
Clara berjongkok untuk mengambil celana yang berada di dalam lemari, secara tak sadar dress-nya terangkat sedikit.
Reno segera melepas jasnya dan menutupi pinggul Clara,
"Ada apa?" tanya Clara kebingungan melihat Reno melempar jas.
"Nggak papa, gerah aja." jawab Reno singkat, dia berharap Clara mengerti apa yang dia maksud.
Jujur Reno tidak bisa menahan apa yang dia inginkan lebih lama lagi, tubuh Clara seolah mengajaknya untuk bersenang-senang saat ini.
"Aku nunggu di luar aja," ucap Reno yang melangkah keluar kamar.
Tak lama kemudian Clara keluar, dia membawa setelan jas berwarna biru dongker sangat serasi bila di sandingkan dengan gaunnya.
"Ganti ini, Lalu kita berangkat." ucap Clara menyodorkan setelan jas tersebut.
Reno meraihnya dan segera masuk kamar
****
Di tempat pesat, Mike hanya mengundang beberapa relasi kerjanya saja. Tak ada banyak orang yang datang.
Di sudut ruangan ada seorang yang duduk di sofa sambil terus menatap lakat Mike,
"Siapkan rencananya, dia harus hancur malam ini," ucap seorang wanita dengan lirih, nyaris tak terdengar.
Wanita itu memetik jarinya dan seorang pelayan pria yang ada di sampingnya segera pergi. Wanita tersebut bangkit dan melangkah mendekati Mike.
"Hallo Mike, selamat atas kemenanganmu," ucap wanita dengan memamerkan senyum palsunya.
"Hallo Nona Alice, maafkan aku. Aku merebut thunder besarmu," kekeh Mike.
"Tenang saja, kau pantas mendapatkannya. Kau sangat kompeten dalam bisnis ini," ucap Alice menatap Mike penuh arti.
"Kak Mike," panggil Clara yang melangkah mendekat.
Reno melangkah di belakangnya, matanya menyapu seisi rumah Mike dan Nadira ini. Rumah ini dia kali lipat lebih megah dari rumah Clara.
Sebelumnya dia bisa bernapas lega karena tak terlihat banyak orang, karena hanya sebagian saja mobil yang terparkir di halaman rumah.
Namun, setelah dia masuk, anggapan salah besar. Meskipun yang datang hanya segelintir orang tapi mereka semua bukanlah orang tembre, semua terlihat berkelas.
"Hallo Baby, i Miss you so much," ucap Nadira yang berhamburan memeluk Clara.
"Mama, aku kangen banget. Lihatlah, Mama sangat senang bersama Kak Mike sampai melupakanku," rengek Clara.
"Lihatlah kau tidak berubah, makanya segera menikah ... Reno pasti sudah siap menemanimu sepanjang hari," ucap Nadira memainkan matanya.
"Tapi dia tidak bisa menemani tidurku Maa ..." Rengek Clara manja, meskipun dia sudah besar. Tapi Nadira sering tidur bersamanya walaupun itu tidak setiap hari.
"Reno ... nanti malam temani Clara tidur oke, sepertinya dia butuh teman," kekeh Nadira.
Reno hanya tersenyum kecil, entah dia harus merespon bagaimana. Dirinya masih syok dengan lingkungan baru yang super mewah ini.
Mike melangkah mendekati mereka, namun di hadang oleh Alice. Di saat bersamaan ada seorang pelayan yang menyodorkan segelas minuman untuk mereka.
Alice menyodorkan minuman berwarna merah ke arah Mike,
"Terima kasih, aku kan menyapa adikku sebentar," pamit Mike yang meraih gelas dari tangan Alice dan melangkah mendekati Clara.
"Kau terlambat Adik bawelku," ucap Mike mencubit hidung Clara.
"Hah aku haus sekali," ucap Clara menyambar minuman yang ada di tangan Mike.
Hanya dalam satu tegukan Clara sudah menghabiskan minuman yang berwarna merah tersebut.
"Shi**t, gagal. Kurang ajar sekali gadis itu." ucap Alice lirih sambil mengeratkan giginya.
Alice segera melangkah pergi dari pintu belakang dengan amarah yang meledak.
Sementara itu Mike dan keluarganya sedang bersenda gurau tak jauh dari Alice.
"Jadi kau sudah menerima kado dari Mama?" tanya Nadira menatap Clara.
"Sudah Maa, makasih ya Maa ..." ucap Clara memeluk erat Nadira.
"Sudahlah Maa jangan di godain mulu, makan dulu yuk ..." ajak Mike melangkah menuju meja yang berisi banyak makanan manis.
Langkah kaki Clara terhenti, tiba-tiba kepalanya berputar-putar. Dirinya terkuyung lemas dan hampir terjatuh.
"Clara kamu nggak papa?" tanya Nadira khawatir.
"Bawa ke kamar atas Reno, Mama siapkan obat." ucap Nadira yang segera menaiki tangga, di susul oleh Reno yang segera menggendong Clara.
Mereka naik ke tangga dan masuk ke kamar, beberapa orang memperhatikan kepergian beberapa orang tersebut. Sebagian orang sempat ricuh namun bisa di atasi dengan Mike.
Nadira membuka pintu, Reno masuk dan menaruh Clara di atas kasur. Dia segera melepas sepatu Clara dan menutupi tubuhnya dengan selimut tebal.
Ini sangat aneh, padahal beberapa menit yang lalu Clara baik-baik saja. Kenapa tiba-tiba jadi seperti ini. Di tambah lagi tubuhnya sangat panas.
Tak lama kemudian Nadira datang membawa lap kompres dan beberapa obat.
"Jagain Clara bentar yaa, mungkin dia kecapekan. Jangan Khawatir dia sering seperti ini kalau banyak pikiran. Tante turun dulu yaa ..." ucap Nadira melangkah pergi.
Reno menatap lekat wajah cantik di hadapannya saat ini, bibir merah, hidung mancung dan kulit putih bersih terawat.
Dia sangat bersyukur memiliki istri seperti dia, walaupun status mereka ini belum sah secara hukum.
"Aku akan menantimu, sampai kapanpun Raa ..." bisik Reno.
"Uhhh, panas ..." ucap Clara lirih.
"Yang mana Raa, sini aku kompres," ucap Reno menyentuh kening Clara.
"Panas, ahh ..." ucap Clara menggeliat seperti cacing kepanasan.
Reno semakin khawatir, matanya menyapu kamar. Matanya terhenti saat melihat sebuah AC, tanpa pikir panjang dia segera menyalakan AC tersebut dengan suhu minim.
"Udah Raa, buka matamu. Mana yang sakit, aku pijitin," ucap Reno masih menampakkan wajah khawatir.
Clara membuka mata, dia mendorong Reno ke belakang sehingga dia tergeletak dengan posisi Clara di atas tubuh Reno.
Mata Reno terbelalak, dia tak menyangka Clara bisa melakukan ini. Perlahan Clara membuka resleting gaunnya, Reno bangkit dan mencengkram tangan Clara.
"Nggak Raa, aku nggak mau seperti ini," ucap Reno manarik lagi resleting itu ke atas.
"Udah kamu istirahat dulu yaa, aku buatkan teh hangat," ucap Reno.
"Kamu nggak suka sama aku? Kamu lebih suka Geovana kan?" ucap Clara parau.
"Raa, jangan mulai lagi. Kamu tau kan aku nungguin kamu siap, udah jangan mikir macem-macem. Sekarang kamu istirahat dulu," ucap Reno menggeser duduknya.
"Nggak, nggak mau," ucap Clara menangkupkan kedua tangannya ke wajah Reno dan menariknya mendekat.
"Aku mohon Clara, aku cuma pria biasa yang bisa khilaf kapan saja." Reno memohon, bagian celananya sudah terasa sesak saat ini.
Otaknya masih bisa berpikir jernih, dan dia tak mau akan ada kejadian yang tidak di inginkan di menit berikutnya.
Clara ingin menghentikan semua ini, namun tubuhnya seolah menginginkan lebih. Dia tak bisa menahan rasa yang bergemuruh di dadanya.
Aliran darahnya naik dan berkumpul di ubun-ubun, semua tubuhnya tersengat aliran listrik yang membuatnya beberapa kali terjingkat.
Mmhhh ...
Mulut Clara tak mampu menahan rauangnya, sekali lagi Reno hanyalah pria biasa. Melihat Clara yang menggeliat di atasnya membuat dirinya tak mampu menahan gelora biologisnya.
"Raa aku mohon, aku tidak mau seperti ini. Biarkan aku pergi," ucap Reno menahan darahnya yang sudah ada di ubun-ubun.
Tapi tidak bagi Clara, alih-alih berhenti, dia malah menyambar bibir Reno dan mencengkram erat rambut ikalnya.
Untuk kali ini Reno tak mengerti kenapa Clara sampai seganas ini, yang jelas dia sudah tak mampu menahan tombaknya yang sudah menegang di bawah sana.
"Maaf Clara, aku tidak bisa menahannya ..." ucap Reno meraih resleting di punggung Clara dan menariknya ke bawah.
Gaun Clara melorot sedikit demi sedikit dan menampakkan kulit mulusnya, Reno segera mengubah posisinya. Perlahan Reno menaruh Clara dalam kungkungannya.
"Maaf Clara ..." ucap Reno sambil membuka sabuk dan resleting celananya ...