
Mbok Yem menundukkan pandangan dan melangkah menjauh, meninggalkan Papa dan Anak untuk mengobrol sebentar.
Mereka sudah lama tinggal, namun sangat jarang untuk sekedar duduk berdua. Tyo yang selalu menyibukkan diri dan Clara yang juga tak tau siapa dirinya.
Tyo duduk di depan Clara, sementara dia masih sangat kikuk. Matanya terus menatap mangkuk yang berisi mie kuah pedas yang tinggal kuahnya saja.
Begitulah Mbok Yem, dia bisa membujuk Clara untuk makan dengan mudah.
"Bagaimana harimu?" tanya Tyo menundukkan kepala.
Dirinya juga masih canggung untuk mengobrol dengan putri semata wayangnya, wajah yang sangat mirip dengan Ibunya. Membuat Tyo selalu merasa bersalah saat melihatnya.
"Biasa aja Pah, hanya lebih sepi dari biasanya." jawab Clara lirih.
"Maafkan Papa, Papa bukan orang yang baik." lanjut Tyo masih dengan posisi yang sama.
"Kenapa Papa lakuin ini semua, Papa sadar nggak perbuatan papa itu udah hancurin dua perasaan sekaligus."
"Bahkan lebih ..." lanjut Clara dengan suara perih.
Dia tak dapat membayangkan bagaimana perasaan Mamanya selama ini, yang tinggal dengan seorang yang bahkan tidak membalas cintanya.
Dan bahkan itu semua terjadi selama bertahun-tahun, Clara yakin Bu Asih pun akan sedih bila melihat Mamanya seperti ini.
"Papa menyesal," sahut Tyo.
"Udah cuma itu doang?" Clara memijat keningnya.
Apakah semua pria seperti ini, tidak pernah bisa merasakan pedihnya perasaan wanita.
Ya Clara tau, pria hanya dapat berpikir rasional. Tidak sama sekali menggunakan perasaannya. Dia sangat sadar dengan fakta tersebut.
Akan tetapi, perlu di garis bawahi bahwahi. Bukankah pria juga hidup bermasyarakat dan pasti akan melihat momen tebar tuai.
Tidakkah mereka memikirkan, apa yang mereka tanam akan mereka tuai. Dan pastinya ada tanggung jawab bahkan konsekuensinya.
"Papa jahat!" hanya satu kata yang dapat Clara ucapkan untuk meluapkan segala emosinya saat ini.
Clara bangkit dari duduk dan melangkah menaiki tangga, dia tidak bisa melihat seorang yang secara tidak langsung telah merusak hidupnya.
"Papa minta maaf Clara, sebagian harta Papa kurang lebih 70% akan jatuh ke tangan Mike dan Nadira. Hanya itu yang dapat Papa lakukan," ucap Tyo.
Langkah kaki Clara terhenti, dia tak menyangka seorang yang sangat dia hormati selama ini dengan mudahnya mengambil keputusan.
"Aku menyesal mempunyai Papa seperti Anda," ucap Cakra yang melanjutkan langkah kakinya.
Clara menaiki tangga dengan cepat dan masuk ke kamar, debaman pintu terdengar begitu nyaring sampai ke lantai bawah.
****
Nadira duduk di tepi kolam renang, di sampingnya tersaji segelas jus jeruk dingin. Matanya menatap air kolam renang yang tenang dan memantulkan cahaya sinar bulan.
"Mama kangen sama Clara?" tebak Mike.
Nadira menatap lekat putranya, sudah lama dia meninggalkan anak ini untuk berjuang sendiri. Meskipun dia mempunyai segalanya dan tak pernah kekurangan.
Mike tidak pernah sekalipun protes dengannya, sejak kecil yang dia lakukan hanya menanyakan bagaimana kabarnya. Tangan mungilnya selalu memeluknya erat saat bertemu.
Saat ini anak kecil tersebut sudah tumbuh menjadi pria dewasa yang sangat tampan dan pintar, anehnya. Dia tidak menyimpan dendam sedikitpun pada wanita yang penuh dosa ini.
"Kau cemburu?" tanya Nadira.
Mike hanya terkekeh, dia merebahkan tubuhnya ke kursi dan menaruh kepalanya ke pangkuan Mamanya.
"Sedikitpun aku tidak pernah cemburu, asal Mama bahagia. Bagiku itu semua sudah cukup." ucap Mike yang menatap sendu wajah Mamanya yang mulai keriput.
"Sayang sekali, meskipun aku berkorban begitu banyak. Mama tetap tidak bahagia." lanjut Mike melempar pandangan.
"Maafkan Mama Mike," Nadira memasang wajah penuh penyesalan.
Nadira mengelus rambut ikal putranya, dulu waktu usianya masih tiga tahun. Dia akan melakukan hal ini sampai putranya terlelap.
Mike merasakan jemari lembut yang selama ini dia rindukan, tanpa terasa matanya mengalir buliran bening.
Apakah Clara juga di perlakukan demikian, ataukah hanya dia saja?
"Jangan pergi lagi Maa ... kumohon." ucap Mike dengan mata yang terpejam.
"Mama tetap harus pergi Nak!" sahut Nadira.
Mike segera bangun saat mendengar ucapan Mamanya, dia mencengkram erat jemari Nadira.
"Apakah Mama begitu menyayangi Clara? Sampai Mama mau pergi lagi?'' Mike bangkit dari duduknya.
"Bukankah kau akan menikah," ucap Nadira tersebut simpul.
Mike kembali duduk dan menatap lekat Nadira, dia begitu menyayangi Mamanya dan tak akan membiarkannya tersiksa lagi.
"Meskipun Aku akan menikah, Mama akan tetap disini dan bermain dengan cucu-cucu Mama. Mama akan menjadi Oma disini." ucap Mike memeluk Nadira.
"Oke ... baiklah, kali terlalu serius boy." Nadira melepas pelukan putranya.
"Baiklah Ayo kita makan dulu, Mama perlu tenaga untuk mengurus semua cucu Mama bukan? kekeh Nadira dan bangkit dari kursi.
Dia melangkah masuk ke dalam rumah dan menuju dapur, di iringi Mike yang melangkah menyusul di belakang.