I'M Sorry My Baby

I'M Sorry My Baby
Pernukahan Palsu



Clara mulai terjaga, hawa dingin membuat dia enggan untuk beranjak dari kasur. Di tambah selimut tebal yang membalut tubuhnya semakin mendukung dirinya untuk semakin terlelap.


Di luar, langit petang sudah berganti menjadi jingga. Kokokan ayam jantan saling bersahutan menandakan bahwa hari baru telah di mulai.


Terdengar dering ponsel membuyarkan acara Clara untuk bermalas-malasan, dengan malas Clara meraih ponsel yang tak jauh dari kasur.


"Halo?" ucap Clara, dengan suara serak khas orang bangun tidur.


Tak ada sahutan dari seorang di ujung sambungan, tanpa menunggu waktu lama waktu Clara memutus sambungan.


Di hari liburnya, dia tak mau memikirkan hal-hal yang membuatnya frustasi. Hingga terdengar ponsel yang berdering kian keras.


Clara menahan emosinya dan menggeser tombol hijau ke atas.


"Hallo, dasar kurang kerjaan." ucap Clara, Jemarinya hendak menggeser tombol merah. Akan tetapi itu semua terhenti saat dia mendengar suara.


"Apa kabar, maaf pagi-pagi mengganggu." ucap Rico


Entah mengapa Rico tak membiarkan dirinya hidup tenang, padahal jelas-jelas dia sudah tau kalau dirinya sudah menikah.


"Apa kau kurang kerjaan? Aku sudah menikah dan jangan hubungi aku lagi." ucap Clara segera memutuskan sambungan sepihak.


"Apa yang kau maksud pernikahan palsu?" ucap Rico.


Seketika mata kantuk Clara terbuka lebar, dia segera bangkit dari tidurnya dan berdiri dari kasur.


"Aku tebak saat ini, suami dekilmu itu tak berada di sana," ucap Rico mengejek.


Yang di katakan Rico memang benar, akan tetapi Clara tak mau secara terang-terangan mengakui hal tersebut.


"Dia sedang di kamar mandi, bukankah setiap malam pengantin baru itu sangat panjang?" ucap Clara tertawa kecil.


Clara mencoba sebisa mungkin meyakinkan Rico bahwa ada Reno di sisinya, dia sudah jengah berurusan dengan pria gila ini.


Sudah jelas-jelas kalau dia berselingkuh dan main gila dengan wanita lain, untuk apa dia mengganggu ketenangan Clara?


"Oiya? Apakah sepanas aku bersamanya dulu?" ucap Rico menyeringai.


"Lebih panas, dan ... haruskah aku menjelaskan betapa rudalnya lebih garang darimu?" ucap Clara dengan amarah.


Semoga saja ucapannya ini bisa membuat Rico berhenti mengganggunya lagi, otaknya harus memikirkan resepsi yang tidak dia harapkan.


"Dasar, harusnya kau bisa mencoba itu denganku dulu. Sebelum memutuskan bersamanya." ucap Rico menggerakkan giginya.


"Sayangnya kau dengan bangga menolakku dan lebih memilih wanita lain, jadi jangan ganggu malam-malam panasku. Karena aku tak sedikitpun mengganggumu!" ucap Clara mematikan sambungan.


Clara mencengkram rambut ikal panjangnya, tampak mata yang mulai berkaca. Otaknya sudah tak mampu memikirkan apa yang harus dia lakukan.


Di tambah ada kabar baik sekaligus buruk dari Mamanya, dia sudah boleh pulang hari ini. Dan pasti kalian tau apa artinya itu kan.


Secara tidak langsung Reno akan tinggal di sini, dan yang lebih buruknya lagi. Mereka tinggal satu ranjang, Astaga. Clara tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kepadanya.


Dia juga tidak tau siapa itu Reno? Asalnya? Pergaulannya, dan terlebih apa motifnya untuk bersedia menikahi perawan tua seperti Clara.


Meskipun dia sangat senang karena Mamanya sudah pulih dan sehat, tapi kecemasan akan selalu mengintai hari-harinya.


"Ugh, aku bisa gila kalau begini!" ucap Clara memukuli kepalanya sendiri.


Di tempat yang berbeda, Reno sedang terbaring dia kamar kost sempitnya. Berulang kali dia melempar pandangan ke layar ponsel kemudian ke atap.


Otaknya tak mampu beristirahat dari semalam, sepulang dia dan Clara menjenguk Mama mertuanya itu. Orang yang secara tidak langsung menyeretnya masuk ke hubungan rumit ini.


Mama Clara akan pulang dari rumah sakit hati ini, dan dia akan menjemputnya bersama dengan Clara. Dia tak mempermasalahkan hal itu, hanya saja ...


Mampukah dia hidup berama di lingkungan Clara? Glamor, Mewah, Berkelas. Sedangkan posisinya saat ini berbanding terbalik.


BERSAMBUNG.....