
Mendengar ocehan Mike membuat Clara sedikit memutar otak, bukankah dari awal mereka Clara memang bukanlah anak kandung Mama.
Semula Clara berpikir kalau Mike hanya bercanda, namun melihat wajah seriusnya. Dia segera kembali ke tempat duduknya di samping Reno.
Tak hanya Nadira, bahkan Tyo sampai menahan napas saat mendengar penuturan Mike secara tiba-tiba itu.
Mereka melempar pandangan ke Clara, takut kalau nantinya akan gadis itu akan terguncang atau menampakkan reaksi lebih dari itu.
Tyo dan Nadira di buat geleng kepala dan saling menatap saat melihat reaksi Clara yang di luar nalar. Bukankah harusnya Clara setidaknya menangis?
Mike masih duduk tenang dan menatap ke arah Clara, berusaha bersiap dengan segudang pertanyaan yang akan di lontarkan adiknya itu.
Sedangkan Reno, dia sudah seperti ikan di aquarium yang melempar pandangan kesana-kemari. Dia baru sadar keluarga Clara cukup rumit dari yang dia kira.
Mbok Yem datang dengan nampan yang berisi teh beberapa biskuit, perlahan dia menaruh nampan itu di meja.
Mbok Yem mengambil posisi duduk di lantai dengan kaki di tekuk, pandangannya tertunduk. Namun terdengar helaan napas panjang.
"Maafkan Mbok Tuan, saya terlalu ikut campur." ucap Mbok memecah keheningan.
Semua mata tertuju pada Mbok Yem,
"Tuan Anjasmara sudah sangat baik kepada keluarga saya, saya tidak enak hati bila melihat keluarga ini hancur begitu saja." lanjut Mbok Yem menatap Tyo.
Tyo menghela napas panjang, setidaknya dia sedikit lega karena putrinya saat ini baik-baik saja. Otak ya sudah membayangkan hal yang tidak-tidak dari tadi.
Dia bangkit dari kursi dan merangkul pundak Mbok Yem, dia menuntun wanita senja itu duduk di sampingnya.
"Apa yang Mbok mau cerita?" tanya Tyo menatap Mbok Yem dengan tatapan teduh.
Mata senja itu menatap semua orang yang duduk di ruang tamu saat ini, tampak air mata yang menerobos untuk keluar.
"Tuan Anjasmara sangat mengutamakan kesejahteraan orang di sekelilingnya, itu sebabnya perusahaan yang dia kelola mengalami peningkatan yang pesat. Meskipun dia telah tiada," Mata mbok Yem menerawang jauh di mana saat dirinya baru pertama kali singgah di rumah megah ini.
"Semua keluarga disini adalah orang baik, saya yakin itu," lanjut Mbok Yem melempar pandangan ke arah Nadira dan Tyo.
"Non Clara, ada sesuatu yang harus Non tau." Mbok Yem menatap Clara lekat. Jemari Nadira mencengkram kuat tangan Mbok Yem.
"Iya Mbok, ada apa ya?" sahut Clara yang sudah tidak sabar mendengar inti permasalahan.
"Non sudah tau kan kalau Non bukan putri kandung Nyonya Nadira?" tanya Mbok dengan lembut.
Clara menganggukkan kepalanya cepat, dia sudah tau sejak dia duduk di bangku SD. Karena Mbok lah yang merawatnya setiap hari, dan beliau selalu mengatakan hal demikian.
"Mbok bilang apa sama Non?" Mbok Yem memastikan agar Nadira dan Tyo tidak salah paham.
"Papa dan Mama kesepian, jadi Clara di adopsi untuk menemani mereka." jawab Clara spontan.
"Jadi selama ini kau menganggap Mama hanyalah Mama angkat," sahut Mike tak percaya.
Dia sedikit kecewa dengan ucapan Clara, bahkan Mamanya setiap hari cerita kalau gadis tinggi semampai itu adalah orang yang paling menyayanginya di rumah megah ini.
Mendengar ucapan Mike dengan intonasi kasar membuat mata Clara berembun, nyatanya kakaknya itu salah besar.
"Clara sayang sama Mama dan Papa, meskipun bukan anak kandung mereka, Clara ..." ucapan Clara tersengal karena air mata yang turun deras.
Reno mengelus pundak Clara, mencoba menenangkannya. Saat ini situasi cukup rumit, dia tak mau menambah masalah lagi. Walaupun mulutnya gatal ingin mencerca manusia bule di hadapannya.
Degh ...
Jangankan jantung Reno dan Clara. Bahkan Tyo dan Nadira saat ini bagaikan naik rollercoaster, jantungnya berdetak naik turun karena semua fakta yang di beberkan Mbok Yem.
Reno dan Clara saling pandang, mereka tidak tau kapan penyamaran mereka terbongkar. Padahal bagi mereka permainan ini sudah cukup rapi.
"Mbok Yem tau dari mana?" tanya Reno yang tak mampu menahan rasa ingin taunya.
Mbok Yem hanya tersenyum kecil melihat wajah Reno yang memerah, entah itu marah atau malu.
"Mbok sudah hidup lebih lama dari kalian, jadi kalian tidak bisa berbohong pada Mbok," jawab Mbok Yem.
Reno seakan mati kutu, mulutnya terbungkam tak bisa menanyakan banyak hal lagi. Terlebih tatapan semua orang kini tertuju padanya, seolah sedang mengulitinya sampai lapis terdalam.
"Ibu kandungmu adalah Asih," sahut Mbok Yem, matanya kembali menerawang jauh.
Mata Clara terbelalak ketika mendengar nama itu, nama yang sepertinya tak asing dalam ingatannya.
"Dia adalah orang yang sangat cantik dan sabar, Baik. Sangat menyayangi Papamu, Tyo." ucap Mbok Yem dengan tatapan masih sama.
Angannya kembali mengingat sosok cantik, angguk dan berwibawa. Sayangnya dia tak memiliki takdir cukup baik di dunia ini.
'Suaminya? Tyo? Astaga, aku benar-benar gila' batin Clara perih.
Dulu waktu kecil dia sangat mendambakan kehadiran sosok Ayah, bahkan dia sering menangis di tengah malam hanya karena ingin bertemu sosok itu.
Ya ... Tyo selalu hadir, dia selalu memberi figuran seorang Ayah. Meskipun hatinya tenang, namun tetap saja dia masih penasaran dengan Ayah kandungnya.
Dan kenyataannya, di luar ekspektasi ...
"Asih sakit kanker stadium lanjut, hingga dia tak dapat menyelamatkan masa depannya sendiri. Di sisi lain, ada seorang pembantu yang berambisi untuk menggantikan posisi Asih." lanjut Mbok Yem.
"Katakan siapa dia Mbok!" sahut Clara.
Mbok Yem hanya tersenyum simpul, dan melempar pandangan ke arah Clara. Dia tau ini pasti akan terjadi,
"Dia seorang yang tulus merawat keluarga Asih sampai saat ini," jawab Mbok Yem.
"Mbok Yem," tebak Clara.
Seketika jantung yang sedari tadi meloncat tak karuan seolah ingin keluar dari raga mendadak tertidur pulas. Otot-otot yang semula tegang menjadi semakin lemas mendengar jawaban Clara.
Ternyata meskipun dia dewasa, otaknya masih belum terlalu mencair dan dapat menyimpulkan masalah dengan bijak.
"Apa kau gila! Ugh, aku tidak bisa membayangkan bagaimana nasip Reno kelak." ucap Mike yang memijat keningnya.
Clara melempar pandangan ke Mbok Yem dan Reno secara bergantian. Dia masih tidak tau dimana letak kesalahannya.
"Apa aku salah?" Clara masih memasang wajah bingung.
"Tidak kamu tidak salah, yang pastinya bukan Mbok. Tidak mungkin Papamu terpikat pada Wanita Tua Rentah seperti ini bukan?" ucap Mbok Yem menggelengkan kepalanya lirih.
"Mama yang merebut Papa dari Ibu kandungmu Nak," sahut Nadira.
"Apa! Tidak mungkin!''