I'M Sorry My Baby

I'M Sorry My Baby
Bab 69



Clara membuka mata, matanya membulat ketika melihat bajunya sudah berserakan di lantai. Kepalanya masih sangat berat, Clara memijat pangkal hidungnya untuk mengurangi sakit pada kepalanya.


Dia melihat sesuatu di ujung matanya, dengan cepat Clara menoleh ke samping. Dia semakin terkejut ketika melihat Reno yang tertidur dengan telanjang dada.


Clara mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi sebelumnya, namun kepalanya masih sangat sakit. Dia membuka selimut yang menutupi tubuhnya.


Dan benar, di tubuhnya tak ada sehelai kain pun. Hanya ada selimut tebal ini yang menutupi tubuh polosnya.


Matanya semakin berkaca saat melihat bercak merah yang menodai seprai yang berwarna putih.


Di saat yang bersamaan dia sudah ingat dengan apa yang terjadi di beberapa menit sebelumnya, seketika mata Clara berkaca, terdengar isakan lirih.


"Astaga, memalukan sekali." ucap Clara lirih.


Dengan hati-hati dia menggeser tubuhnya dan turun dari kasur, tiba-tiba pinggulnya di tarik oleh kedua tangan besar yang mendekapnya erat.


"Mau kemana?" tanya Reno dengan suara seraknya di telinga Clara.


"Mau mandi," jawab Clara singkat.


Reno membuka mata, di hadapannya terpampang sebuah punggung mulus tanpa noda. Reno bangun kemudian mengecup lembut dan menarik punggung tersebut mendekat.


"Maafkan aku, aku berjanji akan bertanggung jawab." ucap Reno memeluk Clara dari belakang.


"Kamu nggak salah, sepertinya aku yang ... mmmhhh," ucapan Clara terhenti saat tangan nakal Reno bermain nakal di bawah sana.


"Aku akan bilang ke Mama dan Kak Mike masalah tanggal resepsinya, mau nggak mau kamu harus mau." ucap Reno mempererat pelukannya hingga merasakan kulit mulus Clara yang menempel di dadanya.


"Terserah kamu, yang jelas aku nggak mau hamil dulu," ucap Clara masih bersikukuh.


"Sebenarnya apa yang membuatmu menolak seorang bayi, bukankah benihku baru saja ku tanam," ucap Reno meraba perut bawah Clara.


"Cukup, aku mau mandi." ucap Clara berdiri dan mencengkram selimut untuk menutupi tubuh polosnya.


Clara melangkah memungut bajunya yang berserakan dan melangkah menuju kamar mandi.


"Raa ... mandi bareng yuk ..." goda Reno.


Sejujurnya ini adalah momen siap dalam hidupnya, bisa-bisanya dia menyerahkan mahkota yang sudah dia jaga selama ini dengan cuma-cuma.


Awalnya dia merasa syok, tapi entah mengapa semua celotehan Reno selalu sukses menghapus sedihnya.


Clara melanjutkan langkahnya masuk ke kamar mandi, kepalanya sedikit berat sehingga jalannya terkuyung.


Reno segera bangkit dan menolong Clara untuk berjalan, mata Clara membulat ketika melihat tubuh polos Reno.


"Astaga, Lo ngapain sih? Sana pergi gue bisa sendiri," ucap Clara menutup matanya.


"Kenapa? Kan tadi kamu udah lihat semua," ucap Reno tanpa berdosa.


"Ih, minggir ..." Clara mendorong Reno dan segera masuk ke kamar mandi.


****


Sedangkan di lantai bawah, satu persatu tamu sudah berpamitan untuk pulang. Lantai bawah sudah sepi hanya ada Nadira dan Mike yang duduk.di sofa sambil bersandar.


"Astaga, capek banget." ucap Nadira memijit kakinya.


"Maaf Ya Maa, Mama jadi repot. Oiya Clara gimana Maa ..." tanya Mike khawatir, dia sampai lupa dengan adiknya yang sakit karena banyaknya tamu yang hadir.


"Nggak papa, ada Reno yang jagain." jawab Mama enteng.


"Beneran nggak papa Maa ... perasaan ku kok nggak enak yaa," ucap Mike mendongakkan kepalanya ke atas.


"Kamu lupa ya? Mereka kan suami istri, malah sudah ijab Kabul dua kali." kekeh Nadira.


"Kan tetep aja siri, kalau Clara di apa-apain gimana? Udah aku cek dulu." Mike tak enak hati dan segera beranjak.


"Stop! Jangan ganggu mereka, lagian mereka kan udah mau nikah. Biarin aja" Nadira tetap bersikukuh.


"Mike!" panggil Nadira lantang.


Mike tak peduli dengan teriakan Mamanya, dia terus menaiki tangga dan melangkah mendekati kamar di mana Clara sedang beristirahat.


Mike sudah sampai di depan pintu, dan di susul oleh Nadira di belakangnya. Mike mencoba menempelkan telinganya di pintu.


"Ayo cepetan gosok yang keceng dong," ucap Clara.


"Yang mana sih, sebelah mana?" Reno menggerutu.


"Yang ini loh, masa gitu aja nggak tau," sahut Clara.


Mata Mike dan Nadira saling bertatapan ketika mendengar percakapan dia insan yang beda gender tersebut.


"Susah, udah kamu aja. Aku yang bagian ngelapin." lanjut Reno.


"Nggak mau kamu aja, sakit tauk tanganku, udah pegel dari tadi." ucap Clara kelelahan.


Mike sudah tak tahan mendengar ini semua, dia tidak mau adiknya bertindak semakin jauh. Dengan sekuat tenaga Mike mendobrak pintu.


Mata Mike terbelalak ketika melihat Reno dan Clara yang terkejut akan kedatangan Mike yang tiba-tiba.


"Kak Mike, pintunya kan nggak di kunci. Ngapain di dobrak?" tanya Clara polos.


"Kalian ngapain sih?" ucap Mike sebal.


Alih-alih melakukan hal aneh-aneh, Clara dan Reno malah duduk di atas kasur dengan membawa tisu basah di tangan mereka.


"Lipstik Clara ngotorin sprei Kakak, udah di gosok pake tisu tetep aja nggak ilang," jawab Clara menunjuk sprei dengan noda merah.


"Udah nggak usah di bersihkan, kalian nginep disini apa pulang?" tanya Mike sebal.


"Kami pulang aja ya Kak, besok harus kerja. Kasihan Papa juga sendirian." jawab Clara yang segera turun dari kasur.


"Kamu sudah sehat?" tanya Mike melangkah mendekati Clara dan menyentuh keningnya, suhunya sudah kembali normal.


"Ya sudah hati-hati di jalan, sampaikan salamku ke Papa ya," ucap Mike lirih.


"Hati-hati di jalan Baby," ucap Nadira mengecup kening Clara.


****


Clara dan Reno sampai di depan rumah, namun mereka tidak langsung turun. Keduanya masih sibuk dengan lamunan masing-masing.


Clara yang tidak menyangka akan kehilangan mahkota indahnya, dan bahkan tak ada penyesalan sedikit pun di benaknya.


Dan Reno yang masih merasa bersalah karena tidak dapat menahan nafsunya yang bergemuruh tadi. Untung saja Mike tidak tau, kalau sampai tau pasti dia tidak bisa pula pulang dengan selamat.


"Masih sakit?" tanya Reno menatap Clara.


"Iya, sakit semua. Besok aku izin nggak masuk kerja," ucap Clara dengan wajah lelah.


"Maaf, aku ..." ucap Reno masih merasa bersalah.


"Aku mau masuk duluan," ucap Clara membuka pintu dan turun.


Reno membatu Clara untuk berjalan, tapi Clara menolak. Dia tidak mau ada orang tau dengan kondisinya saat ini. Termasuk Mbok Yem dan Pak Bejo.


"Udah kamu pulang aku nggak papa," ucap Clara dengan langkah tertatih membuka pintu dan masuk ke rumah.


Dengan berat hati Reno berbalik badan dan melangkah menuju motornya, sesekali dia menoleh ke arah pintu berharap kalau Clara kan keluar lagi dan melambaikan tangan ke arahnya.


Tapi itu semua tidak mungkin, mana ada seorang wanita begitu mudahnya untuk mengikhlaskan mahkota berharganya kepada seorang pria. Melihat Clara yang tidak marah saja dia sudah sangat bersyukur.


Reno naik ke motor dan melaju meninggalkan istana Clara, di samping itu ternyata Clara masih mengawasi Reno di balik jendela.


"Mungkin kalau memang pernikahan jalan terbaik, aku akan ikhlas melakukannya." ucap Clara sambil menatap kepergian Reno.