I'M Sorry My Baby

I'M Sorry My Baby
Lo Yang Bawel



"Aku berdo'a semoga kau selalu bahagia meskipun tak bersamaku, aku yakin itu." ucap Reno melangkahkan kakinya menuju halaman dan mengendarai motornya.


Tasya hanya menunduk, sambil sesekali mengusap air mata yang hendak menetes di pipinya menggunakan tisu.


Seorang menepuk pundak Tasya, seketika dirinya terkejut. Jantungnya berdegup kian kencang, dan perlahan berbalik.


"Maafkan Ibu Nak," ucap Bu Rossa.


"Semua sudah terjadi, aku berharap ibu dan ayah segera berubah. Karena aku tidak mempunyai apapun lagi untuk di korbankan," ucap Tasya yang melangkah melewati ibunya.


Tasya melangkah memasuki kamar, mencoba menenangkan hatinya. Dia tak menyangka kekasihnya akan hadir di acara pertunangannya, lidahnya sangat kelu untuk menjelaskan segala hal.


Hidupnya bagai benang kusut yang tak dapat mencari dimana ujung benang, semuanya rumit tak dapat di kontrol.


Di dalam sedihnya, dia berdo'a semoga kekasihnya segera mendapatkan kekasih yang lebih baik darinya, yang pastinya bisa menerimanya apa adanya.


Terdengar ketukan pintu dari luar, Tasya segera menghapus air matanya dan melangkah keluar. dia membuka pintu, tampak seorang yang beberapa menit lalu telah sah menjadi tunangannya.


Melihat Tasya menangis membuat pria itu khawatir dan segera masuk ke kamar Tasya.


"Kamu kenapa?" ucap Romi.


"Aku nggak papa kok Mas, cuma sedikit pusing," dusta Tasya.


"Pusing? yaudah cepetan istirahat dulu gih," ucap Romi menuntun Tasya ke kasur.


"Aku belikan obat ya?" tawar Romi.


Dia membantu Tasya merebahkan tubuhnya ke kasur, Romi mengecek suhu tubuh Tasya dengan tangannya. Matanya menampakkan rasa kekhawatiran yang tulus.


Sungguh dia ingin terjun ke jurang saja saat ini, di hari yang sama dia sudah melukai perasaan 2 orang lelaki yang sangat baik.


'Ya jelas nggak panas, orang aku aja syok. bukan sakit' batin Tasya yang semakin merasa bersalah.


Entah mengapa Tuhan memberikan ujian seperti ini, dia sudah seperti orang terjahat di dunia. Di saat semua orang mencari seorang yang tulus dalam menjalani sebuah hubungan, dirinya malah dengan mudah mengkhianati orang-orang tersebut.


***


Di tempat yang berbeda, Reno telah sampai di sebuah danau yang tak jauh dari desanya. Dulunya di sini adalah tempat favoritnya dengan Tasya.


Saat dia pulang dari kota, dia selalu pergi ke sini bersama Tasya. Tapi kepulangannya saat ini sangat berbeda.


Seorang yang biasa menemaninya sudah bahagia dengan kehidupannya, Reno tak menyalahkan Tasya. Mungkin dia memang kurang kerja keras, sehingga Tasya lebih memilih pria lain.


Persisnya 3 tahun mereka menjalin hubungan, Tasya sudah cukup sabar dengan segala kesibukan Reno. Dia tak pernah mengeluh ataupun menaruh curiga.


Atau mungkin, memang hatinya sudah terlalu lelah menanti kepastian dari Reno. Yang jelas saat ini, perasa. Reno sedang kacau.


Di tengah kekacauan hatinya, ada seorang yang harus dia jaga saat ini, ibunya. Ya ... bagaimana dia akan menghadapi pertanyaan ibunya nanti?


Otak Reno sudah tumpul dan tak bisa berpikir, Matanya masih menatap air tenang danau yang memantulkan sinar matahari pagi.


Ponsel Reni berdering nyaring, tampak nama Juna di sana. Sepertinya dia sudah sehati dengannya, sampai dia tau kalau Reno sedang sakit hati saat ini.


"Gimana? udah ketemu," tanya Juna, yang sepertinya sudah mengetahui segalanya


"Lo udah tau ya?" tanya Reno lirih.


"Kan gue udah bilang, Lo nya aja yang bawel." ucap Juna sewot.


BERSAMBUNG.....