I'M Sorry My Baby

I'M Sorry My Baby
Rindu



Clara sedang duduk di depan layar laptopnya dengan tatapan kosong, di sampingnya ada setumpuk map yang sudah menantinya untuk di segera di buka.


Namun, otak Clara masih sibuk dengan hal lain. Sampai deringan ponsel memecah lamunannya. Dia melempar pandangan ke layar ponsel yang menyala, tampak barisan angka yang tertera di sana.


Karena mood Clara masih campur aduk, dia mengabaikannya begitu saja. Baginya nomor yang tidak di kenal tidaklah penting dan hanya membuang-buang waktu saja.


Lamunannya terpecah, dia baru sadar ada banyak tugas di hadapannya saat ini. Termasuk map nasabah yang sudah menumpuk tinggi.


Clara memutar bola matanya, dan menghempaskan tubuh lelahnya ke sandaran kursi. Sesekali dia memijat pangkal hidung untuk mengurangi rasa pusingnya.


Pintu ruangannya terbuka perlahan, seorang pria tampan dengan tubuh postur tegap masuk ke dalam.


"Cie, yang lagi sibuk." ucap seorang yang familiar bagi Clara.


Clara segera mendongakkan kepalanya, dia terbelalak ketika melihat seorang yang ada di depannya.


"Lo! Kenapa lo bisa masuk?" tanya Clara sambil beranjak dari kursinya.


"Kan Lo pacar gue, semua karyawan disini juga tau kan," ucap Riko enteng.


Clara membuang pandangannya, entah mengapa monyet ini selalu mengganggunya. Bukankah dia sudah punya mainan baru? Kenapa harus mengusik masa lalunya?


Clara segera mengangkat gagang telpon kantor,


"Scurity, datang ke ruangan saya!" ucap Clara tegas.


"Loh, Sayang. Kok panggil scurity sih?" tanya Riko melangakah mendekati Clara.


Clara segera mengangkat tangannya, mengisyaratkan untuk pria itu tidak melangkah lebih dekat lagi.


"Lo udah tau kan? gue udah nikah. Kita udah berakhir." ucap Clara menekan kalimat akhir.


Riko hanya tersenyum kecil, dia mengabaikan ucapan Clara dan terus melangkah mendekat.


"Kalau lo berani maju lagi, gue teriak nih. Biar di gebukin sekalian sama orang kantor." ancam Clara.


Mendengar ucapan Clara, Riko hanya terkekeh. Bagaimana dia bisa mengundang orang untuk masuk ke ruangannya? bahkan dia tidak punya seorang yang dekat disini. Selain ...


Riko menatap tajam ke arah Clara yang terus melangkah mundur teratur.


"Lo masih mau ngarepin supir itu?" kekeh Riko dengan pandangan mengejek.


"Dia suami gue, dan Lo bukan siapa-siapa lagi sekarang," ucap Clara.


"Oiya, gue yakin ini cuma setingan." ucap Riko yang menghempaskan tubuhnya ke kursi kerja Clara.


Riko memandang Clara dengan tatapan mengejek, dia tidak yakin kalau wanita yang sudah di campakkannya sebegitu mudahnya melupakannya.


Clara melangkah beberapa langkah kedepan dan meraih ponselnya, seketika Riko mencengkram pergelangan tangannya kuat.


"Gue akan buktiin kalau gue nggak cuma bacot!" ucap Clara dengan tatapan tajam.


Clara segera melepas cengkraman tangan Riko dan menggeser layar ponsel dengan jemari lentiknya. Untung saja sambungan segera tersambung.


"Ke ruanganku cepat," ucap Clara.


Setelah selesai, Clara menggeser tombol merah dan menyelipkan ponselnya ke saku jasnya.


"Lo masih nggak mau pergi?" tanya Clara menantang.


"Gue nggak percaya sama Lo," ucap Riko bersikukuh.


Clara hanya tersenyum kecut dan melangkah menjauhi Riko, sesungguhnya hatinya tidak tenang saat ini.


Dia hanya mencoba untuk baik-baik saja, tidak mau terlihat begitu lemah dan menyedihkan setelah kehilangan cinta lelaki di hadapannya.


Kalau sampai Reno datang sebelum Riko pergi, maka habislah Clara, dia tak tau apa yang akan terjadi di menit berikutnya.


"Kita lihat, sejauh mana kau mampu berakting di hadapan ku," ucap Riko tak mau kalah.


Tak lama kemudian pintu terbuka, Reno masuk. Matanya semakin terbelalak ketika melihat lelaki yang duduk di hadapan Clara, istrinya.


Melihat kedatangan Reno, Clara segera melangkah mendekat.


"Ada yang tidak percaya dengan hubungan kita, haruskah kita melakukannya disini?" ucap Clara melangkah perlahan mendekati Reno.


Mulut dan tatapan Clara jauh berbeda, matanya penuh dengan maksud yang sulit di artikan. Mulutnya sangat pedas, tapi tidak dengan tatapannya yang sangat gugup.


Dia melangkah mendekat, kedua tangan Clara menggelayut manja ke bahu lebar Reno. Untuk menyempurnakan aktingnya dia sampai mencium pipi Reno.


"Lakukan apapun asal dia yakin dan tidak menggangguku lagi," bisik Clara.


Aroma parfum Clara tercium sangat menggoda Reno, sebenarnya dia tidak enak hati melakukan hal ini. Tapi, melihat wanita di hadapannya memohon. Akhirnya Reno mengikuti alur yang dia buat Clara.


"Jadi apa kau tidak malu, kita melakukannya disini?" tanya Reno dengan suara menggoda, tatapan matanya masih menatap pria yang saat ini masih menatapnya dan Clara.


Karena jarak mereka sangat dekat, Clara sampai bisa melihat jakun Reno yang naik turun seolah menahan sesuatu yang sulit untuk di jelaskan.


"Jadi kita mulai sekarang, aku sangat merindukan ini." ucap Reno yang mendekatkan wajahnya ke wajah Clara.


"Maaf Bu, saya hanya lelaki biasa dan tidak sekuat yang ibu pikir," ucap Reno berbisik di telinga Clara.