I'M Sorry My Baby

I'M Sorry My Baby
Kontrak Pernikahan



Reno bisa bernafas lega setelah melihat foto yang di tunjukan oleh Juna, yang katanya suami Clara itu. Ternyata hanya gambar 2 tangan yang saling berjabat.


Untung saja hanya foto tangan, sehingga hubungannya dengan Clara masih aman untuk saat ini. Semoga saja akan tetap aman seterusnya.


Dia belum siap sampai teman kantor tau kalau dirinya sudah menikahi Clara, bagaimanapun Clara adalah orang penting di kantor. Tidak sepertinya.


"Lah cuma tangan," kekeh Reno.


"Yah lumayan, seenggaknya terbukti kalau do'anya anak-anak terkabul," sahut Juna.


"Emang apa?" tanya Reno penasaran.


"Siapa tau kalau udah nikah, nggak jutek lagi. Jadi kantor tuh lebih adem gitu." ucap Juna.


"Lagian ya, kasihan banget suaminya, pasti tertekan banget. Berani taruhan pasti itu suami bayaran," lanjut Juna.


"Sotoy Lo," ucap Reno melangkah menjauhi Juna.


Reno melangkah keluar kantor sambil membawa secangkir kopi ya dan duduk di mobilnya. Untuk saat ini pekerjaannya cukup senggang. Sepertinya Juna tidak ada kunjungan ke beberapa mesin ATM.


Reno duduk di bawah pohon rindang, di sana terdapat kursi singgasana Reno saat dirinya menunggu tugas datang.


Dia masih duduk termenung, entah mengapa hatinya merasa mengganjal dengan keputusan yang dia ambil kemarin.


"Mas Reno," ucap Ratih, salah satu OB kantor.


"Ya, ada apa?" tanya Reno.


"Di panggil sama Bu Clara, di suruh ke ruangannya," ucap Ratih, kemudian melangkah pergi.


Reno menghela nafas panjang, berusaha untuk menenangkan pikiran. Apapun yang terjadi, dia harus menghadapinya dengan tenang.


Reno melangkah masuk ke kantor dan menuju tangga darurat, mencoba memperlambat tempo langkahnya. Sambil mencoba menenangkan isi kepalanya.


Pikirannya sudah campur aduk, amarah orang tuanya bila tau dia menipu mereka. Sampai gosip yang berhembus kencang saat fakta ini terkuak.


Reno ingat dengan jelas bagaimana semua keluarga Clara menolaknya. Meskipun ini tidak sepenuhnya pernikahan yang sah. Tetap saja Reno merasa canggung berada di tengah keluarga Clara.


Tak terasa langkahnya telah sampai di depan ruangan Clara, Reno kembali mengambil helaan nafas panjang sebelum masuk.


"Bu Clara memanggil saya?'' tanya Reno saat membuka pintu ruangan Clara.


"Ya, silahkan masuk. Dan tutup kembali pintunya." ucap Clara sambil membuka lacinya.


Saat ini Clara lebih baik dari pada semalam, wajahnya cantik dengan make-up tipis. wajahnya cerah ceria, walaupun masih memancarkan ciri khasnya yang jutek.


Clara menyodorkan sebuah map di hadapan Reno, dia menatap Rebo dengan tatapan serius.


"Maaf sudah membawamu ke masalah keluargaku, di dalam adalah kompensasi yang akan jau dapat. Dan aku harap kita bisa berkerja sama." Clara berkata dengan mimik yang serius.


"Kompensasi?" Reno mengkerutkan alisnya.


"Iya, di dalam ada surat kontrak yang harus kamu tanda tangani. Di dalamnya juga ada sebuah nominal yang bisa kau dapatkan bila kau menyetujui semua persyaratan yang sudah tertera!" jelas Clara tegas.


"Kalau saya tidak menyanggupi?" Tanya Reno.


"Saya bisa memilih pria lain, bukankah kemarin kita bisa di sebut nikah siri?" ucap Clara lugas.


"Kenapa kamu menolak? Padahal kamu belum membacanya?" tanya Clara, penasaran.


Reno mengembangkan senyum menawan, dia menatap teduh ke arah Clara.


"Saat saya lihat ibu menangis, maaf Bu. Saya benar-benar nggak tega. Apa lagi melihat kondisi Mamanya Bu Clara, saya jadi teringat ibu saya di kampung," ucap Reno.


"Maaf Bu, harusnya saya bisa sedikit mengontrol emosi saat itu," ucap Reno menundukkan pandangannya.


Mendengar hal itu membuat Clara sedikit terkejut, baru kali ini ada seorang karyawannya yang berbicara demikian kepadanya.


Kasihan? Bahkan setiap karyawan menganggapnya seorang monster yang bisa menerkam mereka kapan saja dan dimana saja.


"Terimakasih atas perhatian kamu, Jadi bagaimana dengan penawaran saya?" tanya Clara memastikan.


"Saya tidak bisa menerima ini Bu, Saya ..." ucapan Reno terhenti saat terdengar deringan ponsel Clara.


"Sebentar ..." ucap Clara memotong ucapan Reno.


Clara menggeser tombol ponsel dan menempelkan bedah pipih tersebut ke telinga kanannya.


"Halo pa, ada apa?" tanya Clara.


"Bisa kamu kesini sama suamimu?" tanya Papa Clara di seberang telepon.


Seketika Clara membatu, sesekali dia meneguk liurnya. Kepalanya mendadak pening mendengar permintaan Papanya.


Bahkan, pria yang di bilang suaminya itu. Sudah menolak kerjasamanya. Mungkinkah dia harus menarik ucapannya? Atau memaksanya?


"Ma-maksud papa gimana ya?" tanya Clara sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Mamamu mau menandatangani surat warisan, katanya dia mau menyerahkan sesuatu yang harus di berikan kepadamu," ucap Papa terisak.


"APA!" ucap Clara mulai panik, dan berdiri dari kursinya.


Melihat Clara yang demikian membuat Reno tau, keadaanya saat ini tidak baik-baik saja.


"Cepat kesini ya Nak," ucap Papa Clara memutuskan sambungan sepihak.


"PAPA ... PA ..." ucap Clara.


Dia menghempaskan tubuh lelahnya di kursi kerjanya, berulang kali dia memijat pangkal hidung. Matanya mulai berkaca.


Reno terasa pengap melihat ini. ingin sekali dia beranjak pergi. Tapi lagi lagi dia masih tak tega jika melihat Clara bersedih


"Maaf Bu, saya ..." ucapan Reno kembali terpotong.


"Maafkan saya, tapi ... mau tak mau kau harus mau ..." ucap Clara sambil frustasi.


"Maksudku, kau harus menyetujui kontrak kerja ini," ucap Clara membenarkan kalimatnya.


Reno menatap Clara dengan tatapan kosong.


BERSAMBUNG....