I'M Sorry My Baby

I'M Sorry My Baby
Part > 49



Clara dan Reno terkejut ketika mendengar seorang ibu yang muncul dari belakang mereka. Ibu itu tersenyum meraih bayi yang berada di gendongan Reno.


"Sudah pantes punya nih," ucap Ibu itu tersenyum menatap Reno dan Clara bergantian.


"Do'ain aja ya Bu," sahut Reno.


Reflek Clara mencubit pinggang Reno, pipinya merona akibat ucapan Reno.


"Udah nikah berapa bulan?" tanya Ibu lagi.


"Baru 2 mingguan Bu," jawab Reno.


Clara membuka matanya lebar, dia tak mengerti kenapa Reno menjawab seserius ini kepada orang yang baru saja dia kenal.


Toh mereka juga kontrak, meskipun di berbohong pun Ibu itu tak akan tau yang sebenarnya bukan?


"Pantesan," ucap Ibu itu menatap Clara penuh arti.


"Semangat yaa. Ya sudah Ibu pergi dulu, semoga cepet nyusul." lanjut Ibu itu berlalu.


"Maksud lo tadi apa?" tanya Clara melotot.


"Nggak usah di anggap serius, kan bercanda. Lagian tadi kenapa tiba-tiba bawa bayi?" tanya Reno menyatukan alisnya.


"Yang jelas bukan mau gue," ucap Clara melewati Reno begitu saja.


****


Mama Clara sedang duduk di meja makan, dia menunggu putrinya yang tak kunjung ikut berkumpul di meja makan.


"Mbok, tolong bangunin Clara gih. Udah siang loh, emang nggak kerja ya?" tanya Mama Clara.


Si Mbok segera berlari kecil menuju meja makan dan meninggalkan setumpuk piring kotor yang berserakan di wastafel.


"Nona nggak pamitan sama Nyonya ya?" tanya Mbok heran.


"Loh, emang Clara kemana?" Mama Clara balik bertanya.


"Ibu Mas Reno sakit, jadi Non Clara menjenguk nya. Berangkat tadi mala." Jawab Mbok.


"Hah tadi malam!" Mama terkejut.


"Iya, tapi berangkat sama Pak Bejo Bu," jawab Mbok untuk mereda kecemasan Nyonya.


Mendengar Pak Bejo ikut bersama Clara membuat dia lega, setidaknya ada yang menjaga gadis kecilnya yang pemarah itu.


Dia hampir putus asa karena sikap pemarah putrinya tersebut, kadang dia berpikir, masih adakah pria yang mau menerima seorang gadis pemarah dan egois sepertinya.


Papa menggenggam erat jemari Mama, dia menatap teduh ke arah arahnya.


"Apa yang kau pikirkan? Dia akan baik-baik saja," ucap Papa.


"Aku tidak tau, apakah kita sudah membesarkannya dengan baik atau tidak," ucap Mama menundukkan kepala.


"Kau sudah membesarkannya penuh dengan kasih sayang, lihat dia sudah menjadi gadis cantik, rambutnya panjang, tubuhnya putih bersih terawat. Persis seperti yang kau impikan." ucap Papa tersenyum kecil.


Mama membalas senyumannya dengan senyuman tak kalah manis, mereka berdua seolah masuk ke kehidupan beberapa tahun silam.


"Kita sudah berusaha dengan baik, Pasti Asih akan mengerti tanpa harus kau bertemu dengannya." ucap Papa menundukkan kepala.


Tampak raut wajah kesedihan yang terpancar jelas di wajah Papa. Mama menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan.


Sudah 25 tahun mereka bersama. Namun Mama tak bisa menghapus kenangan buruk yang dia ukir di hidup Papa.


"Aku tau, kau tak akan pernah mencintaiku. Sampai kapanpun itu." ucap Mama dengan mata berkaca.


Tak ada jawaban dari Papa, dia hanya menunduk dan menahan tetesan air mata yang hampir terjatuh.


"Memang seharusnya aku tidak merebut sesuatu yang bukan milikku. Karena saat aku mendapatkannya, aku sendiri yang akan bingung bagaimana menggunakannya," ucap Mama beranjak dari kursi.


"Aku mencintaimu, sampai kapanpun." ucap Papa lirih.


Langkah Mama terhenti sesaat, kemudian memutar tubuhnya. Dia menatap lekat wajah suaminya yang masih menunduk.


"Kau tidak perlu membohongi dirimu sendiri, karena itu membuatku lebih tersiksa disini. Tenanglah, aku tidak akan menceritakannya ke Clara. Namun, sampai kapan kau akan menyembunyikan ini darinya?" tanya Mama sambil melipat kedua tangannya.


"Aku akan segera memberi tau semuanya," sahut Papa lirih.


"Baiklah, besok Mike akan datang. Untuk sementara dia mau kuliah disini." ucap Mama.


"Oke, akan aku urus semua." ucap Papa masih dengan posisi duduk yang sama.


Mama melangkah pergi keluar rumah, dia memutuskan untuk duduk di taman yang terdapat di sudut halaman rumah.


Di sana terlihat Mbok sedang menyapu dedaunan kering, meskipun usianya sudah senja, dia tetap bekerja tanpa kenal lelah.


"Istirahat Mbok, nanti capek loh," ucap Mama sambil duduk di kursi yang tak jauh darinya.


Mbok segera duduk di samping Mama, dari raut wajahnya Mbok sudah tau apa yang terjadi.


"Nyonya orang yang baik, Saya yakin Bu Asih sudah memaafkan Nyonya," ucap Mbok mengelus tangan Mama.


"Saya jahat banget Mbok sama Clara, apa yang harus saya lakukan sekarang? Dia sudah mau menikah, harusnya dia tau yang sebenarnya kan," ucap Mama sambil menahan isak.


Mbok Yem memeluk Mama, mencoba untuk menenangkannya. Melihat Nyonya nya menangis membuat dia sedih.


Jangan tanya mengapa? Bahkan Mbok Yem tau segalanya yang terjadi di rumah megah ini. Maklum saja, karena dia bekerja mulai dari Tuannya masih kecil.


Keluarga Clara merupakan orang yang sangat baik, dan menghargai satu sama lain. Itu yang membuatnya bertahan lebih lama disini, di tambah lagi Tyo, Tuannya. Yang sudah dia anggap seperti anaknya sendiri.


Dia tak menutup mata tentang kejadian lampau yang di buat oleh Nadira, sang Nyonya. Kenangan pahit yang dia ciptakan sendiri telah membuat hari-hari nya seperti di neraka.


Memang hukum karma itu berlaku, dan kita tak akan pernah tau seberapa beratnya hukuman yang akan kita terima.


Sama halnya seperti Nadira, dia nekat mencintai majikannya dan membuat onar di dalam rumah tangganya. Entah itu prestasi atau aib, yang jelas Nadira melakukan semua dengan sangat rapi.


Untuk sesaat dia bisa berjaya, namun siapa sangka? Setelahnya dia harus di limpahkan tangung jawab yang berat. Dia harus merawat seorang anak dari wanita yang dia sakiti.


Tak terima, ya ... pada awalnya dia tidak sanggup harus menerima kenyataan, mau tak mau dia harus merawat Clara. Anak dari istri Tyo, Mbok Yem tidak tau kejadian jelasnya. Yang dia tau, setelah kepergian Asih. Tuannya berubah 180° berbeda.


Yang semua dia seorang yang periang, ramah, tamah. Mendadak menjadi seorang yang lebih tertutup, jangan tanya kenapa Nyonya sampai saat ini dia tidak memiliki seorang anak dari Tyo. Kalian pasti bisa menebaknya sendir.


Sebelum menikah dengan Tyo, Nadira memiliki beberapa orang putra. Mereka tidak mau di asuh olehnya, semua anaknya seolah membangun benteng pembatas yang begitu tinggi.


Hanya satu anak yang menganggapnya seorang ibu, yaitu Mike. Putra sulungnya dari pernikahan sebelumnya.


"Nyonya sudah menebus semuanya, jadi jangan seperti ini." ucap Mbok Yem.


"Tapi Mbok, bagaimana kalau Clara tau? Pasti dia akan membenciku." sahut Nadira mencengkram rambutnya yang bergelombang.


Tiba-tiba ponsel Nadira yang dia bawa berdering kencang, dia segera menggeser tombol hijau dan menempelkan di telinga kanannya


"Apa? kenapa?"