
Reno menuntun Clara untuk duduk di sebuah tempat duduk taman, di hadapan mereka terdapat air mancur yang di hiasi lampu warna-warni.
Di sini mereka dapat melihat betapa ramainya orang berlalu-lalang, banyak pedagang asongan, anak-anak bermain sampai orang pacaran.
Reno mencuri pandang ke arah Clara, wajahnya masih tampak masam dengan bibir yang manyun.
"Dia mantanku, dulu aku di tinggal nikah. Padahal aku udah nabung buat pernikahan kita, Dia juga udah kenal baik sama Ibu dan Bapak," Reno mulai membuka kisah kelamnya.
Clara masih diam membisu, bukan malah meredam amarah. Semua curhatan Reno malah semakin membuat telinga Clara panas.
"Lihat sekeliling, banyak anak kecil, orang pacaran. Menurutmu mereka semua nggak punya masalah?" ucap Reno sambil melahap tahu goreong yang di cocok sambal petis.
"Aku nggak maksa kamu buat melupakan semuanya, masalahmu memang berat. Tapi itu bukan alasan buat kamu terus berada di dalamnya, kamu harus keluar. Hidupmu masih panjang Raa ... "lanjut Reno.
Seketika mata Clara berkaca, yang di bilang Reno memang banyak benarnya. Harusnya dia bisa bersyukur bertemu dengan orang yang labil seperti dia.
Clara menoleh ke arah Reno, dia akui Reno adalah orang yang selalu ada untuknya. Dia sangat baik, dan mungkin ini salah satunya alasan mengapa dia enggan memilih menikahinya.
"Semua berat Ren, aku takut pernikahanku akan sama seperti Mama. Aku belum siap," jawab Clara lirih.
"Yang nyuruh nikah siapa sih, aku cuma bilang bangkit, bukan nikah. Sepertinya ada yang mulai diam-diam pengen nikah sama aku," kekeh Reno.
Clara melengos kesal, air mata yang hendak jatuh dari pelupuk mata mengering seketika.
"Udah, gue mau pulang. Kasihan Papa," ucap Clara berdiri, Reno menarik tangan Clara untuk duduk kembali.
Dia memberikan sekantong pelastik tahu goreng ke Clara dan kemudian berdiri,
"Tunggu bentar, lima menit." ucap Reno yang berlarian meninggalkan Clara duduk sendiri.
Clara tersenyum kecil melihat kepergian Reno, meskipun dia menyebalkan tapi dia selalu bisa membuatnya tersenyum.
Clara jadi teringat dengan curhatan Reno yang bilang kalau mantannya dulu meninggalkannya begitu saja. Sayang sekali dia harus kehilangan makhluk unik seperti Reno.
Tak lama kemudian Reno datang membawa permen kapas yang sangat besar, entah dia beli dimana? padahal tadi dia tak melihat ada penjual permen kapas yang mangkring di taman.
Permen kapas itu berbentuk hati dengan tiga warna, bagian luar warna biru, kuning dan bagian tengahnya warna pink.
Dengan senyum merekah Reno memberikan permen tersebut ke Clara,
"Kalau makan hati-hati, ada surprise di dalamnya," ucap Reno dengan wajah malu-malu.
Demi Tuhan. Clara ingin tertawa lepas melihat ekspresi Reno saat ini, baru kali ini dia di perlakukan seperti ini dan melihat kalau seorang pria bisa swett seperti ini
"Dari mana kamu tau aku suka permen kapas?" tanya Clara menatap lekat Reno.
"Tau aja, udah yuk pulang," ucap Reno menggandeng tangan Clara. Dan untuk pertama kalinya Clara membalas gandengan tangannya.
Untung saja cara yang di anjurkan Juna manjur juga. tidak sia-sia semalam dia di teror banci sampai tak bisa tidur. Semua terbalas tuntas saat Clara menerima dengan terbuka semua pemberiannya.
Mereka melaju menaiki motor dan meninggalkan taman, Hanya membutuhkan waktu 15 menit akhirnya mereka sampai di rumah Clara.
Clara turun dari motor dan di susul oleh Reno,
"Tunggu," panggil Reno yang menghentikan langkah Clara.
"Apa? mau tidur sini lagi?" tanya Clara tersenyum manis.
"Enggak lah, cuma pengen bilang ..." ucap Reno menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
clara melangkah mendekat, dan menatap Reno dengan alis mengerut.
"Apa?" tanya Clara penasaran.
"Mau lo bawa lagi, nggak ikhlas banget sih," perotes Clara.
Cup ...
Kecupan mendarat di bibir lembut Clara, untuk sekian detik kecupan menjadi ******* lembut. Reno menarik permen kapas tersebut untuk menutupi wajah mereka yaang memerah. Perlahan reno melepas kecupannya dan berbisik.
"Ada sesuatu di dalam sana, kalau makan pelan-pelan yaa," Ucap reno lirih dan mengulurkan permen kapas itu kembali ke Clara.
Clara hanya mampu terdiam membatu sesaat, lamunannya terpecah ketika suara mesin motor Reno berbunyi.
Reno melambaikan tangannya, clara segera membalikkan tubuh dan berlari kecil memasuki rumah.
Ini sangat memalukan semoga saja Mbok Yem dan Pak Bejo tidak mengetahui ini. kalau sampai tau pasti ...
"Den Reno nggak tidur sini Non?" tanya Pak Bejo.
Seketika Clara menghentikan langkahnya dan membalikkan badan, dia berusaha untuk tetap biasa saja.
"Nggak Pak, masih ada kerjaan katanya," jawan Clara asal.
"Non sakit?" tanya Pak Bejo yang Khawatir melihat wajah Clara yang merah.
"Nggak kok Pak, yaudah saya masuk dulu ya," ucap Clara sudah tak kuat menahan malu.
"Kalau Non capek nggak usah balik ke rumah sakit, Mbok Yem sudah disana," ucap Pak Bejo.
"Loh kapan? Kok aku nggak tau sih," protes Clara,
Dia sedikit kecewa, kalau tau seperti ini dia pasti akan mengulur waktu saat di taman tadi.
"Tadi waktu Pak Bejo kesana Non sudah nggak ada, ternyata masih keluar sama den Reno ..." ucapan pak Bejo terpotong saat mengingat beberapa menit yang lalu.
Melihat ekspresi pak Bejo membuta clara tambah yakin kalau pria paruh baya di depannya sudah melihat sepasang burung love bird memadu kasih.
"Yaudah, tolong bilangin Mbok Yem yaa, saya ke rumah sakit besok sebelum berangkat kerja," ucap Clara yang segera kabur dengan kaki seribunya.
Pak Bejo hanya tersenyum simpul melihat Nonanya yang saat ini sudah beranjak dewasa, dan sudah memiliki pasangan yang lebih baik dari pada sebelumnya.
****
Di sisi lain, seorang yang sedang mengemudi motor sedang merasakan bahagia. Mulutnya tak henti-hentinya bersenandung.
"Kurasa ku tlah jatuh cinta, pada pandangan yang pertama ... eh ralat ... pada pandangan yang ke dua .. sulit bagiku untuk bisa, berhenti mengagumi dirinya ..." reno tak hentinya bernyanyi dengan lirik lau yang sama dan berulang kali, karena sejujurnya dia tidak tau kelanjutan lagu tersebut.
Yang dia tau hanyalah syair lagu ini menggambarkan perasaan bahagianya saat ini.
Dia mengurangi kecepatan laju motor karena sudah memasuki area gang sempit, tak lama kemudian dia berhenti di depan kamar kostnya.
alisnya berkerut ketika melihat ada sepatu wanita yang berada di depan pintu. Pikirannya mulai tidak enak, jangan sampai juna melakukan hal asusila di dalam. Bu kostnya bisa mengusirnya malam ini juga kalau sampai hal ini terjadi.
Reno segera membuka pintu yang tertutup, saat pintu n itu berhasil di buka, mata Reno terbelalak ketika melihat seorang gadis sedang tiduran santai di kasurnya.
di sampingnya ada Juna yang sibuk dengan ponselnya.
"Lama banget sih lo, udah bolos nggak pamitan lagi. Gue di tegur pak Kenzo gara-gara lo kabur mendadak, mana hp mati lagi," omel Juna.
Omelan Juna tidak di gubris, matanya masih syok dengan wanita yang saat ini dengan santainya tidur di kasurnya.
Melihat pria yang di tunggunya dari tadi sudah datang, gadis itu segera bangun dan melangkah mendekati Reno.
"Jangan cemburu yaa, aku nggak ngapa-ngapain sama dia kok,"