I'M Sorry My Baby

I'M Sorry My Baby
Part > 41



Tanpa pikir panjang Reno segera melangkah masuk menuju mesin ATM untuk menemui Juna yang sedang membongkar mesin.


"Jun, lo bisa kan bawa mobil sendiri?" tanya Reno dengan wajah khawatir.


"Napa lo? nggak betah banget pisah sama Bos jutek sebentar aja," jawab Juna dengan senyum tipis.


"Gue mau mudik, Ibu gue sakit." ucap Reno yang segera pergi.


Mata Juna terbelalak mendengar ucapan temannya tersebut, dia segera melangkah membuntuti langkah Reno.


"Bentar aja, gue anter ke terminal," ucap Juna menawarkan bantuan.


"Nggak pa pa gue bisa sendiri," Reno melambungkan tangannya ketika melihat sebuah mikrolet yang lewat di hadapannya.


Juna hanya dapat melihat kepergian temannya dan berdo'a semoga semua akan baik-baik saja.


****


Di tempat yang berbeda, Clara sedang duduk di kursi kerjanya. Matanya menatap layar laptop. Namun tidak pada otaknya.


Hatinya masih dongkol akibat tingkah Reno, belum jadi suami nya saja dia bisa membantahnya seperti ini. Apalagi kalau sudah? Pasti setiap hari akan ada perang dunia.


Berulang kali Clara menghubungi nomor Reno, dan lagi-lagi dia di buat emosi karena tidak ada jawaban. Ingin sekali dia menyeret nya saat ini juga.


Jam sudah menunjukkan pukul 04.00 sore, dan belum ada kabar apapun dari Reno. Bahkan Clara tidak bisa bekerja dengan konsentrasi.


"Apakah kau sangat menikmati rumor di kantor ini, dasar Sopir gila," ucap Clara menggerutu.


Clara memutuskan untuk segera pulang, karena percuma saja kalau dia memaksakan bekerja saat ini. Otak dan tubuhnya tidak singkron, terlebih lagi perasaannya yang masih diliputi amarah. Yang ada semua pekerjaan nya akan sia-sia karena banyak kesalahan.


Langkah Clara terhenti saat tangannya sudah memutar ganggang pintu.


"Astaga, apa yang harus aku bilang ke Papa-mama kalau pulang sendiri?" ucap Clara bermonolog.


Amarah yang tadi sudah dia coba padamkan malah semakin berkobar, dia meraih ponsel dan mencoba menghubungi suami palsunya tersebut.


Sudah beberapa kali panggilan yang tak kunjung tersambung, hingga pada akhirnya ...


"Bisakah kau mengerti perasaan orang lain, dan tidak egois. Tidak setiap saat orang akan mentoleransi semua tingkah angkuhmu itu," jawab Reno.


"Apa!" Clara tak menyangka akan mendapatkan respon yang sama sekali tidak dia bayangkan.


Sebelumnya sikap Reno sangatlah lembut dan tidak pernah sedikitpun membantah ucapannya, dan saat ini?


"Tidak hanya orang tuamu, dan terutama kau yang harus di mengerti ..." ucap Reno kesal dan menutup sambungan sepihak.


Ponsel masih menempel di telinganya, badannya seakan membatu mendapat perlakuan Reno yang demikian.


Perlahan Clara duduk di kursinya, matanya memanas dan mengeluarkan beberapa tetes buliran bening.


****


"Argh, kenapa aku harus mengatakan seperti itu?" ucap Reno yang merasa bersalah.


Saat ini dia sedang di perjalanan, entah mengapa dunia tak berpihak kepadanya. Ban bis yang dia tumpangi tiba-tiba pecah.


Sehingga Reno tak dapat sampai di rumah telat waktu. Otaknya di penuhi dengan kekhawatiran ditambah lagi dengan ocehan Clara, sehingga membuat Reno tak dapat mengendalikan emosinya.


Reno ingin sekali menjelaskan banyak hal, tapi waktu yang kian sore membuat dia memilih mencari tumpangan terlebih dahulu.


Dia harus sampai ke rumah sakit segera, Reno segera mengayunkan langkahnya menuju kampung halaman. Sembari menunggu angkutan umum lainnya lewat.


Sekitar 500 meter, dia melihat ada sebuah mobil yang terparkir di tepi jalan. Tampak seorang wanita yang sedang mengotak-atik mesin.


Melihat wanita yang butuh bantuan, Reno segera bergegas mempercepat langkahnya.


"Bisa di bantu Mbak?" sapa Reno.


Wanita tersebut membalikkan badan ...


"Loh kamu!"