I'M Sorry My Baby

I'M Sorry My Baby
Bab > 55



Bagai kilatan petir di siang bolong, Clara syok dengan apa yang dia dengar. Wanita yang selama ini dia sayangi melebihi dirinya sendiri, bahkan telah menghancurkan kehidupannya.


Clara terdiam sesaat, mencoba mencerna apa yang saat ini terjadi. Semua kenyataan ini terlalu sulit dia terima.


Mike beranjak dari kursinya dan naik ke lantai atas, meninggalkan Clara yang masih di penuhi kebingungan.


Sedangkan Nadira menahan isaknya, dia bangkit dan melangkah mendekati Clara.


Dengan berlutut dan memeluk erat putrinya angkatnya tersebut dengan lembut.


Clara bisa menerima kenyataan kalau dia bukanlah anak kandung mereka mereka berdua, tapi menerima kenyataan kalau Ibu kandungnya meninggal karena seorang yang dia panggil Mama selama ini. Apakah ini adil bagi Ibunya?


"Kamu bisa pukul Mama Nak, tampar Mama sekuat yang kau mau," ucap Nadira sambil mengayunkan tangan Clara.


Clara segera menarik tangannya, saat tangan itu sudah hampir menempel di pipi mulus Nadira.


Dia tak tau harus apa saat ini, marah? Dia saja tidak tau rupa Ibunya seperti apa. Kecewa? mungkin ada sedikit rasa kecewa, namun Mamanya sudah merawatnya sampai sejauh ini.


Apakah Clara tega menyusutkan Mamanya Saat ini?


"Baik, tugas Mama sekarang selesai. Mari kita pulang." ucap Mike yang sudah menyeret dua buah koper dan tas ransel di punggungnya.


Suara koper yang menggelinding menuruni tangga membuat bising telinga, dan membuat semua orang menatap ke arahnya.


Mbok Yem dan Tyo hanya menunduk. Mereka tak bisa menghentikan kedua orang ini.


Nadira sudah memberikan keputusan, akan sangat egois bila Tyo menghalanginya. Karena sampai detik ini dia tidak mampu memberikan cintanya kepada wanita yang selama 20 tahun bersamanya.


20 tahun bukanlah waktu yang singkat bagi sebuah pernikahan. Bila ada yang bilang cinta akan datang saat kita sering bertemu.


Itu tidak pernah di rasakan oleh keduanya, mereka seolah berada di pulau indah yang sunyi.


Tak ada cinta dan kasih sayang, yang ada hanyalah kewajiban dan setingan. Mereka menjalani semua dengan hambar.


Berhubungan badan? setiap rumah tangga pasti lekat dengan hal ini. Namun tidak dengan rumah tangga Tyo dan Nadira.


Mereka lebih memilih mengeluarkan kocek untuk mendapatkan kepuasan batin mereka masing-masing.


Tyo yang masih merasa bersalah dengan mendiang istrinya, tak sanggup lagi menjamah Nadira.


Saat keinginan itu muncul, selalu ada bayang Asih di sampingnya. Begitu pun yang di rasakan Nadira selama ini.


"Mama mau kemana?" celetuk Clara.


"Mama akan pergi sayang, kau sudah tau semua kan? Kau bisa memanggilku Tante, begitu lebih baik." jawab Nadira sambil mengelus pucuk kepala Clara.


"Aku hanya ingin kau bahagia dan tak mau memaksakan kehendak. Menikahlah atas dasar cinta, dan jangan tunda kehamilan. Ibumu, Asih. Dia sangat berjuang demi mendapatkan mu." lanjut Nadira lembut.


Nadira segera bangkit dan melangkah mendekati Mike, tangannya sudah meraih koper yang dari tadi menantikannya.


Perlahan Nadira mengayunkan langkah nya keluar rumah. Detakan langkah kaki yang menjauh seolah membuat Clara hanyut ke dalam lamunannya.


Tyo meremas kepalanya, ingin sekali dia mencegah wanita itu pergi. Tapi bayangan Asih selalu mengingatkan akan kesalahannya.


Mbok Yem bangkit dari kursi dan melangkah menuju dapur, pecah sudah tangisnya saat kakinya sudah sampai di balik tembok.


"Semoga kau bisa menemukan kebahagiaan yang sempurna Nadira, Mbok hanya bisa mendoakan kamu dari sini." bisik Mbok Yem perih.


Reno memeluk pinggang Clara, yang membuat dia terperanjat kaget.


Meskipun dia bukan anggota keluarga inti, dan tidak mengerti apa masalah mereka. Akan lebih baik bila mereka di beri waktu ruang untuk sendiri.


Reno menuntun Clara naik ke tangga dan melangkah menuju kamar, sampai di dalam kamar Reno segera menuntun Clara untuk berbaring.


"Baru aja gue kasihan sama lo, ternyata hidup gue lebih buruk lagi." ucap Clara dengan tatapan kosong.


Reno menyeret kursi kecil yang biasa Clara buat duduk di depan kaca, dan duduk menatap Clara.


"Udah tidur sana, nggak usah mikir macem-macem" jawab Reno alakadarnya.


"Gila nggak sih? Orang yang selama ini gue pikir udah mati ternyata masih hidup, dan orang yang paling gue kangen secara nggak langsung di ancurin sama orang yang paling berharga di hidup gue. Lo tau kan maksudnya." ucap Clara memijat kening dan melempar pandangan ke arah Reno.


"Iya tau, pusingkan? Maka dari itu kamu tidur, setelah bangun nanti pusingnya ilang. Baru deh mikir lagi." kekeh Reno.


"Gila lo! Bisa serius dikit nggak sih!" ucap Clara sambil melempar bantal ke arah Reno.


"Mau gimana lagi dong? Urusan orang dewasa itu ribet, nggak usah di pikirin. Udah sekarang tidur aja, aku mau bik ke desa dulu. Besok lusa baru sampai sini lagi." ucap Reno yang hendak beranjak dari kursinya.


"Enak aja main kabur, bantuin gue mikir dong," perotes Clara.


Reno menarik napas panjang dan berbalik, dia menatap calon istrinya yang otaknya saat ini sedang membeku.


Entah kenapa setelah pulang dari desanya, dia merasa Clara banyak berubah. Otak pintarnya tiba-tiba hilang begitu saja.


"Coba ngikut apa kata hatimu, terus rembukin di kepala. Kalau masih tetep nggak ketemu, WA. Oke!" ucap Reno yang kemudian menghilang di balik pintu.


"Astaga, bisa-bisanya gue bisa dapat suami kayak dia." desah Clara memijat keningnya kembali.


Reno melangkah menuruni tangga, di ruang tamu sudah sepi. Mungkin Tyo sudah pergi dari beberapa menit yang lalu.


Sulit memang menjadi posisi Tyo, itulah sebabnya Reno tidak pernah terbesit sedikitpun untuk selingkuh.


Akan ada banyak tantangan yang menguji adrenalin di tahap-tahap selanjutnya.


Mikirin hidup dan cari uang buat kebutuhan saja sudah pusing minta ampun, masih saja ada orang yang bernyali besar untuk selingkuh.


Kalau sudah begini, siapa yang kena getahnya? Kasihan banget Clara. Baru saja dia berkomit untuk rendah hati dan tidak mudah terpancing emosi.


Malah dapat kenyataan yang menyesakkan dada, semoga saja dia tidak kembali ke wujud wanita galak seperti di kantor.


"Mbok Yem," panggil Reno setelah dia sampai di dapur.


Tampak Mbok Yem yang sedang menyiapkan beberapa makanan untuk makan siang.


"Sibuk Mbok?" tanya Reno basa-basi.


Kenapa Mbok Yem masak begitu banyak, padahal dia yakin tak akan ada yang mau makan hari ini.


"Tolong temenin Ni. Clara makan, sekalian Den Reno." ucap Mbok memberi nampan yang cukup besar.


"Maaf, mbok Yem nggak kuat." ucap mbok Yem sambil nyengir.


Dia hargai kerja keras Mbok Yem, sehingga dia memutuskan untuk mengukuhkan jam pulangnya.


Reno tidak segera mengambil nampan tersebut, matanya masih menatap sayur bening bayang yang disajikan di nampan.


"Om Tyo kemana, Mbok?