I'M Sorry My Baby

I'M Sorry My Baby
Part > 44



Reno terbelalak ketika melihat gadis yang sedang kebingungan di hadapannya, dia menatap lekat gadis tersebut dari ujung rambut sampai ujung kaki. Tidak salah lagi, memang benar gadis ini gadis yang dia temui di balkon tadi.


Reno melangkah mendekat, dia melihat mesin mobil gadis tersebut. Di lihat dari caranya memandang Reno sepertinya dia tidak mengenali nya.


"Apanya yang rusak Mbak?" tanya Reno.


"Nggak tau Mas mati sendiri," jawab gadis tersebut singkat.


Reno segera memeriksa mesin mobil, setelah beberapa menit kemudian dia menyuruh gadis tersebut menyalakan mesin.


Dia sangat beruntung sekali malam ini, mesin itu menyala. Ada gunanya juga Reno sering nongkrong di bengkel dulu.


Gadis tersebut tersenyum riang ketika melihat mesin mobil sudah bisa menyala lagi, dia segera meraih tas di sampingnya dan merogoh beberapa lembar uang kertas berwarna merah.


"Ini, buat Mas," ucap gadis tersebut mengulurkan uang tersebut ke hadapan Reno.


"Nggak usah, terima kasih." ucap Reno sambil memamerkan gigi putihnya.


Gadis itu mengangkat alisnya, dan kemudian memasukkan uang tersebut ke dalam dompetnya lagi. Dia tidak mengira kalau bertemu cowok modus seperti ini.


Dia melangkah masuk ke dalam mobil, Reno segera mengikuti langkahnya setelah teringat akan kepentingannya.


Melihat Reno sepertinya ingin mengucap sesuatu, gadis tersebut membuka kaca mobilnya,


"Jadi mau berubah pikiran?" tanya Gadis tersebut.


"Maaf Mbak bisa saya nebeng?" tanya Reno sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Gadis itu menatap Reno lekat, tatapan nya seolah sedang mengulitinya. Kemudian melempar senyum simpul.


"Ternyata ada permintaan lain ya?" tanya gadis tersebut dengan tatapan penuh arti.


"Nggak lah Mbak, orang tua saya sakit jadi saya harus ke rumah sakit secepatnya," ucap Reno menjelaskan.


"Masuk," ucap gadis tersebut, kemudian membuka pintu di kursi sebelah.


Reno segera masuk, kemudian mobil melaju ke desa. Tepat di mana rumah sakit yang merawat ibunya berada.


Tak ada obrolan dari mereka, semuanya hening. Reno melempar pandangan ke luar lewat jendela yang terbuka.


Mulutnya terus bergeming, berdoa agar tidak terjadi apapun kepada Ibu dan Ayahnya. Hatinya kembali resah, otaknya melayang jauh memikirkan hal yang paling buruk.


Gadis tersebut sesekali mencuri pandang ke pria di sampingnya, Dia kira pria ini akan melakukan hal yang buruk. Ternyata hal itu hanya ada di bayangannya saja.


"Ibumu sakit apa?" tanya gadis tersebut memulai percakapan.


"Saya kerja di kota, Ibu saya di desa. Tadi ada yang mengabarkan kalau dia sakit. Jadi saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi kepada ibu. Maaf merepotkan mu Mbak," ucap Rino melempar pandangan ke gadis tersebut.


"Kesannya tua banget, manggil gue mbak." keluh gadis tersebut.


"Dinata, namaku. Panggil saja tata," ucap gadis tersebut memamerkan senyum manisnya.


"Ternyata setiap wanita jutek pasti manis," batin Reno.


Sebelumnya dia bertemu dengan Clara, dia sama seperti gadis di hadapannya saat ini, dia galak jutek tapi sangat manis.


"Sepertinya kita searah, aku akan mengantarmu dulu." lanjut gadis tersebut.


Setelahnya tak ada obrolan serius, mereka melanjutkan perjalanan hingga beberapa menit kemudian. Sampailah mereka di sebuah rumah sakit di mana tempat orang tua Reno dirawat.


"Makasih ya Mbak," ucap Reno turun dari mobil.


"Tata Oke. panggil aku Tata," ucap gadis tersebut memberi peringatan pada Reno, kemudian melanjutkan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Reno tersenyum kecil melihat tingkah gadis itu, kemudian dia segera masuk ke dalam rumah sakit. Langkahnya tertuju pada meja resepsionis yang berada tepat di sampingnya.


Belum sempat dia menanyakan dimana kamar rawat ibunya, seorang wanita paruh baya menghampirinya dengan langkah terburu-buru.


"Mas Reno sudah datang, mari saya antar," cap seorang wanita paruh itu.


Wanita tersebut menampakan wajah penuh kekhawatiran, dia melangkah terburu-buru melewati beberapa lorong. Hingga sampailah di sebuah bangsal.


Wanita tersebut masuk ke sebuah kamar, Reno mengikuti langkahnya di belakang. Saat ini tampak seorang wanita paruh baya sedang tergeletak di atas kasur dengan mata masih terpejam.


Beberapa alat medis terpasang di anggota tubuhnya, mulai dari tangan, hidung, serta dada. Terdengar bunyi alat jantung yang seolah mengundang malaikat maut untuk segera datang.


"Ibu saya kenapa?" tanya Reno kepada wanita paruh baya tersebut.


"Ibumu kemarin pingsan, kondisinya sangat mengkhawatirkan sehingga kami memutuskan untuk membawa ibumu ke rumah sakit," ucap wanita paruh baya tersebut.


"Kenalkan saya bu Maryam, yang menelpon kemarin," ucap wanita tersebut.


"Makasih ya bu sudah menolong Ibu saya, dan Bapak saya?" tanya Reno kembali, setelah dia mengingat satu orang tuanya belum terlihat.


Wanita tersebut menghela nafas panjang, bibirnya terbuka mengatup seolah ingin mengatakan sesuatu akan tetapi lidahnya masih kelu.