
Clara memejamkan mata, berulang kali dia berussaha untuk fokus tidur dan tidak memikirkan hal yang tak perlu di pikirkan.
Bisa-bisanya otak mesumnya kembali kambuh dan menghayal yang tidak-tidak, karena serangan Reno yang mendadak tadi membuat tidurnya tidak tenang.
Sudah hampir dua jam, namun matanya masih saja belum bisa terlelap.
"Astaga, ini kepala mesum banget." keluh Clara yang segera bangun dari tidurnya.
Dia menyentuh bibirnya, masih terasa begitu nyata bagaimana sentuhan lembut oleh suami palsunya tersebut.
"Argh, aku bisa gila disini!" Clara memutuskan untuk tidur di kamar tamu, dia tidak bisa menghapus tiap detik kehangatan yang di beri oleh suami palsunya itu.
Clara membuka pintu dan turun di tangga, rumah begitu sepi. Tidak seperti beberapa pekan lalu, sejujurnya dia sangat rindu pada Mamanya.
Meskipun dia tau kenyataan kalau dialah yang membuatnya kehilangan seorang ibu. Clara menuruni anak tangga dan melangkah menuju dapur.
Mungkin merebus mie instan pedas adalah pilihan yang tepat, dia segera berlarian menuju dapur dan menikah laci. Tidak lupa dia mengambil beberapa bahan pelengkap di kulkas.
"Mama, Clara mau buat mie mercon nih! Mama mau nggak," teriak Clara.
Tubuhnya membatu setelah mendapati kenyataan yang harus dia terima. Dia lupa kalau Mamanya sudah tidak tinggal di rumah ini lagi, padahal baru semenit lalu dia ingat kalau orang itu sudah tidak tinggal disini.
Seketika buliran air mata bening menetes, perut yang tadinya lapar dan air liur yang menetes hilang seketika. Selera makannya mendadak hilang.
Dia merosot dan duduk bersandar di lemari dapur, dia tak mengerti kenapa kehidupannya menjadi sangat rumit.
Dia bisa terima kalau dia hanyalah anak tiri, bahkan menerima kenyataan kalau Ibu kandungnya telah pergi dari dunia.
Tapi sangat berat baginya kalau harus kehilangan orang yang dia sayang, di tambah lagi dia adalah orang utama penyebab ibunya kehilangan nyawa.
Clara menekuk kakinya dan melipat tangan, dia menaruh kepala di tangan dan menyembunyikan tangisan perihnya.
"Non Clara ngapain?" tanya Mbok Yem yang segera membantu dia untuk bangkit dari lantai.
Terdengar tangisan perih, Clara terisak sampai kesulitan untuk menjawab pertanyaan Mbok Yem.
"Non lapar, Mbok masakin ya mienya?" ucap Mbok Yem menawarkan bantuan.
Clara menggeleng kepalanya lirih, dia menatap lekat Mbok Yem kemudian memeluknya erat. Dia menumpahkan segala sakit yang menyesakkan dadanya.
Bahunya naik turun seolah tak kuat menahan isak yang begitu menyiksa.
"Udah Non, sabar. Nyonya Nadira nggak bermaksud seperti ini." ucap Mbok Yem mengelus pucuk kepala Clara.
"Clara bingung Mbok, Clara nggak kenal Bu Asih. Aku juga nggak bisa benci Mama gitu aja ..." ucap Clara ditengah isaknya.
"Clara nggak mau jadi anak durhaka, tapi Clara nggak bisa benci Mama," lanjut Clara menangis sejadi-jadinya.
"Clara kangen Mama, kenapa sih Mama harus pergi Mbok?" tanya Clara masih dengan menangis.
Mbok Yem tersenyum kecil, dia menuntun Clara untuk duduk di meja makan dan mulai memasak mie untuknya.
Dulu memang inilah kebiasaan Clara dan Nadira, mereka satu frekuensi. Tiap malam selalu makan mie pedas dengan banyak campuran sayur, alasannya agar tidak banyak lemak. Nyatanya mie memang karbi yang harus di hindari bukan?
Sebegitu dekatnya mereka berdua, tak heran jika Clara begitu kehilangan Nadira dari pada Asih.
Clara hanya menatap mie dan Mbok Yem bergantian, tangannya masih enggan untuk menyumpit mie hangat di hadapannya.
Padahal waktu dia di tinggal Rico, dia bisa menghabiskan beberapa mangkuk. Tapi tidak kali ini, dia merasa hidupnya benar-benar runtuh.
"Dulu Pak Tyo dan Bu Asih adalah keluarga bahagia, mereka saling menyayangi dan mendukung. Namun mereka kurang beruntung." Mbok Yem mulai menceritakan awal kehidupan Clara.
"Sudah hampir 5 tahun menikah, tapi mereka tak kunjung di beri momongan. Padahal mereka sudah berusaha begitu keras, memang begitu tidak adil pada mereka." lanjut Mbok Yem dengan mata berkaca.
Dia teringat akan kesedihan Asih yang selalu murung saat tengah malam, dia selalu sholat dan berdo'a hingga larut demi mendapatkan momongan.
"Lalu datanglah Nadira, dia seorang pembantu baru. Kamu juga tau kan bagaimana kecantikan Mamamu," ucap Mbok Yem melempar pandangan ke arah Clara.
"Mbok, tidak tau sejak kapan Nadira memiliki hubungan dengan pak Tyo. Tapi sejak beberapa bulan Nadira hadir, rumah tangga Asih dan Tyo menjadi dingin. Tidak sehangat dulu." Ucap Mbok Yem sambil menyuapkan mie ke dalam mulut Clara.
Seperti anak kecil pada umumnya, Clara membuka mulutnya dengan mata yang masih menatap lekat pada Mbok.
"Tiba-tiba Mbok mendengar kabar kalau Pak Tyo dan Nadira kan menikah. Dan secara bersamaan Bu Asih di nyatakan hamil," lanjut Mbok Yem, mengukir senyum tipis di wajah senjanya.
"Pernikahan mereka tetap berjalan, dan Bu Asih masih berstatus istri sah Pak Tyo. Tak ada pertengkaran, mereka hidup selayaknya kakak-beradik."
"Mereka saling mendukung satu sama lain, meski terkadang ada kecemburuan kecil yang tak berlangsung lama."
"Pasti Bu Asih adalah orang sangat sabar dan baik," sahut Clara menerka.
"Iya, dia sama sama persis sepertimu." sahut Mbok Yem mencubit hidung mancung Clara.
"Itu sebabnya Nyonya Nadira tidak memperbolehkan mu untuk memutuskan childfree, Ibumu dulu berusaha keras untuk mendapatkan mu. Bagaimanapun sebuah berkah tidak bisa di tolak atau diminta."
"Lalu kenapa Mama malah pergi Mbok?" tanya Clara memasang wajah sedih.
"Karena sejak kelahiranmu, Pak Tyo menjauhi Nyonya Nadira karena merasa bersalah dengan Bu Asih." jawab Mbo Yem.
Seketika Clara membatu, dia tak menyangka Papa yang dia pikir tidak ada hubungan sedarah adalah Papa kandungnya.
Dia juga tidak menyangka kalau Papa kandungnya sejahat itu, begitu mudahnya dia menyakiti dia orang wanita sekaligus.
Padahal dia sangat menghormati nya sebelum mengetahui kenyataan pahit ini.
"Saat Nadira memilih untuk menikah dengan pak Tyo, dia memutuskan meninggalkan Mike. Dengan begitu hal asuhnya di berikan kepada Ayah kandungnya." lanjut Mbok Yem.
"Mike juga sangat tersiksa dengan pernikahan ini, untungnya pak Tyo dan mantan suami Nadira pengertian. Jadi beberapa bulan sekali Mike bisa datang kesini untuk menginap."
"Setelah dia tau Mamanya tidak di perlakukan dengan baik, Mike mulai menyuruh Mamanya untuk tinggal bersamanya ..."
"Mbok belum tidur ..." sahut seorang pria yang datang dari arah ruang tamu.
Dua orang beda generasi ini segera menoleh ke arah sumber suara,
"Tuan Tyo ..." ucap Mbok Yem menundukkan kepalanya.
"Bisa saya ngobrol sebentar dengan Clara,"