I'M Sorry My Baby

I'M Sorry My Baby
Part > 46



Clara membatu untuk sekian detik, entah mengapa mulutnya kali ini sok jagoan. Dia melempar pandangan ke lain arah, berusaha untuk menutupi wajah semu merahnya.


Reno hanya mampu menahan tawa, ternyata yang baru dia sadari adalah. Clara juga mempunyai sisi childs juga.


"Makasih kalau gitu," ucap Reno sambil menundukkan pandangannya.


"Bisa kita sarapan aja, aku berangkat subuh loh," ucap Clara mencoba mengganti topik pembicaraan.


"Oke, sebagian tanda terima kasih. Aku ajak kamu ke warung makan enak disini," ucap Reno meraih tangan Clara dan menuntunnya keluar area rumah sakit.


Clara terbelalak ketika melihat tangannya sudah di genggaman erat oleh Reno, darahnya seolah naik ke ubun-ubun saat ini.


Ada perasaan yang sulit di jelaskan. Malu, senang, berdebar bercampur jadi satu. Karena sibuk menenangkan hatinya Clara sampai tidak menyadari langkah Reno sudah berhenti.


Brukk ...


"Aww," rintih Clara saat jidatnya menabrak dada Reno.


"Oh, maaf. Sakit ya? Yang mana yang sakit, coba aku lihat," ucap Reno penuh perhatian.


Dia menyibak rambut yang menutupi kening Clara, jemari lembut Reno menyentuh lembut bagian yang sakit.


"Yang ini ya?" tanya Reno, di sertai dengan tiupan lirih untuk mengurangi rasa sakit.


Sedetik berlalu, Clara masih membatu. Matanya masih menatap bola pimping yang naik turun di tenggorokan Reno.


"Masih sakit nggak?" tanya Reno sambil mengecek kening Clara.


Merasa ada yang tak beres Reno menundukkan kepalanya, tatapan mata mereka bertemu. Jaraknya cukup dekat sehingga dia baru menyadari kalau ada sebuah titik hitam kecil di ujung mata Clara.


Semakin Reno menatap Clara, semakin angannya melayang kemana-mana.


"Ibu Clara, apakah saya terlalu tampan?" kekeh Reno.


"Iya, eh maksudnya enggak," ucap Clara terbangun dari ucapannya dan langsung membenarkan kata jujur yang keluar begitu saja dari mulutnya.


Reno hanya menggigit bibirnya berusaha untuk menahan tawa, dia tak mau gadis di hadapannya ini semakin malu.


"Jadi, mau makan aku apa nasi di dalam?" tanya Reno menggoda.


"Ya makan nasi lah, emang kalau makan kamu bisa kenyang?" ucap Clara segera melangkah melewati Reno begitu saja.


Ingin sekali Reno melompat kegirangan saat ini, hari ini hatinya berbunga-bunga akibat tinggal Clara yang selalu salah tingkah di dekatnya.


Reno melangkah masuk mengikuti Clara yang saat ini sedang memilih menu.


"Makan apa Mas?" tanya seorang pelayan.


Dia cukup muda, mungkin berusia sekitar 25 tahun. Lumayan cantik, hanya saja dari tatapan matanya kepada Reno seolah memiliki maksud tertentu.


Mata Reno masih menyusuri semua list, masih bingung menentukan pilihan.


"Yang recommended di sini, penyetan sama nasi pecel Mas," ucap Wanita tersebut.


Clara memutar bola matanya, entah dari mana datangnya emosi ini. Mendadak Clara menarik tangan Reno dan berdiri di hadapannya.


"Saya dan suami saya pesan Penyetan 4 porsi ya. Yang 2 di makan di sini dan 2 lagi di bungkus." ucap Clara tegas.


"Suami?" ucap Reno dan wanita tersebut bersamaan.


'Sejak kapan Clara mengakui hubungan ini pada orang asing?' batin Reno penuh tanya.


"Oh, sudah nikah ya ... ya udah Mbak, Mas silahkan duduk," ucap wanita tersebut melangkah pergi menyiapkan pesanan.


Reno dan Clara menjatuhkan pilihan pada kursi di pojok ruangan, mereka duduk tanpa ada suara. Mereka sibuk akan lamunan masing-masing.


Melihat tingkah Clara hari ini membuat Reno menerka, apakah dia mulai menerimanya? Tapi hal ini tak mungkin. Bukankah kemarin dia bilang dengan tegas kalau tak menginginkan seorang bayi.


Di sisi lain, Clara merasa malu saat ini. Duduknya dari tadi tidak bisa tenang, jemarinya mengetuk meja berulang kali.


Hari ini dirinya benar-benar tidak bisa mengontrol otak dan tubuhnya sendiri. Otak dan hatinya saat ini tidak singkron.


"Kamu nggak papa?" tanya Reno, wajah Clara saat ini cukup pucat. Reno takut kalau dia kecapekan.


"Nggak, cuma laper,'' jawab Clara singkat. Dia tak mau di tatap Reno terlalu lama dan membuat bibirnya lepas kontrol lagi.


Tak lama kemudian pelayang mengantarkan pesanan mereka, ada sebuah cobek yang berisi sambal. Satu cobek lagi berisi lalapan seperti Kemangi, timun, bunga kol belum lagi lain-lainnya..


DI cobek berbeda ada 2 potong daging ayam yang berwarna coklat, sepertinya ini adalah ayam panggang.


Cacing di perut Clara mulai berdemo ria, dia segera mencuci tangan di tempat yang sudah di sediakan. Dan kembali duduk di hadapan hidangan yang sudah tersaji begitu rapi.


Belum sempat mengisi perut, mata Clara terbelalak kembali setelah melihat seorang yang datang.


"Wah, akhirnya kita bertemu di sini.''