ini membuat jantung Clara berhenti berdetak, entah kenapa hati yang tadinya berbunga mendadak perih.


Jangankan menikah, membayangkan kalau dia punya anak saja membuatnya bergidik ngeri. Clara memutuskan untuk menaruh ponselnya di nakas.


Dia benar-benar masih belum siap menjadi seorang ibu, hal ini yang membuatnya mengulur waktu pernikahan.


Reno adalah pria yang baik, dia masih ingat betapa Reno sangat suka dengan anak kecil. Clara hanya merasa tidak mampu untuk mengurus seorang bayi mungil.


Bayangkan saja, dia mengatur emosinya saja tidak bisa. Apalagi mengurus bayi, baginya mengurus seorang bayi memerlukan mental yang kuat bukan.


Terlebih pasangan, mungkin saat ini Reno adalah pria yang baik. Tapi kita tidak tau kedepannya bukan? Apakah dia tetap seperti ini atau akan berubah.


Semua kemungkinan buruk selalu muncul di benak Clara yang membuatnya semakin bimbang dalam menentukan pilihan.


Belum sempat dia selesai berpikir ponselnya kembali berdering kencang, Clara meraih kembali benda pipih tersebut dan menatap layar ponselnya.


Matanya berbinar ketika membaca nama yang tertera disana.


"Hallo Mama, mama apa kabar?" tanya Clara riang.


"Hallo baby, kau ceria sekali malam ini." ucap Nadira ramah seperti biasanya.


"Bagaimana kabar Mama?" tanya Clara.


Clara tak sabar menunggu jawaban dari Nadira, dia menggeser tombol dengan gambar vidio ke atas.


Saat ini tampak wajah Nadira yang memenuhi ponsel Clara, dengan cepat Clara mencium layar ponselnya seolah Nadira saat ini ada di hadapannya.


"Kangen Mama ..." rengek Clara dengan mata berkaca-kaca.


"Stop, dia Mamaku saat ini. Gantian kau yang mengalah oke," sahut Mike dari belakang.


"Oke baiklah, aku akan mengalah semoga Kakakku segera mendapatkan jodoh yang tepat. Dan menyerahkan Mama lagi kepadaku dengan ikhlas," kekeh Clara.


"Bagaimana keadaan Papa?" tanya Mike dengan wajah merasa bersalah.


"Papa sudah mendingan, dia hanya syok saja. Mungkin besok lusa dia bisa keluar rumah sakit." jawab Clara.


"Aku tau harusnya saat ini waktunya tidak tepat. Tapi aku ingin mengundangmu dan Reno ke pestaku," ucap Mike.


"Pesta? untuk?" ucap Clara mengembangkan senyumnya. Dia berharap ini adalah pesta pernikahan Kakaknya itu.


"Dia mendapatkan proyek besar, dia hanya ingin berbagi kebahagian dengan adik comelnya," sahut Mama.


"Oke kak aku akan datang," jawab Clara tanpa pikir panjang. Kapan lagi dia akan bertemu dengan Mamanya.


"Ajak Reno," lanjut Mama dengan wajah penuh harap.


"Oke Mama," sahut Clara memberi hormat.


"Ya sudah, sudah malam. Kau harus jaga kesehatan. Cepatlah tidur." ucap Nadira sambil mengecup layar ponselnya.


Dengan berat hati Clara melambaikan tangan dan menggeser tombol merah. Seketika layar ponselnya berubah menjadi hitam.


"Mama, aku kangen banget ..." bisik Clara lirih.


Sedang di tempat yang berbeda ada seorang yang sedang gelisah ketika mendengar nomor yang dia hubungi memberi jawaban menyakitkan.


"Maaf nomor yang ada tuju sedang berada di sambungan lain ..."