
Saat ini jantung Reno berdegup kencang, telapak tangannya sampai basah karena gugup. Di hadapannya saat ini duduk seorang pria gagah yang sedari tadi menatapnya lekat.
Tampak pandangan keraguan yang terpancar dari matanya, di sampingnya ada seorang wanita paruh baya yang menatap pria di sampingnya dengan tatapan jengah.
"Sudah lah Mike tinggal bilang setuju aja ribet banget sih," perotes Nadira.
"Maa, Mike nggak tau dia benar-benar serius nggak sama Clara." ucap Mike tegas.
"Kamu kebanyakan mikir, filing seorang ibu itu nggak pernah salah. Dia udah cocok kok sama Clara," ucap Nadira penuh semangat.
Mike menatap lekat Reno, terdengar helaan napas panjang,
"Ya sudah lah terserah kalian aja," ucap Mike mengalah.
"Makasih sayang," ucap Nadira kegirangan.
Jawaban Mike menandakan kalau resepsi Clara dan Reno akan segera di selenggarakan. Nadira tak sabar menanti acara itu tiba.
Sudah lama dia menyusun acara ini, sampai dia mulai putus asa karena Clara yang selalu teguh pendirian dan tetap memutuskan untuk tidak menikah.
Entah apa yang membuatnya menerima pernikahan ini, yang jelas ini adalah kabar yang baik.
****
Satu bulan berlalu, saat ini tiba acara yang di tunggu-tunggu, Nadira menggunakan kebaya berwarna merah muda dengan bawahan narik berwarna coklat, di sampingnya berdiri seorang pria paruh baya yang masih terlihat gagah, siapa lagi kalau bukan mantan suaminya, Tyo.
Di antara mereka berdiri sepasang pengantin yang memakai brokat putih dan berhiaskan bunga melati di bagian kepalanya.
Clara dan Reno sangat serasi siang ini, banyak karyawan Clara yang terharu melihat atasan galaknya sudah menemukan pasangan yang tepat.
Mereka tak hentinya menangis, jangan tanya mengapa. Clara adalah atasan yanga sangat baik sebenarnya dia kerap kali membelikan cemilan saat ada lembut, terlebih saat target terpenuhi. Clara tak ragu untuk merogoh kocek dalam untuk berlibur dengan bawahannya. Meskipun dia terbilang tegas dan galak, tapi dia merupakan atasan yang paling baik.
Sangat di sayangkan, setelah pernikahan ini Clara harus risen dari pekerjaannya dan fokus menjadi seorang istri.
Di tempat yang berbeda, ada seorang gadis cantik yang sedang duduk di taman. Tak hentinya dia menghapus air mata yang bercucuran.
Dia tak menyangka pria yang dia sayangi lebih memilih orang lain dari pada dia.
"Kok nangis?" tanya Mike duduk di samping gadis tersebut.
"Pengen nikah juga," jawab Geovana ala kadarnya, di masih ingin menuangkan kepedihannya.
Mike tersenyum kecil melihat tingkah labil gadis di hadapannya saat ini, tingkahnya sudah seperti Clara saat SMA.
Mike berdiri dan meraih tangan Geovana, dia menuntunnya menuju mobil yang terparkir di halaman rumah Clara.
"Mau kemana?" tanya Geovana yang masih sibuk menghapus air matanya.
"Katanya mau nikah, aku siap kok jadi suamimu," ucap Mike serius.
Geovana mematung mendengar ucapan pria dengan badan tegap dengan mata biru di hadapannya saat ini. Ini terlalu indah bila terjadi sungguhan.
"Udah masuk, kita buat pesta nikahan sendiri," ucap Mike yang mendorong Geovana naik ke dalam mobil. Mike segera melaju meninggalkan rumah Clara dan menuju suatu tempat.
****
Clara duduk di kursi riasnya, jantungnya berdegup cepat saat ini. Di belakangnya duduk seorang pria yang saat ini sudah berubah status menjadi suami sahnya, bukan lagi suami palsu.
Entah mengapa Clara terasa sangat malu untuk sekedar menoleh ke belakang.
"Nggak capek yaa duduk disitu terus?" tanya Reno menopang wajahnya dengan tangan.
"Ini masih mau lepasin konde," dusta Clara yang bahkan dia masih duduk tanpa melakukan aktivitas apapun.
"Sini aku bantuin," ucap Reno melepas kan tusuk konde yang terselip di rambut Clara.
"Kalau butuh apa-apa kamu panggil aku aja, aku pasti akan bantuin kamu," ucap Reno yang serius melepaskan tusuk konde satu persatu.
"Beneran?" ucap Clara menatap pantulan wajah tampan Reno dari cermin.
"Ya benerlah, masa bohong. Kan kita udah sah sekarang," sahut Reno masih dengan ekspresi yang serius.
"Kamu nggak akan pernah berubah?" tanya Clara lagi.
"Berubah dong, masa gini terus. Pastinya aku bakalan tambah ganteng karena ada yang ngurusin." kekeh Reno.
"Garing banget," ucap Clara melempar pandangannya.
Tanpa sadar sanggul yang terpasang di kepala Clara sudah terlepas sempurna, saat ini Clara lebih mirip dengan singa dari pada wanita cantik.
Reno memutar kursi dan berlutut di hadapan Clara, dia menyurai lembut rambut Clara yang mengembang akibat hais spray.
"Meskipun aku nanti tambah jelek karena melahirkan, kamu masih tetap seperti ini?" tanya Clara serius.
Reno tak menjawab, dia masih fokus dengan rambut Clara.
"Mau keramas sekarang apa besok aja?" tanya Reno mengganti topik pembicaraan.
"Jawab dulu," sahut Clara yang mulai sebal.
"Nanti kalau aku jawab, kamu harus nanggung konsekwensinya loh. Mau nggak?" tanya Reno memicing.
"Mau, asalkan kamu harus jujur," Jawab Clara penuh percaya diri.
"Oke, jadi kamu mau tanya apa?" Reno menaruh sisir yang dia genggam.
"Apa kamu akan selalu seperti ini?" Clara mengulang pertanyaannya.
"Aku akan tetap seperti ini, bila kamu juga masih sama seperti ini. Aku tau kamu nggak percaya sama cinta, itu sebabnya aku ngasih kamu waktu untuk merasakan apa itu cinta," ucap Reno menatap lekat mata indah Clara.
"Mungkin aku nggak bisa seperti Mama, Papa, Mike dalam mengungkapkan cinta mereka, karena pada dasarnya aku memang berbeda," Reno mengecup tangan Clara.
"Aku berjanji akan terus belajar mengerti kamu dan selalu ada di sampingmu, sampai kau tau apa arti cinta sesungguhnya. Dan aku janji bila kamu nggak menemukan cinta itu ... aku rela melepasmu Raa ... karena aku sudah gagal," ucap Reno dengan mata berkaca-kaca.
"Kita baru aja nikah loh, masa ngomong gitu," ucap Clara menangkupkan tangannya ke wajah Reno.
"Aku sadar raa, aku nggak pantes buat kamu. Kita terlalu jauh, aku aja yang terlalu terobsesi ..." ucap Reno menundukkan pandangannya.
Cup ...
Clara mendongakan wajah Reno dan mendaratkan kecupan lembut di bibir lembut suaminya.
"Oke, kita belajar sama-sama. Jangan pergi kalau aku salah, tapi ajari aku ..." bisik Clara.
Reno menyambar bibir Clara lagi, dengan lembut mereka berpangut hingga ketukan pintu membuat aktivitas mereka terhenti.
"Astaga, padahal aku udah mode on loh," ucap Reno dengan wajah kecewa.
"Dasar cowok, itu mulu yang dipikirin." enek Clata yang beranjak dari kursinya.
Reno meraih tangan Clara dan menariknya sedikit,
"Ingat konsekuensinya, 3 ronde malam ini." bisik Reno mengedipkan matanya.
"Huh nggak mau rugi banget," Clara mendorong Reno dan melanjutkan langkahnya untuk membuka pintu.