
Mbok Yem menatap lekat mata Reno, dia menuntunnya untuk duduk di meja makan.
"Non Clara itu orang yang baik, sebenarnya dia tidak pemarah. Hanya saja kurang mendapatkan perhatian," ucap Mbok Yem.
Reno mengangguk lirih, sebelum Mbi Yem mengatakan semuanya. Reno tau siapa Clara yang sebenarnya.
Dia juga yakin, dirinya hanya butuh waktu beberapa hari saja untuk memaafkan Mamanya. Melihat dia sangat menyayangi wanita tersebut.
"Hanya saja Keluarga mereka sangat rumit, jadi ... Kau Taulah tadi," lanjut mbok Yem, tampak raut kekhawatiran terpampang di wajah senja.
"Mbok tenang saja, saya tau kok maksudnya. Saya tidak akan meninggalkan Clara," ucap Reno yang menggenggam jemari yang mulai keriput.
Wajah tulus mbok Yem mengingatkan akan almarhum Ibunya, mata teduh dan senyuman indah khas seorang ibu yang sedang menatap anaknya.
Meskipun nasib Clara tidak begitu beruntung, namun ada seorang ibu peri di sisinya akan lebih baik.
Reno melepaskan genggaman dan berdiri, dia melangkah mendekati meja dapur untuk meraih nampan yang berisi makan siang Clara.
"Saya akan mengantarkan ini dulu," ucap Reno menaiki tangga.
Mbok Yem hanya tersenyum melihat kepergian Reno, semoga adanya Reno di samping Clara membuatnya baik-baik saja.
Pintu terbuka, Clara yang semula memejamkan mata kini membukanya kembali.
"Loh belom jadi pulang?" tanya Clara, sambil bangun dari tidurnya.
"Masih laper, nggak enak makan di bawah." jawab Reno nyengir.
Reno menaruh nampan itu di meja rias Clara, aroma masakan mbok Yem khas dan membuat cacing di perutnya meronta-ronta.
Clara segera bangun dan duduk di tepi ranjang, matanya masih terlihat sembab. Begitupun hidungnya yang memerah.
Reno menyiapkan satu entong nasi, yang di guyur sayur bening bayam dan di bubuhi bakwan.
Kemudian menyodorkan ke Clara, dengan wajah riang dia segera meraih sepiring nasi tersebut.
"Terima kasih," ucap Clara memamerkan senyum indahnya.
Reno mengambil satu porsi lagi untuk dia, dan duduk di kursi tempat duduknya tadi.
Mereka mulai menikmati makan siang yang sedikit telat, sejujurnya perut mereka sama laparnya.
Tak ada obrolan di antara mereka, semua sibuk dengan makanan yang ada di hadapannya.
Di tambah lagi masakan Mbok Yem memang tak ada tandingannya, lidah mereka seakan di manjakan oleh makanan ini.
Sederhana, tapi sangat lezat.
"Ahh, enak banget. Alhamdulillah." ucap Reno yang mengelus perutnya.
Di balas kekehan Clara, ternyata orang asing di hadapannya saat ini mulai terbiasa hidup di lingkungannya.
Dulunya dia menikahi pria ini hanya karena satu alasan, namun alasan itu telah menghilang saat ini.
Jauh di dalam hatinya sangat menyayangkan hal itu, Entah mengapa hatinya mulai merasa nyaman dengan hubungan palsu ini.
Tanpa terasa dia melamun dan menatap lekat Reno,
"Apakah kau saat ini jatuh cinta padaku?" ucap Reno mendekatkan wajahnya ke hadapan Clara.
Seketika lamunan Clara terpecah dan memalingkan wajahnya.
"Pede banget jadi orang, udah sana pergi. Udah dapat makanan gratis kan!" jawab Clara ketus.
"Oke, tapi beneran kan ... aku ganteng." goda Reno.
'Astaga, sejak kapan dia berubah jadi makhluk super pede kaya gini.' batin Clara tambah kesal.
Tanpa pikir panjang, Clara melempar bantal ke arah Reno. Di saat bersamaan dia mengangkat nampan yang berisi sisa makanan mereka berdua.
Brakk ...
Nampak itu terjatuh dan memecahkan beberapa piring dan mangkuk.
"Maaf, gue nggak sengaja." Clara yang segera berdiri dan tak sengaja kakinya tergores pecahan beling.
Aww ...
"Kamu sih nggak bisa diem!" Reno khawatir dan segera membantu Clara untuk duduk.
Mbok Yem membuka pintu, matanya membulat ketika melihat kekacauan di kamar Clara.
"Ada apa Non," ucap Mbok Yem berhamburan menuju ke Clara.
"Nggak papa Mbok biar di obati Reno. Tolong Mbok beresin itu aja ya," pinta Clara dengan sopan.
Mbok Yem melangakhkan berbalik arah, dia menuju dapur untuk mengambil alat bersih-bersih.
Di sisi lain, Reno mengambil kotak obat di meja rias Clara dan mengobati kaki istri palsunya tersebut.
Ada pecahan beling yang tertancap, meskipun tidak dalam, tapi lumayan sakit bila di tarik.
"Coba lihat aku bentar," pinta Reno.
"Udah kaya gini, Lo masih aja ngelawak?" Clara mulai kesal.
Reno berjongkok di hadapan Clara, dia menaruh kaki gadis itu di kakinya yang di tekuk.
"Pejamkan mata," pinta Reno.
"Nggak mau, nanti Lo nyosor gue," ucap Clara menutup bibirnya.
"Kalau Aku mau, udah habis kau semalam." sahut Reno mulai sebal.
Clara lupa kalau semalam dia tidur satu ranjang dan bahkan tidak terjadi apapun.
Di otak yang berbeda, Reno mengingat bagaimana tanpa sadar Clara memeluknya erat sebagai pengganti guling.
Untung saja imannya kuat, kalau tidak juniornya pasti sudah bersemayam di goa hangat dari tadi malam.
"Iya ... iya ... bawel." gerutu Clara sambil memejamkan mata.
Belum sedetik, Clara sudah menjerit kesakitan. Tampak peluh yang menetes di ujung matanya.
Telapak kakinya mengalir cairan merah segar yang cukup deras. Reno segera menyumpal aliran itu dengan kapas yang berada di tangannya.
"Gila Lo, b*ngst ... Lo mau bunuh gue hah!" umpat Clara yang tak bisa di rem.
"Yaelah gini doang juga," ucap Reno.
Beberapa menit kemudian selesailah drama dokter pasien dia kamar Clara, Mbok Yem juga sudah membersihkan semua kekacauan itu.
Reno berada di ambang pintu rumah dan hendak berpamitan. Bagaimanapun dia masih ada acara penting di rumahnya.
****
Sepekan berlalu, semua kembali pada aktifitas masing-masing. Reno berkerja menjadi supir.
Clara juga mulai sibuk dengan tugas kantornya yang menumpuk. Untungnya dia bisa memposisikan diri saat ini, dia lebih memilih menyibukkan diri dari pada harus merana sepanjang waktu.
Meskipun rasa kesepian sering menghampirinya, biasanya pagi harinya selalu di penuhi omelan Nadira.
Kini rumah amat sepi, hanya ada Tyo, Mbok Yem dan Pak Bejo. Satu spesies yang jarang sekali ngobrol dengan Clara.
Pintu di buka. Ada dua orang masuk, Clara segera berdiri untuk mengambil kedatangan orang yang berpangkat di perusahaan ini.
"Hallo Clara, bagaimana tugasmu?" jawab Kenzo melirik map yang masih tertumpuk di meja kerjanya.
Di sampingnya berdiri seorang gadis cantik dengan rambut yang tergerai indah, lebih tinggi dari dirinya.
Kelihatannya gadis ini bukan gadis sembarangan, melihat paras cantik dan semua barang yang menempel di tubuhnya.
Semua barang terkesan elegan dan tidak norak,
"Kenalkan ini Geovana, Adikku." Kenzo mengenalkan gadis yang berada di sampingnya.
Gadis itu hanya melipat tangan nya saja, tak ada niatan untuk berjabat tangan atau sekedar menyapa Clara.
Wajahnya datar dan sangat menyebalkan, semoga saja gadis ini segera di bawa pergi.
Gadis itu melangkah mengitari ruangan dengan langkah angkuhnya, dia menatap jijik ke setiap sudut ruangan.
"Aku nggak mau di ruangan ini!" ucap Geo dengan suara dingin.
"Nggak bisa, cuma ruangan ini yang tersisa." sahut Kenzo cepat.
"Kak, aku nggak mau di ruangan bersama gadis kumuh kaya dia!" rengek Geo.
"Lagian kamu kenapa tiba-tiba pengen kerja, kalau kamu nggak mau disini. Aku jadiin OB. Mau!" ancam Kenzo.
Melihat pertengkaran kakak-beradik ini membuat Clara tak tenang. Harinya akan lebih suram dari sebelumnya.
"Maaf Pak Ken, sebenarnya ada apa ya?" Clara memastikan apa yang terjadi.
"Dia akan jadi sekertaris mu, jadi ajari dia dengan baik!" ucap Kenzo dengan nada tegas yang tidak mau di bantah.
Belum selesai dengan drama ini, pintu kembali terbuka. Reno masuk membawa dua nasi bungkus.
"Kita ma ..." ucapan Reno tercekat di tenggorokan ketika matanya menatap bos besar yang saat ini sedang berdiri di samping Clara.
Melihat kedatangan Reno, seketika mata Geo berbinar.
"Lo ..." ucap Geo menunjuk Reno.
Reno mengerutkan alisnya, dia mencoba mengingat siapa gadis yang ada di dekat Clara.
Gadis itu melangkah mendekat, kemudian mendorong pundak Reno dengan telunjuknya.
"Gimana Ibu Lo?" tanya Geo.
Mendengar pertanyaan itu Reno teringat dengan gadis yang menolongnya di jalan.
"Kamu," ucap Reno melempar senyum.
"Udah yaa ... Aku masih sibuk, Clara titip adik saya, dan kamu Reno cepetan balik kerja." ucap Kenzo yang melangkah keluar dengan terburu-buru.
Pasti akan banyak drama yang di ciptakan oleh Geo, sehingga dia lebih memilih kabur sebelum ikut masuk ke dramanya.
Clara memutar bola matanya, entah mengapa perasaan dongkol tiba-tiba menyelimuti jiwanya, ketika dia tau kalau Adik bosnya bisa kenal begitu akrab dengan Reno.
Clara melangkah dan duduk di meja kerjanya, melanjutkan aktifitas nya yang terganggu akibat tamu yang tak di undang.
Matanya menatap layar laptop dan tumpukan lembaran kertas secara bergantian.
Namun konsentrasinya terganggu akibat, kedua makhluk yang saat ini bersenda gurau di hadapannya.
"Hallo Nona, Tuan bisa kalian keluar. Saya tidak bisa melanjutkan pekerjaan saya," ucap Clara ketus.
Geo merasa tersinggung dan bangkit dari kursinya, dia segera melangkah mendekati Clara dan menunjuk wajahnya.
"Heh, kamu tuh siapa! berani-beraninya nyuruh aku keluar," Geo tidak terima.
"Apakah Anda tau ini dimana, dan sekarang anda ngapain?" ucap Clara melempar pandangan ke Reno.
Melihat tatapan itu membuat nyali Reno menciut. Dengan sopan dia berpamitan untuk keluar.
Langkahnya terhenti ketika tangannya masih menggenggam kantong pelastik yang berisi 2 bungkus nasi.
Dia melangkah mendekati Clara dan menaruh bungkusan itu di mejanya.
"Maaf, ini pesanannya Bu. Saya permisi." ucap Reno menundukkan pandangannya dan melangkah keluar ruangan.
Kini di ruangan hanya menyisakan Clara dan Geo, mereka saling menatap dengan tatapan sengit.
Ingin sekali tangan Geo mencakar wajah ketus Clara dan melemparnya ke jendela.
Hal yang sama juga di rasakan oleh Clara, dia sangat terusik dengan kehadiran Geo di ruangan pribadinya.
****
Seorang sedang duduk di kursi kantor, dia menatap jalanan ramai di bawah lewat kaca tebal yang berada di hadapannya.
Meskipun jalanan begitu ramai, namun hatinya kesepian. Sudah sepekan ini dia tidak pulang ke rumah, begitu banyak kenangan yang membuat hatinya terasa begitu perih.
Entah saat ini putrinya bisa memaafkan nya atau tidak, yang jelas dia belum siap menjawab segudang pertanyaan yang akan di lontarkan padanya.
"Tuan Tyo, ini sarapan Anda," ucap sekretarisnya, Dino.
"Iya, mau taruh di meja saja." jawab Tyo.
"Maaf Tuan, masalah hak waris. Apakah kita ..." Dino merasa tak enak hati untuk melanjutkan ucapannya.
Situasi sudah seperti ini, dia tak mau pihak Nadira akan menuntut lebih. Melihat anak kandung Tyo hanyalah Clara seorang, sedangkan Nadira memiliki beberapa putra yang cukup unggul.
"Saya belum bisa memastikannya, Kita bahas lain waktu," ucap Tyo memijat keningnya.
"Baik Tuan, saya keluar." pamit Dino.
Firasat Dino sudah tidak enak dari kemarin lusa, dan pada akhirnya hari ini peristiwa itu terjadi.
Mike datang ke kantor dan masuk ke ruangan Tyo, dia bisa masuk dengan mudah karena beberapa bulan lalu dia di perkenalkan ke staff kantor sebagai putra sulung Tyo.
Dino terbelalak dan mundur teratur melihat kedatangan Mike ...
"Jadi, Apakah hari-hari Papaku cerah belakangan ini," sapa Mike kecut.
Tyo menarik napas panjang dan memutar kursinya, dia melihat Mike sudah siap dengan setelan jas kantornya dengan warna hitam dan kemeja putih. Di lengkapi dengan dasi berwarna biru dongker.
Dia tersenyum penuh kemenangan menatap Tyo yang saat ini masih duduk.
"Kebetulan kau datang, mari kita sarapan," ucap Tyo bangkit dari kursinya.
Di duduk di sofa, Dino segera menyiapkan sarapan Tuannya. Melihat piring yang kurang, sekertaris itu bergegas keluar ruangan.
"Tidak usah, aku cuma sebentar," sahut Mike yang mencegah kepergian Dino.
"Aku hanya ingin mengingatkan, kalau Mamaku juga ikut berjuang mempertahankan perusahaan ini, jadi kau harus lebih adil baginya," lanjut Mike menatap Tyo yang duduk tenang.
Tyo tak bergeming, dia masih dengan santainya mengiris sandwich di piringnya.
"Semoga diam mu itu pertanda kalau kau mengerti maksudku," ucap Mike geram.
Tangan Dino sudah gatal ingin segera menyeret Mike untuk keluar, namun masih dia tahan karena tak Tyo tak kunjung memberikan titah.
"Kita bisa mengobrol di luar bukan, masalah itu sangat sensitif bila di bahas disini," ucap Tyo sambil melahap sesuap roti.
"Ck ... Mamaku sangat gila, bisa-bisanya dia mencintai orang seperti ini," ucap Mike melangkah pergi.