
Reno meneguk liurnya sesaat, dia tak tau harus mulai dari mana untuk mengatakan semuanya kepada Clara.
"Ada apa?" tanya Clara penasaran.
"Bisakah kita melakukan akad lagi? Keadaan ibuku kritis." ucap Reno lirih.
"Apa?" Clara tak percaya dengan apa yang dia dengar.
Melihat kecemasan Reno membuat dia teringat akan posisi yang pernah dia alami seperti dirinya.
"Baik, ayo." sahut Clara.
"Apa?" Kini Reno lebih tidak percaya dengan ucapan Clara yang dia dengar.
"Gimana sih?" ucap Clara memutar bola matanya.
"Ini nggak gratis, kita harus bicarakan masalah resepsi dan anak kantor." ucap Clara sambil melangkah menjauh.
Tampak senyum mengembang di wajah Reno, dia segera berlari kecil menyusul Clara yang sudah berjalan jauh darinya.
Sampailah mereka di sebuah kamar, mereka saling bertatapan. Terkejut akan pemandangan yang tak terduga, begitu banyak suster keluar masuk kamar ibu Reno.
Reno segera masuk, tampak ibunya yang terbaring lemah dengan banyak peralatan medis terpasang di tubuhnya.
Di sampingnya berdiri sang Ayah yang menangis sesenggukan,
"Ada apa Yah?" tanya Reno dengan mata berkaca-kaca.
"Ibu drop," jawab Ayah singkat.
"Biarkan Ibu istirahat sebentar, kalau ada apa-apa bisa segera panggil suster jaga," ucap dokter berpamitan dan melangkah keluar kamar di susuk beberapa suster.
Reno hanya berdiri terpaku melihat kondisi ibunya, begitupun Ayah. Dia duduk di kursi sambil menahan air mata yang terus menetes.
Melihat semua bersedih membuat Clara tak kuasa menahan air matanya, dia turut prihatin dengan kejadian yang menimpa Reno saat ini.
Tiba-tiba perasaannya di penuhi rasa bersalah akibat menuduh Reno yang tidak-tidak kemarin. Saat ini dia bisa melihat sendiri bagaimana hancurnya perasaan Reno.
"Ibumu akan baik-baik saja, aku akan menolong mu." ucap Clara menenangkan Reno.
Reno melempar pandangannya ke Clara sesaat, kemudian menundukkan kepalanya. Entah Ibunya akan bangun atau tidak.
"Kau pasti bisa, Percayalah. Ibumu akan selamat, sama seperti Mamaku." ucap Clara menggenggam jemari Reno.
"Semoga, terima kasih." ucap Reno singkat.
Clara melangkah menjauh dari Reno dan Ayahnya, mereka butuh waktu untu menerima peristiwa pahit ini. Dia melangkah keluar kamar dan duduk di taman.
Di hadapannya terdapat sebuah air mancur kecil, tersedengar gemericik air kolam. Di tambah ikan warna-warni yang asik berenang didalamnya.
Melihat banyak mainan anak-anak, sepertinya di hadapannya saat ini adalah bangsal khusu anak. Tampak beberapa ibu-ibu sedang menggendong anaknya yang tertidur lelap.
Tak sedikit dari mereka menggunakan selang infus di tangan, sebagian juga di kaki. Melihat ini semua, hati Clara terasa ngilu. Dia tak bisa membayangkan bagaimana kelak dirinya memiliki seorang buah hati.
Membayangkan saja sudah repot, apalagi memiliki. Namun semua angan terpecah saat di sampingnya duduk seorang Ibu yang menggendong seorang bayi mungil.
"Permisi Mbak, mau duduk di sini boleh?" tanya Ibu tersebut.
"Boleh Bu, silahkan." jawab Clara ramah.
"Terima kasih," jawab Ibu tersebut dan duduk di samping Clara.
Terlihat dari wajahnya, sepertinya Ibu ini berumur tak jauh dari Clara, mungkin sekitar 30-35 tahunan. Mata Clara terbuka lebar saat melihat ibu tersebut membuka kancing bajunya dan bersiap menyusu bayinya.
Entah mengapa melihat ini Clara malu sendiri, dia semakin bersumpah tidak akan memiliki seorang bayi bila seperti ini yang dia alami nanti.
"Siapa yang sakit mbak?" tanya Ibu tersebut.
"Ibu saya Mbak," jawab Clara sambil melempar senyum.
Wanita tersebut mengangguk lirih, ujung mata Clara melihat bayi mungil tersebut. Dia memperhatikan dengan seksama bayi yang sedang menyusu ibunya.
'Bayi ini biasa saja, kenapa semua orang ribet banget pengen punya beginian. Nggak ada lucu-lucunya' batin Clara yang tanpa sadar terus menatap bayi tersebut tanpa berkedip.
"Mbak sudah punya?" tanya Ibu tersebut.
"Hidup memang pilihan Mbak, ngga usah buru-buru," ucap Ibu tersebut tersenyum teduh.
'What?' Clara tak menyangka pertanyaan Ibu tersebut telah menampar pipinya begitu keras.
Ternyata tak semua orang mempunyai sudut pandang yang sama. Dan dia baru tau saat ini.
"Bila saya di suruh memilih, saya akan memilih untuk menunda ini semua. Begitu banyak cita-cita yang belum di raih, tapi tak ada gunanya menyesal bukan? Karena tidak semua wanita di beri karunia terindah seperti ini," ucap Ibu tersebut panjang lebar.
Kali ini Clara benar-benar tak bisa menjawab sepatah katapun, lidahnya terasa Kelu. Matanya seketika memanas, dia tak menyangka kalau ada seorang seperti ini tersebut.
"Tolong bantu saya sebentar bisa mbak?" tanya Ibu tersebut.
"Minta tolong apa ya Mbak?" tanya Clara.
"Tolong bantu gendong anak saya sebentar, saya mau ke toilet." ucap Ibu tersebut menyodorkan bayinya.
"Tapi Bu, saya nggak bisa." ucap Clara menolak halus.
"Bisa, cuma sebentar kok." ucap Ibu tersebut membantu Clara untuk menggendong bayinya.
Dia menuntun tangan Clara untuk mendekap bayi tersebut, kemudian melangkah cepat menuju kamar mandi.
Clara sedikit kikuk ketika menggendong bayi tersebut, dia takut kalau bayi itu terjatuh. Tampak raut ketakutan terpancar di wajah cantik Clara.
Sekian menit berlalu, Clara sudah sedikit tenang, dia bisa sedikit menyesuaikan posisi. Di duduk dengan tenang dan menatap sang bayi mungil yang saat ini dia gendong.
Perlahan dia menyentuh pipi tembemnya degan telunjuk, bayi itu hanya bergerak sedikit. Clara segera mengayunkan bayi tersebut.
"Pelit banget, di colek dikit aja," keluh Clara.
Kelembutan pipinya membuat Clara ketagihan, dia menyentuhnya kembali. Tak ada pergerakan, hingga jemarinya menyentuh bibir mungil yang lembut tersebut.
Tiba-tiba bayi tersebut membuka mulutnya, dan menggelengkan kepalanya cepat. Clara mulai panik, dia segera berdiri dan mengayun tangannya cepat.
"Cup Dek, kakak janji nggak ganggu lagi." ucap Cara lirih.
Clara semakin panik saat bayi tersebut menangis kencang, kepanikan Clara membuat dia mengayunkan semakin cepat tangannya. Namun bayi tersebut tetap tidak menutup mulutnya, malah semakin kencang.
Mata Clara sudah memanas hendak menangis dia tak tau harus bagaimana,
"Cup Dek, cup dong. Kakak janji nggak nakal lagi. Ibumu sebentar lagi datang kok. please diem dong," ucap Clara semakin panik, karena dia menjadi pusat perhatian sekarang.
Hingga ...
"Loh, bayi siapa ini?" tanya Reno.
"Syukur, tolongin gue dong please." ucap Clara dengan mata berkaca-kaca.
Reno tersenyum simpul dan meraih bayi tersebut, dia mengayunkan dengan lembut. Ajaibnya, bayi tersebut diam, hanya sesederhana itu.
Clara menatap Reno heran, perasaan dia juga hal yang sama seperti Reno. Tapi kenapa respon bayinya berbeda.
Reno hendak mencium bayi tersebut.
"Stop!" ucap Clara.
"Kenapa?" tanya Reno mengerutkan alisnya.
"Nanti nangis lagi loh, kan malu ada banyak orang," bisik Clara.
"Kamu aja yang nggak tau caranya." ucap Reno enteng.
Dengan kuat dia mencium bayi mungil tersebut, malah kedua pipinya di lahap habis oleh ciuman maut Reno.
"Tuh kan, dedeknya aja diem," ucap Reno bangga.
"Mau coba?" tanya Reno.
Clara menganggu lirih, Reno menyodorkan bayi tersebut. Clara mulai mendekat dan menciumnya perlahan.
Baru kali ini Clara merasakan wangi yang membuatnya nyaman, hingga dia ingin menciumnya lebih lama lagi.
"Makasih ya mbak,"