
Juna masih duduk menikmati senja, sedangkan Reno sedang sibuk mencari angkot yang lewat. Untung dia bertemu tukang ojek berjaket hijau. Dia segera melambaikan tangannya dan naik di bangku belakang.
Reno segera melaju dan mengikuti mobil Clara, jalanan yang ramai membuat Reno sesekali kehilangan mobilmnya. Mungkin takdir sudah menggariskan, jadi Reno dapat mengejar mobil Clara kembali.
Belakangan ini bayangan Clara selalu mengusiknya, hatinya mang remuk karena pertunangan kekasihnya. Akan tetapi, bayangan Clara lebih dominan mengganggu malam-malam nya.
Bayangan Clara yang menangis di lift, serta wajah sedih yang dia pancarkan saat di mobil membuat hati Reno terketuk untuk mengenalnya lebih dalam.
Walau semua orang kantor bilang kalau Clara adalah sosok direktur yang jahat, tapi tanpa mereka tau. Di balik semua itu, ada jiwa yang rapuh.
Dia hanya ingin membuktikan kepada semua orang kalau Clara tidak seburuk yang mereka kira, semua terlalu over saat menanggapi Clara terlebih temannya, Juna.
Mobil Clara berhenti di depan rumah sakit, Mata Reno kian terbelalak. Terlebih saat melihat Clara yang turun dari mobil dengan linangan air mata yang membasahi pipinya.
Clara berulang kali mengusap air matanya dan melangkah memasuki rumah sakit dengan sedikit berlari kecil.
Reno segera turun dari ojek dan membayarnya, dia melangkah kian cepat menuju rumah sakit.
"Mas Reno?" panggil Pak Bejo saat melihat Reno yang sekilas berlarian di depannya.
Reno menghentikan langkahnya, sepertinya suara yang memanggilnya tak asing di telinga. Reno segera berbalik dan melihat sopir pribadi Clara disana.
Reno mengurungkan niatnya untuk mengejar Clara dan melangkah mendekati Pak Bejo.
"Siapa yang sakit Mas ?" tanya Pak Bejo.
Seketika Reno membatu, tak mungkin kalau dia bilang kesini mengikuti Clara. Dan khawatir akan keadaanya, bahkan dia bukanlah siapa-siapa.
Reno menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil mencari alasan yang tepat. Sedangkan pak Bejo menatap serius me arah Reno.
"Sa-Saya, mau menjenguk saudara di dalam Pak," dusta Reno.
Pak Bejo hanya tersenyum kecil, seolah dia sudah mengetahui segalanya. Dia hanya duduk di sebuah batu besar dan mengeluarkan sebatang rokok.
Sesekali dia menatap Reno yang masih menampakkan wajah bingungnya, Pak Bejo mengulurkan sebatang rokok ke Reno.
Reno hanya menggeleng dan tersenyum kecil, karena Reno memang bukan perokok sejati. Sesekali dia merokok, itupun saat pikirannya kacau.
"Sa-sakit, tipes pak," jawab Reno sambil memamerkan deretan gigi putihnya.
Ingin sekali Pak Bejo melepaskan tawanya, sangat sulit orang menipu kalau memang dirinya tidak pernah menipu orang.
Belum sempat membuka kedok Reno, Clara berlarian menuju mobilnya. Dia memegang perutnya dan menata nafasnya yang tersengal.
"Ponsel Pak Bejo kemana sih? dari tadi di telfonin juga," ucap Clara sambil tersengal.
"Maaf Non, ponselnya di mobil." ucap Pak Bejo mematikan rokoknya.
"Mama ... Mama kritis. Pak Bejo di cari Mama," ucap Clara dengan mata berkaca.
Mendengar itu, tak hanya pak Bejo yang terkejut. Bahkan, Reno semakin bersimpati kepada Clara, padahal kemarin dia baru saja di sakiti oleh kekasihnya, dan saat ini. Mamanya harus sakit.
Sesekali Clara menghapus air mata yang berlinang, Pak Bejo segera melangkah masuk ke rumah sakit. Di susul oleh Reno dan Clara.
"Loh, kamu ngapain disini?" tanya Clara.
"Sa-Saya mau menjenguk saudara yang sakit, ternyata Bu Clara juga disini," jawab Reno sesekali menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Clara mulai acuh dengan keberadaan Reno, dia masih sibuk menghapus air matanya dengan lengan kemejanya.
"Pake ini Bu," ucap Reno menyodorkan sapu tangan.
Di era secanggih ini, ternyata masih ada segelintir cowok yang kemana-mana masih membawa sapu tangan.
Clara mematung, dia tak menyangka hal ini akan terjadi. Karena biasanya dia memakai tisu.
"Ini higenis kok Bu," ucap Reno sambil sesekali meneguk liurnya, takut kau Clara akan berpikir negatif.
"Terimakasih," ucap Cakra sambil meraih sapu tangan yang di ulurkan Reno.
BERSAMBUNG....