I'M Sorry My Baby

I'M Sorry My Baby
Nomor Cewek



Reno duduk di kursi dia terus menggenggam jemari Ibunya, otaknya melayang mencari jalan pintas untuk masalahnya saat ini.


Dia merogoh ponsel yang ada di sakunya, dan berselancar di kontak. Mencari satu ma yang pernah dia simpan di sana.


Hanya dia saat ini harapan satu-satunya, seorang gadis yang tak akan membuat Ibunya curiga. Namun, sayang sekali, Reno tak dapat menemukannya.


"Harus bagaimana lagi ini," keluh Reno sambil memijat keningnya yang pening.


Dia menaruh kepalanya ke kasur, tangannya dilipat sebagai pengganti bantal dan tanpa terasa dia pun hanyut di alam mimpi.


****


Reno terkejut saat bahunya di tepuk oleh seorang suster, dia segera bangkit dari duduknya dan memberi ruang untuk suster memeriksa Ibunya.


Dia melangkah keluar kamar dan menuju kantin rumah sakit, seperti biasa. Reno akan memesan menu wajib pagi harinya.


Segelas kopi hitam dan sebatang rokok, terlebih Maslah yang saat ini sedang berkecamuk di otaknya. Seolah menyuruhnya untuk menyesap lebih banyak.


Dia teringat akan ucapan Bapaknya, entah apa yang akan Allah rencanakan untuknya. Yang jelas untuk saat ini dia hanya mengikhlaskan segalanya dan berpasrah.


"Kamu disini?" tanya Bapak.


Reno segera menoleh ke asal suara, dia tak percaya kalau saat ini Bapak nya benar-benar ada di belakangnya, bukankah keadaan masih lemah kemarin?


Dan yang dia lihat memang benar adanya, seorang pria paruh baya yang saat ini sedangkan melangkah mendekati nya adalah Bapak.


Dirinya duduk di samping Reno dan memesan segelas kopi hitam, mata Reno masih lekat menyusuri tiap inci tubuh Bapaknya.


"Jadi kapan kau akan menjemput calon istrimu?" tanya Bapak.


"Secepatnya Pak, pagi ini dia masih ada rapat di kantor," dusta Reno.


"Ternyata dia orang penting ya?" tanya Bapak penasaran.


"I-Iya Pak, dia orang yang istimewa." jawab Reno kembali.


Setelah berbincang ringan Reno berpamitan kepada Bapak dan membersihkan diri ke toilet umum, namun langkahnya berbelok. Dia mengeluarkan kembali Ponselnya.


Langkah Reno tak henti-hentinya mondar-mandir di koridor rumah sakit. Berulang kali dia menimang keputusan nya.


Dia memainkan jari di layar ponsel untuk mencari sebuah nama hingga akhirnya dia menemukannya.


Hatinya masih di penuhi rasa bimbang, tapi tak ada jalan lain. Tak ada salahnya untuk berusaha bukan?


Reno menggeser tombol hijau dan menempelkan ke telinga, mulutnya komat-kamit berdo'a lirih. Semoga saja rencana terakhir ini akan berhasil.


Tak ada jawaban dari sambungan, hanya berulang kali musik yang terdengar di telinga Reno. Tapi Reno tidak berhenti begitu saja.


Dia segera menghubungi nomor lainya.


"Halo Jun, lo bisa bantu gue nggak?" tanya Reno segera setelah sambungan tersambung.


"Ada apa lagi sih?" ucap Juna sedikit kesal, sepertinya dia sedang ada masalah di ujung sana.


"Gue butuh nomor cewek dong," ucap Reno memohon.


"Apa! Nomor cewek?" sahut seorang wanita.


Sepertinya Reno menghubungi Juna di saat yang tidak tepat. Pasti sebelum dia menghubungi nya sudah ada perang.


Reno segera mematikan ponsel dan menghubungi nomor lainya.


"Hallo mbak, saya Reno. Apa Bu Clara ada di ruangan? Saya mau menyampaikan pesan Papanya," ucap Reno sopan.


"Maaf, tapi Bu Clara sedang ambil cuti. karena tidak enak badan," jawab admin kantor Reno.


"Baik mbak terimakasih," ucap Reno.