
Reno membalik badan, kakinya terasa berat untuk melangkah kembali masuk ke kantor. Ingin rasanya dia langsung tancap gas pulang.
"Ehemm ..." Juna berdehem sambil menyilangkan tangan di dadanya.
Melihat wajah Juna yang penuh arti membuat Reno lebih memilih menghindar. Dia tak mampu menjelaskan tentang hubungannya yang begitu rumit.
"Eits ... Mau pergi kemana?" ucap Juna segera melangkah menghadang langkah Reno yang menghindarinya.
Reno menatap sekilas wajah temannya yang di penuhi tanda tanya besar tersebut. Kemudian mendorongnya lirih.
"Lo tuh tega baget sama gue," Juna berkacak pinggang.
"Sumpah, gue masih males untuk debat." ucap Reno melangkah melewati Juna.
"Makanya cerita dong dikit aja, kok bisa gitu lo menaklukan cewek macem Clara. Ck ... ck ..." Juna berdecak sambil menggeleng kepalanya lirih.
Dia sangat kagum kepada temanya, ternyata dirinya tidak sepolos yang di pikirkan boleh Juna. Ternyata kecurigaannya benar, temanya memang sudah mendapatkan pengganti Tasya. Tapi dia tidak menyangka kalau dia adalah Bos galaknya.
Reno melangkah menuju kantor lewat pintu belakang, syukurlah dia hanya seorang supir. Jadi tidak perlu bertemu banyak orang di dalam.
Dia melewati pintu yang menuju anak tangga, satu persatu anak tangga dia naiki hingga akhirnya sampai di loteng atas.
Saat ini, disinilah tempat yang aman dan nyaman baginya. Tidak ada sorotan mata tajam dan pertanyaan yang tidak mampu dia jawab.
Dia menyentuh bibirnya, hangatnya kecupan Clara masih tersisa di sana. Reno tak menyangka kenapa dirinya bisa lepas kendali seperti tadi, untung saja scurity datang tepat waktu. Kalau tidak? Entah dia harus senang atau sedih.
Deringan ponsel terdengar nyaring, Reno segera meraih ponsel yang terselip di saku belakang celananya
"Heh, kemana lo? Main kabur aja. Cepet kesini!" ucap Juna di ujung sambungan.
"Pasti alasan Lo aja nih," ucap Reno masih malas.
"Seneng banget Lo makan gaji buta. Cepet kesini," ucap Juna mematikan sambungan secara sepihak.
Sepertinya memang ada pekerjaan yang harus di kerjakan, mendengar intonasi Juna yang sangat serius
Dia segera melempar pandangan di sudut loteng tersebut. Matanya terbelalak ketika melihat seorang gadis yang sudah bersiap melompat.
Reno segera melangkah mendekatinya,
"Mbak, mbak ngapain disitu?" tanya Reno perlahan.
Tak ada jawaban, yang terdengar hanyalah isakan pilu. Sepertinya gadis ini sedang mengalami cobaan berat di dalam hidupnya.
"Semua masalah pasti bisa di atasi kok Mbak," ucap Reno semakin mendekat.
"Pergi, gue nggak butuh lo!" bentak gadis tersebut.
"Semua cowok sama aja, gue udah nggak mau hidup lagi," ucap gadis tersebut.
Langakah demi langkah Reno akhirnya bisa mendekati gadis tersebut, bila di lihat dari penampilannya sepertinya dia bukan orang biasa.
Semua pakaian terlihat stylish, di tambah dengan aroma parfum yang begitu memanjakan indra penciuman Reno.
Reno sampai berpikir keras, kenapa semua gadis kaya selalu di hadapkan dengan masalah pria hidung belang. Baru saja Clara dan sekarang ...
Entah siapa dia? Yang jelas Reno harus segera menolongnya. Dan memberi motivasi hidup untuknya.
Bayangkan saja, di luar banyak sekali orang yang berjuang untuk hidup. Dan saat ini, dengan mudahnya dia mau mengakhiri hidupnya dengan mudah.
"Yuk mbak kita pulang, aku traktir deh. Seblak, es krim, coklat, atau apa?" tanya Reno bersemangat.
Gadis itu tetap tak bergeming, dia malah sudah merentangkan kedua tangannya. Seolah saat ini dia bersiap untuk terbang.
Perlahan dia menjatuhkan tubuhnya, untung saja Reno cukup cepat meraih pinggang rampingnya dan segera menariknya dari tempat berbahaya tersebut.
"Aww ..."