
Di sebuah kamar yang cukup luas dengan nuansa pink, dua orang manusia sedang duduk di ranjang. Mereka saling membelakangi, di tambah raut wajah yang amat tegang.
Reno dan Clara tak ada pilihan lain, saat ini tak ada alasan bagi mereka untuk menolak permintaan Mamanya.
Hanya 2 kata saja, mamanya mampu menepis semua alasan mereka. Dan itu sebuah fakta yang tak bisa gdihindari.
"Kamu mandi dulu, aku akan cari baju untukmu di kamar sebelah." ucap Clara beranjak dari kasur, sembari melangakhkan kaki menuju pintu.
Reno hanya terdiam, saat ini dia mencoba memahami situasi. Semoga saja tidak akan terjadi apa-apa nanti malam saat dirinya tidak sadar.
Entah mengapa perasaanya tidak enak saat ini, seolah akan ada sesuatu yang terjadi nantinya. Terlebih Mama Clara, seolah ada sesuatu yang di sembunyikan olehnya.
Reno tak menutup mata tentang fakta sebelum dirinya menikah dengan Clara, semua keluarga Clara tidak yakin dengannya.
Kenapa tiba-tiba mendadak begitu baik? Reno tetap mencoba positif thinking. Dia segera memutuskan untuk segera memutuskan untuk mandi. Dia tak mau kejadian pagi tadi terulang kembali.
Reno masuk ke kamar mandi, saat ini kamar mandi yang dia pakai sangat berbeda dengan sebelumnya, mungkin karena ini adalah kamar Clara sehingga nuansa nya berbeda.
Mata Rno terbelalk seketika, pandangannya tertuju pada sebuah kastok yang terpajang di sudut ruangan. Meskipun otak Reno belum pernah tercemar, tapi dia juga pria tulen yang bisa terangsang kapan saja.
Belum 1 jam berada di kamar Clara dia sudah di hadapkan sebuah cobaan, saat ini tepat di hadapannya terpampang sebuah bra degan warna terang dan berenda. Ukurannya cukup besar, membuat Reno tak sengaja membayangkan bagaimana isinya.
Seketika Reno tersadar saat pintu kamar mandi di ketuk, dia segera membuyarkan lamunannya.
"Aku tunggu di bawah, bajunya di tempat tidur. Papa sama Mama sudah nunggu di bawah," ucap Clara.
"Iya, sebentar lagi." jawab Reno.
Clara melangkah keluar kamar, akan tetapi dia teringat sesuatu yang membuat menghentikan langkahnya.
Bagaimana mana bisa dia begitu teledor meninggalkan pakaian dalamnya yang terpampang nyata di pojok kamar mandi.
Harusnya dia selalu mendengarkan apa kata Mamanya selama ini, Clara mengacak rambutnya. Hatinya bimbang untuk mengetuk pintu.
Hingga akhirnya dia memutuskan untuk pergi dari kamar sebelum kejadian yang tak diinginkan terjadi, kejadian pagi tadi sudah sukses membuat otaknya terkontaminasi.
Dan saat ini entah apa yang ada di pikiran pria di dalam sana, semoga otaknya tidak terkontaminasi sama sepertinya.
Clara duduk di ruang tamu, Papa dan Mamanya mempertahankan wajah putrinya yang memerah padam. Terlukis senyum kecil di antara keduanya.
"Kamu tinggal dulu nggak pa pa kok," ucap Mama menggoda.
"Maksudnya?" ucap Clara menatap bingung ke arah kedua orangtuanya.
"Maaf ya, mungkin Papa dan Mama mengganggu waktu kalian berdua. Tapi kami janji kok nanti nggak bakalan lama ngobrol sama Reno," ucap Mama memainkan mata.
"Mama kenapa pasang eskpresi kaya' gitu, Aku sama Reno ..." ucapan Clara terpotong setelah dia mengingat sesuatu.
"Ma-maksudku, kami belum begituan. Kan Aku masih datang bulan Maa," ucap Clara.
Mama memutar bola matanya dan menggelengkan kepalanya lirih. Seperti yang di katakan Clara, Mamanya tak mudah untuk di bodohi. Terlebih bila alasan itu tidak masuk akal.
"Jangan menghindar, bukankah pria itu pilihanmu?" Tanya Mama seolah tau apa yang ada di pikiran Clara.
"Iya, ta-tapi kami memutuskan untuk Childfree ..." ucap Clara tanpa berpikir panjang.
"Apa?"