
"Dari wajahnya, ganteng, manis, baik, ya walaupun hanya supir. Nggak kaya' tunangannya Non," ucap Pak Bejo.
"Apa? Supir?" ucap Clara mengulangi ucapan Pak Bejo.
Karena tak mau menambah beban pikirannya, Clara hanya mengabaikan ucapan Pak Bejo. Kepalanya susah penuh dengan banyak masalah, dia tidak mau ada orang baru di hidupnya yang menambah beban pikiran.
Tak lama kemudian sampailah Clara di di kantor, perlahan dia turun lalu Pak Bejo melaju menuju parkiran. Saat ini tugas Pak Bejo Khusus untuk menjaga Clara di kantornya.
Clara segera masuk ke kantor, semua karyawan menatap nya prihatin. Ini sudah pasti menandakan kalau gosipnya sudah menyebar dan sampai ke telinga semua rekan kerjanya.
Hati Clara semakin murka melihat tatapan kasihan mereka, bukankah batal nikah memang hal yang sudah biasa? Tapi semua rekan kerja menatapnya seperti buronan saja.
Terlebih dia mendengar bisik-bisik beberapa karyawan yang membuat pagi harinya semakin gerah, bahkan AC pun tak dapat mendinginkan suhu di kantornya.
Clara mencoba menutup telinganya dan tidak menghiraukan semuanya, toh dia tidak bisa menimpa mulut semua orang karena setiap orang bebas berpendapat.
Clara masuk ke ruangannya, di disambut oleh beberapa tumpuk Map yang menjulang tinggi. Jangankan mengerjakan tugasnya, melihatnya pun Clara sudah mual.
Clara mencoba menyemangati dirinya sendiri, melangkah dan duduk di kursi kerjanya. Dia mulai menyalakan laptop dan menarik nafas dalam-dalam.
"Clara kamu pasti bisa, ayuk semangat!'' ucap Clara bermonolong.
Satu persatu map dia kerjakan, Hingga matanya mulai samar saat melihat deretan angka dan huruf tersebut. Jam menunjukkan pukul 10.00, pekerjaannya masih berjalan sepertiga bagian. Masih cukup jauh untuk selesai.
Dia memutuskan untuk berdiri dan mengambil beberapa cemilan di kulkas yang dia sediakan di ruang kerjanya.
Tiba-tiba pintunya diketuk, Clara menyuruh siapapun di balik pintu itu untuk masuk. Ada seorang pria dengan pakaian sopir yang masuk kekurangannya.
Sepertinya Clara tidak asing dengan wajah tersebut, tapi sayangnya dia lupa bertemu dengan orang ini dimana. Dia membawa sebungkus nasi kotak.
Seingat Clara dia tak pernah pesan makanan sebelumnya, kenapa tiba-tiba dia memberinya makanan.
"Saya nggak pesan nasi kotak tuh mas," ucap Clara.
"Iya mbak, ini syukuran dari teman kantor. Mohon di terima mbak," ucap Pria tersebut.
Clara melangkah mendekati pria tersebut dan meraih sekantong pelastik yang berisi nasi kotak, pandangannya menatap sebuah nama yang terukir di dadanya.
"Reno." Clara membaca papan nama.
"Iya mbak Saya Reno," jawab si sopir.
"Yasudah, saya terima. makasih ya." ucap Clara ramah.
Beberapa saat kemudian setelah nasi itu habis Clara, melanjutkan pekerjaannya. Dia mulai menatap laptop dan membuka satu persatu map yang masih menumpuk di hadapannya.
Satu persatu map dia kerjakan rentetan angka dan huruf sudah membuatnya pusing hingga akhirnya pekerjaan itu selesai. Jam menunjukkan pukul 06.00 sore harusnya dia pulang jam 04.00 sore ini sudah lebih 2 jam, semoga saja Pak Bejo tidak ngomel dengannya.
Clara masih enggan untuk pulang karena dia tidak ingin mendengar papa dan mamanya saling berdebat hanya karena perjodohannya, lagi pula Clara juga enggan untuk memikirkan pasangan saat ini.
Bisa dibilang umur Clara memang sudah cukup untuk menikah, dan memang harusnya dia sudah menikah. umur Clara 30 tahun, sebagian orang menyebutnya perawan tua. Ada yang bilang karena dia terlalu tidak galak dengan seorang hingga lelaki sehingga beberapa lelaki takut saat mendekatinya.
Clara tak pernah sedikitpun memikirkan perkataan orang, toh mereka tidak ikut menjalani kehidupannya bukan? clara sudah bahagia dengan Mamanya, tapi ketika melihat Mamaya sangat malu dengan teman-temannya, membuat Clara kasihan.
Mamanya Sudah mengumumkan pernikahannya, demi menyelamatkan nama baik mamanya dia harus tetap menikah, tapi juga bukan dengan Rico.
Istri mana yang mau, setiap hari suaminya selalu gonta-ganti pacar dan parahnya kita harus memakluminya. Clara tidak mau gila dibuatnya.
Clara masih berada di kantornya dia menyandarkan punggung lelahnya ke kursinya, dia menatap langit-langit kantor. Otaknya melayang jauh mencari solusi di dalam masalahnya yang rumit ini.
Tiga hari di rumah membuatnya mengerti bagaimana kesedihan mamanya belakangan ini, banyak teman-teman kantor mamanya yang menganggap remeh Clara.
Karena mamanya sangat menyayangi Clara, itu membuat hati mamanya hancur. Dia tidak mau putrinya dianggap remeh seperti itu. Clara pun juga tidak seburuk itu sebenarnya.
Perlahan pintu ruangannya terbuka, si Sopir itu datang kembali. melihat Clara yang masih di sana sopir tersebut tersentak dan segera menutup pintu kembali.
"Tunggu," ucap Clara.
Seketika pintu tersebut terbuka kembali, Reno melangakhkan kakinya kembali masuk ke ruangan Clara. Pandangan Reno masih tertunduk tak berani mendongak.
"Ada apa?" tanya Clara.
"Sa-Saya hanya mengecek keadaan mbak, saya takut mbak pingsan lagi," ucap Reno.
"Pingsan?" ucap Clara menatap lekat Reno.
Belum sempat dia mengobrol, ponsel Clara berdering kencang. Dia segera melihat siapa yang menelfon.
Melihat nama yang tertera di layar membuatnya enggan menggeser tombol hijau, sampai pada akhirnya Reno berpamitan pergi.
Setelah Reno pergi, dengan malas Clara menggeser tombol hijau ke atas,
"Ada apa?"
BERSAMBUNG.....