I'M Sorry My Baby

I'M Sorry My Baby
Bab 64



Ponsel Clara berdering kencang, dia segera menghentikan langkah dan meraih ponsel yang terselip di saku jasnya.


"Hallo, Papa?" ucap Clara membuka percakapan.


"Apa?" mata Clara membulat dan segera mematikan sambungan.


"Anter aku cepet," ucap Clara pada Reno yang baru saja berdiri di belakangnya.


"Papa masuk rumah sakit," ucap Clara segera menarik tangan Reno.


Mendengar kabar itu Reno dan Clara segera berlari kecil menuju parkiran, Reno menyiapkan motor. Reflek dia memasangkan helm di kepala Clara.


"Kok gue yang pake, kan Lo yang nyetir," perotes Clara.


"Udah pake aja, dari pada pingsan di jalan." ucap Reno yang segera menyalakan mesin motor bututnya.


Mereka naik dan melesat menuju rumah sakit, ini kali pertama Clara naik motor melewati jalanan ibu kota. Di tambah lagi dia tidak memakai jaket.


Cahaya matahari yang terik membuat kulit Clara terasa terbakar, namun dia enggan untuk protes ke Reno. Saat ini kondisi Papanya lebih penting.


Dia sudah tak memiliki seorang Ibu dan Mama, dia tak mau kehilangan orang terpenting dalam hidupnya lagi.


Berulang kali Reno melempar pandangan lewat spion, terlihat wajah Clara memerah. Reno meraih kedua tangan Clara dan menuntunnya untuk berpegangan erat.


"Maksud lo apaan sih?" perotes Clara lagi.


"Panas, kamu mau jadi item." sahut Reno.


Clara hanya memutar bola matanya, mungkin kata Reno ada benarnya juga. Tapi posisi seperti ini membuat dirinya sedikit tak nyaman.


Satu tangan Reno memegang setir sedang tangan satunya sibuk menata Tangan Clara sedemikian rupa agar tidak terlalu terkena terik matahari.


Setelah 30 menit berlalu, akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Mereka turun dan seger masuk,


"Ruangan Pak Tyo sebelah mana ya Sus?" tanya Clara pada seorang suster yang lewat.


"Mbak lurus saja terus belok kanan, kamar nomor 3 ya mbak. " Jawab suster yang lain.


Clara segera melangkah menuju tempat yang di beritahu Suter, setelah menemukan ruangan tersebut dia segera membuka pintunya.


Tampak pria paruh baya yang sedang tergeletak lemas, terdapat beberapa alat medis yang terpasang di tubuhnya.


Clara melangkah mendekat dan duduk di sampingnya.


"Papa nggak papa? Kok bisa gini sih Paa ..." tanya Clara menatap khawatir Tyo.


Tyo tersenyum kecil, dia tidak menyangka akan mendapatkan perlakuan seperti ini. Padahal dia sudah menghancurkan hidup putrinya.


"Papa minta maaf ya," ucap Tyo lemah.


"Papa nggak tau harus ngapain lagi, Papa takut kamu ikut Mama lalu ..." lanjut Tyo dengan mata berkaca-kaca.


"Stop, Clara tetap disini sama Papa. Asal Papa janji yaa, nggak boleh banyak pikiran lagi. Kalau seperti ini siapa yang susah, Papa juga kan?" ucap Clara lembut sambil mencium punggung tangan Papanya.


Belakangan ini Tyo khawatir kalau Clara lebih memilih hidup bersama Nadira, itu sebabnya dia memberikan sebagian besar hartanya untuk Mike dengan tujuan agar Nadira dan Mike tetap tinggal.


Namun semua tak berjalan lancar, Mike tidak menginginkan semua ini dan tetap bersikukuh untuk membawa Nadira pergi.


"Kita mulai dari awal ya Paa ... Papa janji kali ini harus jaga komitmen, jangan pernah ada yang di tutupi dari Clara." ucap Clara lembut.


Clara yakin Papanya bisa berubah lebih baik lagi, bila Mamanya bisa membuka lembaran baru. Kenapa Papanya tidak?


****


Reno dan Clara duduk di kantin rumah sakit, tak ada obrolan serius, hanya ada suara riuh pengunjung kantin dan dentingan sendok dan piring yang bertabrakan.


Reno dan Clara masih fokus dengan seporsi nasi Padang yang ada di hadapan mereka, maklum sekarang sudah jam 5 sore. Mereka belum sempat makan siang tadi.


"Jadi bagaimana?" tanya Reno menatap Clara.


"Apanya?" Clara balik bertanya dengan menautkan kedua alisnya.


"Resepsi," sahut Reno dengan santai.


Rico, Papa-mamanya di tambah lagi Ibunya yang bahkan dia sendiri belum pernah melihat wajahnya. Mereka semua tersiksa karena satu kata yang mengikat perasaan masing-masing.


"Nggak usah di pikirin, lagian kalau di paksain itu nggak enak." sahut Reno.


Clara mencoba mencerna ucapan Reno, angannya melayang mencari jawaban.


"Maksudnya nggak enak?" tanya Clara masih mencerna kata-kata Reno.


"Yaa ... nggak enak aja, udah lupain. Pak Tyo sakit apa?" tanya Reno mengganti tema pembicaraan.


Selain galak ternyata Clara memang benar-benar gadis yang masih sangat polos, bahkan tidak ada pikiran neko-neko di otaknya.


"Papa cuma syok aja tadi, Kak Mike datang ke kantor. Dia menolak warisan yang pemberian Papa." ucap Clara memasang wajah sedih.


"Kok bisa?" tanya Reno.


"Bisa, Papa masih berat pisah sama Mama. Sedangkan Kak Mike ... Taulah kan, kalau aku di posisi Kak Mike, aku akan melakukan hal yang sama,"


"Untuk apa bertahan dengan sebuah ikatan pernikahan tanpa cinta dengan dasar penebusan dosa, aku juga merasa jahat banget sama Mama," lanjut Clara menatap kosong ke arah piring di hadapannya.


"Tanang, ada aku kok." sahut Reno menggenggam jemari Clara, reflek Clara menarik tangannya.


"Jangan pernah bilang begitu lagi, makin sakit." ucap Clara beranjak dari kursi dan meninggalkan Reno begitu saja.


Reno segera membayar makanannya dan berlari kecil menyusul Clara yang berlari menuju parkiran.


"Tunggu, mau kemana?" tanya Reno yang berhasil meraih tangan Clara.


"Mau pulang," jawab Clara singkat.


"Bilang dong, yuk," ucap Reno menggandeng tangan Clara menuju motornya.


Mereka melaju meninggalkan area rumah sakit, alis Clara berkerut ketika melihat motor Reno berbelok ke arah yang berbeda.


"Mau ..." ucap Clara.


"Udah diem, ntar juga tau." sahut Reno dengan santai.


Mereka berbelok ke arah taman kota, di sudut taman terdapat pohon beringin yang cukup besar. Reno berbelok ke arah parkiran, di sana terdapat banyak lampu berwarna kuning yang menerangi jalanan taman.


"Kok kesini sih, Papa gimana?" perotes Clara.


"Katanya mau pulang, gimana sih?" sahut Reno.


"Iya pulang, kan mau mandi terus balik lagi jagain Papa," jawab Clara.


"Yaudah, bentar aja 10 menit." ucap Reno menarik tangan Clara setelah memarkirkan motor di bawah pohon beringin.


Reno masuk ke area taman, di sana ada banyak sekali pasangan keluarga kecil yang sibuk bermain dengan anak-anak.


Di sana juga ada banyak permainan yang dapat di mainkan anak-anak bahkan muda-mudi, Reno terus berjalan melewati kerumunan orang dan berhenti di depan sebuah penjual tahu goreng.


"Astaga, mau makan tahu aja ribet banget. Di rumah sakit tadi kan banyak, nggak perlu antri kaya' gini!" keluh Clara yang melipat tangannya kedepan.


"Ini bukan sembarang tahu goreng, makan dulu baru komen," ucap Reno yang segera berjongkok di depan penjual tahu.


"Satu porsi ya pak," ucap Reno.


"Mas nya, lama nggak kesini. Kok ganti ceweknya?" tanya penjual tahu goreng ramah.


Entah mengapa belakang ini Clara sedikit sensitif bila mendengar Reno dekat dengan seorang wanita selain dirinya.


"Cantik mana Pak?" sahut Reno sambil melirik Clara.


"Cantik ini sih, tapi sedikit galak." ucap Pak penjual tahu goreng yang terlalu jujur.


"Ah masa sih Pak, baik kok pacar saya. Cuma belom kenal aja," Reno tersenyum kecil.


"Senyum dikit dong sayang ..." goda Clara.


Entah mengapa Reno semakin gemas ketika melihat Clara manyun dan memasang wajah masam