I'M Sorry My Baby

I'M Sorry My Baby
Suami?



Tiba-tiba Rico datang dan masuk ke ruang rawat, dia mengamuk hebat di dalam. Akan tetapi, syukurlah scurity segera datang dan memisahkannya.


Tekad Clara sudah bulat, semua pihak keluarga tak mampu melakukan hal lebih. Ini semua jauh dari rencana mereka.


Seketika penghulu menikahkan Clara Dan Reno, setelah semua berjalan lancar. Mama Clara memejamkan mata kembali, tampaknya kondisinya kembali melemah.


Karena waktu sudah malam, Pak Bejo mengantar Clara dan Reno pulang. Sementara Papa dan Mbok Yem masih di rumah sakit menemani Mama.


Tak ada obrolan serius di dalam mobil, baik Clara maupun Reno masih sibuk memikirkan keputusan besar yang mereka ambil tanpa pikir panjang.


Mampukah Reno bertahan di keluarga glamor milik Clara? atau mampukah kelak Clara bersosialisasi dengan orang di desa? Melihat clara adalah anak keluarga kaya raya.


Di sisi lain, Clara masih menatap langit malam lewat jendela. Dia membuka kaca Jendela sedikit, agar udara gerah di dalam mobil mendingin. Karena Clara tidak suka AC.


Beberapa menit berlalu dengan keheningan, mobil telah sampai di rumah megah Clara. Mereka turun, sementara Pak Bejo masih setia menunggu Reno untuk masuk ke mobil kembali.


Sejenak mereka saling bertatapan, banyak hal yang ingin mereka jelaskan. Akan tetapi, lidah mereka Kelu dan bingung untuk memulai dari mana.


"Maaf ya, sudah merepotkan mu," ucap Clara menatap Reno.


"Nggak pa pa Bu, saya bisa mengerti keadaan Ibu," ucap Reno menganggukkan kepala.


Clara mengangguk lirih, dia melempar senyum manis ke Reno. Kalau di rumah, dia benar-benar sangat berbeda, tidak seperti saat di kantor.


"Untuk sementara, anggap saja seperti tidak terjadi apa-apa. Mama juga masih di rumah sakit. Kita bicarakan kelanjutannya besok," ucap Clara.


"Baik Bu, saya permisi dulu." ucap Reno sambil memutar tubuhnya dan melangkah menjauh.


"Tunggu," panggil Clara.


Reno menghentikan langkanya dan memutar kembali tubuhnya.


"Biar di anter pak Bejo," ucap Clara.


"Nggak Bu, terimakasih. Saya bisa pulang sendiri," ucap Reno melanjutkan langkahnya keluar dari halaman rumah megah tersebut.


Langkah demi langkah Reno melewati jalanan yang minim penerangan, angannya melayang jauh. Hatinya terus menimang, apakah keputusan yang dia ambil benar atau salah.


Entah mengapa dia merasa dunia ini tidak adil dengan Clara, sehingga tanpa pikir panjang dia melakukan hal tersebut.


Terlebih ketika melihat Clara menangis, hatinya seolah ikut merasakan hancur. Berulang kali Reno mengacak rambut kepalanya, dia tidak mengerti dengan dirinya sendiri.


Saat ini isi kepala dan hatinya saling bertolak belakang, langkah kaki Reno terhenti ketika mendengar seseorang yang memanggilnya dari belakang.


Seorang pria senja yang berlari kecil mengikuti langkahnya, tampak nafas yang ngosh-ngosan. Akibat menopang berat badannya.


"Pak Bejo?" Tanya Reno, dia tidak mengira kenapa Pak Bejo bisa mengejarnya.


Dengan berusaha mengatur nafasnya Pak Bejo, meraih pundak Reno. Matanya menatap ke arah Reno.


"Jadi, kenapa kau mau menikah dengan Nona Clara?" tanya Pak Bejo


Seketika Reno terdiam, jangan kan Pak Bejo. Bahkan, dirinya sendiri tidak tau mengapa dia sangat bersimpati dengan Clara.


Reno terdiam, matanya menatap kosong ke arah Pak Bejo. Tiba-tiba nyawanya melayang entah kemana.


Clara sudah Bejo anggap seperti anaknya sendiri, karena memang Bejo telah bekerja lama di rumah megah tersebut. Meskipun Clara adalah seorang yang sulit untuk bergaul, tapi dia adalah wanita yang sangat baik.


Reno tersadar dari lamunannya, dia menatap lekat manik mata Pak Bejo yang penuh tanya. Bibirnya mulai membuka mengatup, ingin berkata. Tapi, Akankah Pak Bejo percaya?


"Sa-Saya nggak tau Pak, saya cuma nggak tega lihat Bu Clara menangis seperti tadi," ucap Reno.


"Non Clara sudah saya anggap seperti putri saya sendiri, kalau kau sampai berani macam-macam. Saya tak segan-segan untuk membalasnya," ucap Pak Bejo, kemudian dia melangkah pergi meninggalkan Reno yang masih berdiri menatapnya.


Reno melanjutkan lagi langkahnya untuk pulang, otaknya terus melayang jauh, mengingat keputusan besar yang dia lakukan tadi.


****


Matahari bersinar terang, Reno sudah siap menjalani aktifitasnya kembali. Meskipun semalam dia sulit untuk memejamkan mata, itu bukan menjadi alasan untuk menghambat pekerjaan pagi ini.


Dengan wajah sumringah Reno melangkah keluar kamar kostnya, dan berdiri di sisi jalan raya untuk menunggu angkutan umum yang lewat.


Reno masih tidak tega kepada kedua orangtuanya kalau motor itu di bawa ke kota, mereka lebih membutuhkan dari pada Reno.


Tak butuh waktu lama, Angkutan yang di tunggunya telah lewat. Dia segera naik dan melaju melewati barisan mobil yang amat sibuk.


Tak butuh waktu lama Reno sudah sampai di kantornya, dia turun dari angkutan dan melangkah menuju kantor. Sesampainya di kantor jantungnya berdetak begitu cepat saat melihat paras cantik yang lewat di hadapannya.


Dia lewat begitu saja tanpa sedikitpun menoleh ke arahnya, ada sedikit rasa kecewa. Tapi dia kembali sadar diri, siapa dia dan bagaimana hubungan mereka.


"Kedip dong, cewek model begitu aja di pelototin," ucap Juna menepuk bahu Reno, ketika melihat Clara yang sudah hilang di balik pintu lift.


"Apa sih," ucap Reno melangkah menuju dapur kantor.


Reno meninggalkan Juna begitu saja dan melangkah menuju dapur, dia segera mengambil cangkir dan satu sachet kopi instan.


Di belakangnya sudah ada Juna yang melakukan hal yang sama, kemudian mereka duduk di kursi yang sudah di sediakan. Biasanya di dapur memang ada banyak karyawan duduk, sekedar untuk menikmati kopi sebelum memulai aktivitasnya.


"Emang Lo nggak denger ya?" tanya Juna, menatap lekat Reno.


"Apa?" tanya Reno acuh.


"Bu Clara sudah punya suami loh," ucap Juna.


Mendadak kopi yang hendak masuk ke kerongkongan Reno berhenti seketika, begitupun nafasnya. Sehingga kopi tersebut tersembur ke luar


Reno terbatuk dengan mulut yang di penuhi tumpahan kopi, bajunya sampai kotor karena itu. Untung saja bajunya warna hitam, jadi tidak mencolok.


"Suami?" ulang Reno.


"Iya, malah gue punya fotonya. Walau nggak jelas sih," ucap Juna meraih ponselnya yang berada di saku celana.


"Foto?" ucap Reno lagi.


Seketika tubuh Reno lemas, tulang-tulangnya seakan tak mampu menahan tubuhnya agar terus kokoh tegak. Jantungnya seketika berdebar ketika menantikan Juna menunjukkan foto tersebut.


BERSAMBUNG.....