I'M Sorry My Baby

I'M Sorry My Baby
Apa Kamu Yakin, Clara?



Clara dan Reno melangkah memasuki rumah sakit, sesekali Clara menoleh ke arah Reno. Dirinya sedikit aneh karena di selalu mengikuti langkahnya.


Bukankah tujuannya kesini untuk menjenguk saudaranya? kenapa dia malah ngintil di belakang Clara sejak tadi.


Clara memutuskan untuk menghentikan langkahnya dan memutar badan, dia menatap lekat Reno yang tiba-tiba juga menghentikan langkah.


"Jawab yang jujur, sebenarnya kamu kesini .aku ngapain?" tanya Clara.


"Sa-Saya mau menjenguk saudara," jawab Reno singkat.


"Baik, sebagai direktur yang baik, saya juga mau menjenguk saudaramu itu," ucap Clara, dia mau lihat seberapa jujur karyawan di hadapannya ini.


"Di-dia masih tidak bisa di jenguk. Jadi saya mau menjenguk Mama Ibu dulu," Elak Reno.


"Memang sakit apa?" tanya Clara semakin curiga.


"Sakit ..." Reno belum menyelesaikan ucapannya.


Terlihat Pak Bejo yang berlarian menuju ke arah Clara, wajahnya pucat pasi. Badannya penuh keringat seperti selesai lari maraton.


Melihat itu Clara sudah tak peduli dengan urusan Reno, tanpa menunggu penjelasan dari Pak Bejo. Clara segera berlari menuju ruang rawat Mamanya.


Clara berlari dan diikuti oleh Reno yang menyusul langakah Clara yang semakin cepat. Mereka meninggalkan Pak Bejo yang masih istirahat di kursi sambil terengah-engah.


Maklum lah, berat badan Pak Bejo lumayan besar, di tambah jarak antara kamar rawat Mama Clara dan pintu depan rumah sakit cukup jauh. Mungkin saat ini Pak Bejo cukup tersiksa.


Setelah sampai di depan kamar rawat Mamanya, Clara menghentikan langkahnya. Dia mencoba menata hatinya, begitu banyak orang yang berkumpul di dalam.


Termasuk Om Daniel, Dokter pribadi keluarga dan juga adik kandung Mama. Mereka berkumpul dengan wajah yang amat sedih.


Berulang kali Clara mendongakkan kepalanya, berusaha menahan air mata yang hendak jatuh saat ini juga. Dia berusaha kuat dengan apapun kabar yang ada di dalam.


Perlahan Clara melangkahkan kakinya masuk ke kamar, semua orang bersamaan menatap Clara yang baru saja datang. Alat bantu jantung Mama bergerak sangat lirih, menandakan jantung Mama sedang tidak baik-baik saja.


Clara melempar pandangannya ke Om Daniel. Hanya karena memang dia yang sangat mengetahui kondisi Mamanya sekarang.


Tapi tak ada jawaban, Om Daniel hanya mengangguk dan melempar pandangannya ke arah Mamanya yang terpejam. Seolah mengatakan untuk segera mendekat karena waktu Mamanya tidak lama lagi.


"Mama ... Bangun Maa ... Clara disini, katanya Mama panggil Clara," ucap Clara menahan Isak.


Isakan seluruh orang di dalam, membuat suasana dalam ruangan semakin pilu. Di tambah Papanya yang juga terisak dan mengucapkan suatu kenyataan byang membuat jantung Clara seketika berhenti.


"Tadi Papa dan Mama hanya mengobrol, kami memutuskan untuk tidak memaksa kamu untuk menikah. Kami bisa menanggung semua rasa malu kami ... Dari pada harus melihatmu tersiksa," ucap Papa Clara sambil sesekali mengusap air matanya.


Kali ini, Clara benar-benar ingin menghabisi Rico saat ini juga, gara-gara dia selingkuh semua rencana sia-sia. Bahkan Mamanya ikut terkena imbasnya.


Clara tak mampu mengucapkan apapun, dia tak mampu membuka suara. Lidahnya kelu untuk sekedar bercerita bahwa, lelaki yang di dambakan Mamanya untuk menjadi menantu adalah lelaki bejat.


Akan tetapi, apapun penjelasannya. Mamanya sudah terbaring lemah. Waktu tidak bisa di putar begitu saja.


"Mamamu membeli ini untuk persiapan pernikahanmu nantinya," ucap Papa sambil mengulurkan sebuah kotak merah.


Clara meraih kotak tersebut, dan membukanya perlahan. Ada sepasang cincin pernikahan, dengan model yang simpel dan elegant.


Sayangnya, kisah cintanya tak seindah cincin ini. Di dalam bagian cincin tersebut tersemat inisal nama. R&C. Air .ata Clara semakin tak dapat terbendung.


"Mama, aku akan menikah. Tapi tidak dengan Rico maa ... dia ..." belum sampai Clara menyelesaikan ucapannya, alat detak jantung sudah berbunyi nyaring.


Seketika semua yang ada di ruangan sangat panik termasuk Clara, dia mundur teratur dan membiarkan Om Daniel merawat Mamanya.


Karena tak tahan dengan situasi ini, Clara memilih untuk keluar ruangan yang cukup engap. Lebih baik dia menunggu di luar.


Diluar sudah ada Reno yang masih duduk di kursi besi, tampaknya dia juga cemas karena meremas jemari tangannya sampai memerah.


Reno melihat Clara melangkah mendekatinya dan menghempaskan tubuh lelahnya di samping Reno. wajah Clara tampak berantakan saat ini, wajahnya di penuhi bekas air mata yang mulai mengering.


Reno hanya duduk, terdiam dan memainkan jemarinya yang mulai merah.


"Apakah pernikahan itu penting,?" ucap Clara tanpa ekspresi.


"Apa?" tanya Reno, dia tak menyangka kalau Clara akan bertanya demikian.


"Apakah dengan menikah bisa menentukan kebahagiaan seseorang?" tanya Clara lagi.


Reno kali ini terdiam, dia mulai tau. Semua ucapan Clara adalah isi hatinya yang dia pendam.


"Atau ranjang adalah alasan utama bagi kaum lelaki untuk segera menikah dan menentukan pilihannya,?" tanya Clara sambil menatap Reno.


Reno terbelalak ketika di ajukan pertanyaan demikian, bahkan dia tak pernah menyentuh kekasihnya selama menjalin hubungan.


"Katakan, apa kau juga mengharapkan tubuh seorang wanita saat menentukan pilihan," ucap Clara menarik kerah Reno.


Reno mencoba melepaskan tangan Clara yang mulai mencekik leher Reno, saat ini Reno sudah sangat sulit bernapas.


Pak Bejo yang mengetahui hal ini segera berlarian menolong Reno, Dia segera menghirup udara segar saat cengkraman Clara terlepas.


"Nona sabar nona, Nyonya pasti sembuh," ucap Pak Bejo.


"Oiya, benarkah. Kalau tidak bagaimana? bahkan aku belum memberikan apa yang Mama inginkan," ucap Clara merosot kelantai.


Melihat itu semua Reno semakin tak tega, dia segera memeluk Clara dan mencoba menenangkannya, Pelukan Reno membuat tangisan pilu Clara pecah sudah.


Dia sudah tak mampu menahan masalah yang datang bertubi-tubi padanya, melihat ini Reno segera menghapus air mata Clara.


"Ibu, semua masalah pasti ada jalan keluarnya," ucap Reno.


"Kau sama saja seperti orang di dalam, sekarang coba bilang sama aku. Siapa yang mau jadi suamiku, perawan tua yang galak, bahkan tak pernah ramah sedikitpun," ucap Clara melengking dan meraih kerah Reno kembali.


"Aku ... Aku mau ..." ucap Reno mantap.


Mata Clara terbelalak, tidak hanya Clara. Bahkan Pak Bejo pun terkejut dengan ucapan Reno.


Reno membantu Clara untuk bangun dan berdiri, dia menatap lekat manik mata yang masih memancarkan kepedihan yang mendalam.


"Ibu Clara percaya kan sama aku?" tanya Reno.


"Kamu nggak bohong kan?" tanya Clara menahan isak.


"Nona, jangan gegabah. Kita bisa rembukan di dalam, Nyonya pasti akan baik-baik saja," ucap Pak Bejo.


"Mama sudah kritis dan ini tak ada waktu lagi" ucap Clara melengking.


Clara segera menarik tangan Reno dan membawanya kedalam kamar rawat Mamanya. dengan mantap Reno mengikuti langkah kaki Clara.


Reno dan Clara melewati barisan orang yang mengerumuni mamanya,


"Ma ... aku akan menikah sekarang," ucap Clara.


Semua menatap Clara terkejut, dan melempar pandangan ke seorang lelaki di belakang Clara. Mereka akui dia lumayan tampan, tapi seragam supirnya.


Seorang Clara harus menikah dengan supir? Semua orang di dalam hanya menatap Clara dan Reno bergantian. Mereka tak percaya kalau Clara mengambil keputusan begitu cepat.


"Kau yakin Ra?" tanya Om Daniel.


"Yakin, sekarang Om panggilkan penghulu," ucap Clara mantap. di segera meraih jemari Mamanya dan mengecupnya berulang kali.


Tanpa Clara ketahui semua saling bertatapan,


BERSAMBUNG....