
Clara dan Reno sudah duduk di meja makan, di hadapan mereka sudah ada Mama Papanya yangsedang sibuk menikmati sarapannya.
Pagi ini sedikit berbeda dari biasanya, perasaan Clara mulai tidak enak. Tidak biasanya mereka sarapan dengan keadaan hening seperti ini.
Hanya dentingan sendok yang terdengar, keadaan ini sudah lebih serak dari pada keheningan film horor yang biasa Clara lihat di bioskop.
"Resepsi akan kami gelar Minggu depan," ucap Mama Clara dengan memamerkan deretan gigi putihnya.
Kerongkongan Clara mendadak berhenti berkerja, makanan yang lewat berhenti dan masuk ke rongga hidung.
Clara terbatuk sampai matanya mulai berkaca dan memerah, Reno reflek menepuk punggung Clara dan menyodorkan air putih.
"Loh emang kenapa?" tanya Mama Clara menatap putrinya heran.
"Maa, emang nggak kecepatan?" Tanya Clara ragu.
"Enggak kok. Semua undangan, dekor, catering, sovenir, sampai MUA sudah Mama siapkan dengan baik dan rapi," ucap Mama Clara bangga.
Clara segera melempar pandangan ke arah Reno, berharap kalau dia memiliki cara agar bisa mengulur resepsinya. Dia tak bisa membayangkan bagaimana penduduk kantor akan heboh bila mendengar kabar ini.
Reno kembali ke tempat duduknya, dia meneguk segelas air putih sampai habis. Otaknya berusaha mencari alasan yang tepat untuk membatalkan resepsi ini.
"Maaf Pak, Bu," ucap Reno memulai topik.
"Kelihatannya panggilan itu terlalu kaku, panggil kami Papa Mama." sahut Mama Clara.
Reno melempar tatapan ragu kepada Clara, dia meneguk liurnya dan mencoba menata perkataannya.
"Saya rasa, tidak perlu terburu-buru Maa. bagaimanapun saya ..." ucapan Reno terpotong, lidahnya kelu untuk melanjutkan perkataannya.
Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal dan menatap Clara. Untungnya gadis di hadapannya tau maksud ucapan Reno.
"Maksud Reno, dia masih bermasalah dengan profesinya." ucap Clara menatap Reno dan melebarkan matanya.
Reno tau, orang tua Clara tidak mempermasalahkan hal ini. Dia juga tidak yakin dengan cara ini, Tapi tidak ada salahnya berusaha bukan?
Melihat dari cara orang tua Clara menetap mereka secara bergantian, seolah ada secercah harapan.
"Memang kenapa? Kan Reno sudah kerja di perusahaan Papa," heran Mama, menatap Clara dan Reno bergantian.
"Tapi Maa ... kan baru masuk, masa' iya langsung nikah sama aku. Kelihatan ngincer harta nggak sih?" tanya Clara menatap Mamanya lekat.
"Clara mulutnya," ucap Papa Clara.
Clara hanya memutar bola matanya, untuk pertama kalinya dia melihat papanya membela seseorang. Padahal biasanya dirinyalah yang nomor satu di hidup Papanya.
"Tidak apa-apa Paa, memang seperti itu kenyataannya." ujar Reno menyapa Papa Clara teduh.
"Tetap saja dia seorang istri, tidak boleh bertindak merendahkan suaminya. Kalau memang begitu keputusannya kita bisa mengulur beberapa bulan kedepan, agar tidak terlihat mencolok." kata Papa Clara.
Tak hanya Clara, Reno pun juga bisa bernafas lega. Setidaknya hidupnya akan aman untuk beberapa bulan ke depan.
"Meskipun resepsi mundur, Reno harus tetap tinggal disini!" jelas Mama tegas.
"Mama tidak mau menunda memiliki cucu lagi." ucap Mama Clara tegas.
"Maa, tapi kan?" Clara tidak mau kalah.
"Nggak ada ceritanya childfree, kalian harus segera memiliki momongan titik." ucap Mama Clara beranjak dari kursinya.
Terlihat wajah kecewa yang mendalam dari sorot mata Mama Clara, sepertinya dia serius dalam urusan cucu.
Setelah acara sarapan selesai, Clara dan Reno berpamitan untuk berangkat kerja. Mereka berangkat di antar oleh Pak Bejo.
Di sepanjang perjalan otak Clara tidak bisa berhenti memikirkan ucapan Mamanya, sesekali dia mencuri pandang ke pria di sampingnya.
Mungkinkah dia bisa? memberikan seluruh hidupnya untuk orang asing yang saat ini sudah menjadi suaminya?