I'M Sorry My Baby

I'M Sorry My Baby
Minta No Ponsel



Sontak Clara menjerit histeris ketika melihat seekor ulat sedang berjalan di kakinya, reflek Reno segera menepis ulat tersebut.


Badan Reno agak membungkuk untuk mengecek kaki Clara, biasnya akan ada bulu ulat yang membuat kulit iritasi.


Saat Reno mendongakkan kepala, di saat bersamaan Clara melempar pandangan ke arah Reno. Untuk sesaat mereka saling berpandangan, hingga akhirnya suara Mbok Yem membuyarkan lamunan mereka.


Mbok Yem melambaikan tangan, memberi isyarat untuk segera masuk ke dalam rumah. Mungkin Papa dan Mama Clara sedang mencari mereka.


Clara hanya melambaikan tangan dan tak ada niatan untuk beranjak dari kursi, Reno membenarkan posisi duduknya kembali.


Mereka sedikit canggung karena peristiwa barusan.


"Maksud aku nyuruh kamu kesini untuk membicarakan masalah kontrak, Karena Mama sudah sembuh. Jadi semua tidak bisa di ulur lagi," ucap Clara agak canggung.


"Baik Bu," jawab Reno.


"Untuk sekian kalinya, tolong ingat! panggil nama saja dan jangan terlalu formal." ucap Clara memicing.


Bila Reno terus bersikap seperti ini, Papa dan Mamanya akan langsung mengetahui rencana mereka.


Clara tidak mau harus mengorbankan kesehatan Mamanya lagi, hanya demi sebuah status yang bernama pernikahan.


Setiap gadis pasti mengharapkan sebuah pernikahan, entah kenapa nasip Clara sangat buruk. Bahkan untuk pernikahan kontrak saja harus seribet ini.


"Masalah resepsi, apakah aman?" tanya Clara khawatir.


"Maksudnya?" tanya Reno dengan alis bertaut.


"Kalau kita mengadakan resepsi, apakah ada orang kantor yang mungkin membocorkannya?" tanya Clara.


"Atau mungkin orang tuamu harus di undang?" ucap Clara tak yakin.


Bahkan Reno tidak berpikir sampai kesana, jangankan untuk mengundang orang tuanya. Berusaha tetap bisa berdiri tegak dia antara keluarga Clara saja sudah bersyukur.


Walau hatinya begitu perih, karena memikirkan resepsi pernikahannya. Tapi mau bagaimana lagi? toh ini juga pernikahan pura-pura dan lagi Reno tak mau membuat orang tuanya seperti lelucon.


Meskipun dia merasa seperti Malin Kundang, lebih baik begini. Dari pada orang tuanya akan malu akibat jarangnya bergaul dengan orang kaya.


"Hallo, apakah kau masih mendengarkan?" tanya Clara melambaikan tangan ke waja Reno.


"Maaf Ra, aku hanya teringat orang tuaku. Mereka sangat mengharapkan aku menikah, tapi apa gunanya mereka datang. Semua ini hanyalah settingan kan," ucap Reno polos.


Clara melempar pandangan, mendengar ucapan Reno membuat dirinya tertampar keras. Seolah mengingatkan kalau yang dia lakukan hanyalah mengulur kehancuran.


"Mungkin kamu punya saran lain?" tanya Clara lesu.


"Tidak ada Ra ... kelihatannya kita memang harus melakukan semuanya, apa teman kantor kau undang?" tanya Reno.


"Kau pasti bisa menebaknya kan? lihatlah Mama sangat antusias kemarin," ucap Clara menghela nafas panjang.


"Kita bahas besok lagi bagaimana, aku harus segera pulang," ucap Reno.


"Oke, oiya bisa minta nomor ponsel?" tanya Clara.


Melihat ekspresi Reno yang penuh tanda tanya, membuat Clara segera menjelaskan alasannya.


"Kita harus terlihat bersama dan saling kompak, tadi pagi aku hampir gila karena tidak tau kau dimana," ucap Clara sebal.


Reno segera meraih ponsel yang terselip di celananya dan mengetik nomor Clara, kemudian menggeser tombol hijau.


"Sudah, jadi aku pulang sekarang ya," ucap Reno agak canggung.


"Oke, aku antar ke rumah untuk berpamitan sama Papa Mama." ucap Clara beranjak dari kursi dan melangkah menjauh di ikuti Reno yang melangkah di belakang.


Terlihat Papa Mama Clara sedang berbincang di ruang tamu, melihat kedua anaknya datang membuat mereka mengentikan obrolan.


"Kok diem sih?" tanya Clara.


"Oiya, Reno pamit pulang dulu Maa ... Paa ..." ucap Clara enteng.


Kedua pasang mata saling menatap heran.


"Kok pulang?" tanya Mama bingung.


Clara melebarkan mata setelah sadar dia salah ucap, Begitupula Reno. Mereka segara mencari alasan agar semua terlihat baik-baik saja.


"Maaf Saya harus mengambil barang di kost sebentar?" ucap Reno mencari alasan.


"Memang barang apa sih yang mau di ambil?" tanya Mama Clara.


"Karena kami sibuk, baju ganti Reno belum sempat di cuci Ma." Sahut Clara.


Mama Clara terdiam sejenak, dia mencoba memahami semua situasi. Hingga akhirnya.


"Kamu nggak usah pulang, udah istirahat di kamar dulu. Masalah baju nanti biar pakai baju punya Kakaknya Clara." Jawab Mama Clara enteng.